Jengklong Samonah

Ini obrolan yang bikin saya geli. Percakapan itu antara calon mertua saya, Simbok Parti, dengan seorang penjual belanjaan yang keliling desa.

Kemarin (15/11) Sabtu, cuaca mendung. Langit pagi di Dusun Gedaren Desa Sumbergiri Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul –rumah calon istri saya Murjayanti– kelabu. Tak ada sinar mentari yang hangat keemasan.

“Eh, Bu Fulan lagi kena jengklong samonah. Kakinya abuh (bengkak). Sudah seminggu gak jualan. Lagi dirawat,” tutur Bu Bakul Blanja. Sebuah nama yang dia maksud adalah penjual di Pasar Ponjong. Penjual kebutuhan belanjaan –masak-memasak.

“Jengklong samonah?” tanya Bu Parti.

“Gigitan nyamuk itu loh. Nyamuk apa sih namanya? Nyamuk apa Mas?” jawab penjaja belanja dengan menyambung bertanya pada saya yang turut nimbrung.

“Cikungunya?” jawab saya menebak.

Kami tertawa bersama.

“Makanya kalau siang begini, jam sembilan-sepuluh, nyalain obat nyamuk. Nyamuk demam berdarah juga gigitnya siang hari, bukan malam hari. Kalau malam juga perlu nyumet obat nyamuk, malam juga banyak nyamuk. Tapi siang juga perlu,” saya yang pernah terkena demam berdarah memberi saran.

Beberapa saat kemudian, ibu-ibu lainnya turut nimbrung. Mereka melihat-lihat bawaan belanjaan. Ada yang mau beli tempe, ada yang hendak beli sayuran.

Penjaja kebutuhan belanjaan ini masih akrab kita temui di desa. Bahkan, di Pati, sebuah kota kecil di Pantura Jawa Tengah tempat asal saya, masih ada. Ibu-ibu penjual belanjaan ini biasanya membawa sebuah dunak. Dunak adalah tempat berbentuk tabung terbuka dari anyaman bambu. Dunak itu mereka pikul di punggung mereka, mereka ikat dengan tali emban. Emban sendiri artinya menggendong, biasanya menggendong bayi dengan sebuah tali kain –tali emban itu tadi. Makanya bahasa Indonesia mengenal istilah “mengemban tugas” bukan?

Di dalam dunak ini terdapat berbagai macam barang jualan. Yah, kebutuhan belanja itu tadi. Seringkali yang mereka jual adalah kebutuhan masak-memasak. Tempe, tahu, ikan, ayam, daging, sayur, bumbu dapur, dan lain-lain. Kadang-kadang kalau sedang musim buah tertentu, mereka jual buah juga. Saat ini sedang usum mangga. Tapi Mbok Blanja kali ini tak membawanya.

Ibu-ibu itu masih akrab dan makin gayeng mengobrol dengan berkali-kali menyinggung istilah “jengklong samonah”. Saya yang mendengarnya hanya geli tertawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s