Koran Abal-Abal

Sungguh-sungguh unik. Kalau bikin berita bohong (hoax), terus-terang saja.

The New York Times, edisi 4 Juli 2009 sudah beredar awal November lalu, usai Barack Obama memenangi pemilihan presiden di negeri Paman Sam itu. Koran itu dijajakan gratis, dibagi-bagikan oleh loper relawan kepada setiap warga yang melintasi jalan.

Berita utama alias headline-nya heboh. Perang Irak resmi dinyatakan berhenti. Ada juga berita mantan presiden George Walker Bush diadili di mahkamah internasional karena kejahatan perang. Bush yang digantikan Obama inilah yang memutuskan Amerika Serikat (kembali) terjun ke Irak, membuat presiden negeri seribu satu malam Saddam Husein mati di tiang gantungan, membuat ribuan warga tak berdosa meregang nyawa.

Tak tanggung-tanggung, edisi istimewa itu terjual, eh tepatnya, dibagi-bagi 1,2 juta eksemplar.

Tapi eit, tunggu dulu. Jangan buruan percaya. Fake newspaper ini hanya koran abal-abal yang diterbitkan oleh Yes Men, sebuah organisasi non-pemerintah yang menaruh perhatian pada masalah kemanusiaan dan perdamaian. Sekilas, layout-nya memang persis dengan tampilan The New York Times yang asli.

Para pegiat organisasi itu mencurahkan segala harapan mereka, pada tanggal tersebut, tepat satu semester kinerja presiden terpilih Barack Obama, Amerika Serikat merealisasikan penarikan pasukannya. Semua berita yang tersaji adalah harapan dan impian para pegiat organisasi itu. Termasuk, berita soal pembubaran World Trade Organization (WTO), organisasi dagang global simbol kapitalisme negara maju yang menghisap negara berkembang.

Garapan mereka serius. Mereka membangun situs The New York Times bohongan, di http://www.nytimes-se.com. Bandingkan dengan alamat situs asli si koran, http://www.nytimes.com. Selain NYT (inisial akrab The New York Times), Yes Men pernah “mempermak” berita-berita foto Reuters.

Mengapa mereka pilih The New York Times?

Bisa jadi lantaran media inilah yang paling berpengaruh di Amerika Serikat, bahkan dunia. Saya pernah ikut kursus jurnalisme sastrawi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pantau pada Juni lalu. Pengajar kami, Andreas Harsono, menjelaskan New York adalah “ibukotanya jurnalisme”. Lagipula, sejak berdirinya pada 1851 hingga kini, para jurnalisnya sudah mengumpulkan penghargaan Pulitzer sebanyak 98 kali. Ini koran, walhasil, memang terpandang.

Terlepas bahwa itu koran bohongan, ini “perkembangan” di bidang jurnalistik yang unik. Untuk diterapkan di Indonesia? Nampaknya masih sulit. Mengingat, pejabat (dan mantan “orang penting”) kita getol berlindung di balik beleid ketentuan pidana tentang pencemaran nama baik.

Kebebasan berekspresi di ini negeri masih mahal.

One response to “Koran Abal-Abal

  1. Saya suka banget sama New York Times. Mantepz.. Dan utk koran bohongan itu, wew.. keren..!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s