Haruskah Kita Usir “Spiderman”?

Baru-baru ini jawatan imigrasi Indonesia mendepak pemanjat dinding asal Prancis Alain Robert. Gara-garanya, pria 46 tahun ini memanjat gedung pencakar langit di ibukota. Sempat ia diperiksa kepolisian lantaran terindikasi pelanggaran ketertiban umum. Ketertiban yang mana yang dia labrak, jika rupanya sambutan warga penonton begitu meriah dengan tepuk sorak gempita?

Haruskah sedemikian rupa kita mendeportasi Alain Robert?

Dia memanjat gedung tinggi, “untuk aksi stop global warming,” komentar calon istri saya, Murjayanti, atlet panjat tebing Yogyakarta. Mur adalah peraih medali Pekan Olahraga Nasional, termasuk yang terakhir di Kalimantan Timur Juli lalu. Puncaknya empat tahun lalu, ketika dia menyabet sekeping emas.

Menurut Mur, Alain memutuskan berbuat ekstrem memanjat dinding gedung untuk membuat warga sadar bahwa pemanasan global akibat efek rumah kaca bukan main-main. Sudah berbagai gedung di beragam pelosok dunia dia taklukkan. Tentu saja, hampir semuanya di kota-kota besar metropolitan yang begitu angkuh menyulap lanskapnya dengan hiasan rimba semen dan beton.

Polah Alain Robert memang acap membuat pihak keamanan setempat sewot. Seringkali setelah dia menaklukkan gedung, dari atap pihak polisi sudah menunggu, bersiap menjeputnya. Dia tenang menghampiri polisi, para abdi keamanan negara itupun tak perlu overacting, ramah memborgolnya dan menciduknya. Sambutan warga penonton, baik yang ada di gedung maupun di bawah pun meriah. Tepuk tangan membahana.

Saya berharap pihak polisi Indonesia juga wajar memperlakukannya.

Kepada berbagai media, Robert menyatakan interogasi ini lantaran misunderstanding. Pemanggilan dia terkait izin. Padahal dia merasa sudah melayangkan izin. Buntutnya, sehari kemudian, bapak tiga anak ini dideportasi. Haruskah sampai sejauh itu?

Sebelumnya Robert pernah menaklukkan Gedung Indosat. Ini bukan aksi pertama dia di sini.

Kecintaan dia pada dunia panjat sejak usia 12 tahun. Awalnya cukup unik. Menurut Wikipedia, dia memanjat gedung karena terkunci di apartemen lantai delapan. Ortunya pergi dan tanpa sengaja mengunci Alain kecil yang masih di dalam. Daripada bengong menunggu, dia turun apartemen dengan memanjat keluar dari jendela.

Sedikit-sedikit saya tahu seluk-beluk dunia panjat. Dinding buatan biasanya melombakan tiga kategori. Kecepatan atau speed, kesulitan atau lead alias difficulty, serta nomor yang dianggap paling bergengsi jalur pendek alias bouldering. Ada satu nomor yang jarang ditandingkan, yakni panjat tebing alam.

Alain nyempal dari semua kategori yang ada. Dia pilih media gedung! Bukan wall, bukan tebing. Gedung yang berpuluh lantai, bahkan seratusan, adalah tantangan tersendiri baginya. Tak jarang, ini yang bikin seru, dia tanpa tali pengaman atau karabiner beserta peralatan hanger. Dia hanya melapisi tapak tangannya dengan serbuk kapur.

Tak jarang aksi gila Robert menuai decak kagum dari berbagai pihak. Julukan “human spider” melekat padanya. Bahkan, untuk mempromosikan rilis film Spiderman pada 2003 di saluran teve Inggris, dia dibayar $18.000 untuk menaklukkan gedung bursa asuransi Lloyd of London yang setinggi 95 meter.

Tujuan dia satu: supaya warga merenungkan dampak pemanasan global.

Dengan demikian, saya rasa berlebihan jika Indonesia, sebuah negara yang lamat-lamat bakal terdampak global warming, mengusirnya dengan deportasi. Tangkaplah sebuah makna dari aktivisme Alain Robert yang berani ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s