“Latifah Happy Kok” –Wawancara dengan Syekh Pujo

Sebuah cerita fiksi oleh Yacob Yahya

Pujo Sastro Kartono Mangku Wanito Songo bukan keturunan ningrat, juga tidak keturunan raja. Pria berjambang dan jenggot lebat ini, “hanyalah seorang pelaku usaha. Bukan pengusaha loh yah,” tuturnya merendah, ketika saya temui di kediamannya, daerah Bawen, Ungaran, Semarang, akhir pekan lalu.

“Saya juga bukan ulama. Catet loh yah. Ini harus digarisbawahi agar penilaian orang-orang terhadap agama kita ini tidak makin melenceng. Saya cuma seorang pria yang menaruh perhatian mendalam pada agama Islam. Nama ‘Syekh’ di depan nama saya, yah yang ngasih masyarakat sendiri,” sambungnya, lagi-lagi merendah.

Pujo membandari berdirinya sebuah pondok pesantren. Pondok pesantren itu menampung santri putri, guna menimba ilmu agama. Segala biaya operasionalnya dia jumput dari sebagian rezeki hasil usahanya. Walhasil, puluhan santri di situ bisa mondok gratis. “Alhamdulillah rezeki lancar, semua sudah ada yang ngatur, hahaha…” ujarnya.

Di pelataran lingkungan rumah dan pesantrennya itu, berjajar lima mobil mewah terparkir. Rumahnya juga megah -berlantai keramik, ada kolam ikan luas, taman luas. Istananya bagai dipagari tebing tinggi yang menjulang, namun di balik tirai kokoh itu, terdapat surga dunia yang gemerlap. Gerbang depan dengan pintu setinggi empat meter dijaga oleh dua-tiga satpam. Yang tak berkepentingan susah masuk.

Tak peduli siapapun Anda. Jika empunya rumah tak berkenan, yah jangan harap bisa menjejakkan kaki ke sana. Belakangan ini Bapak-Bapak Satpam yang bekerja di rumah itu tengah sibuk menghalau puluhan orang yang silih berganti. Yah dari lembaga swadaya masyarakat lah, yah dari ulama lah, yah wartawan yang tak punya kartu pas khusus lah, serta yah dari… lembaga negara: Komisi Perlindungan Anak. Dua komisioner ditolak mentah-mentah. “Jauh-jauh dari Jakarta, tak boleh masuk. Ini pelecehan terhadap lembaga negara,” tutur komisioner itu bersungut-sungut.

Sebagian golongan masyarakat itu sedang menaruh perhatian pada Syekh Pujo lantaran pria ini baru saja menikahi sirri seorang bocah berusia 12 tahun -baru kelas satu sekolah menengah pertama atau kelas tujuh. Latifah, gadis itu, mau-mau saja diajak kawin. Orang tuanya setali tiga uang, sepakat bulat atas pernikahan anaknya.

Yang makin bikin heboh, Latifah bukanlah istri pertama. Meski bukan berdarah biru, pria berusia 43 tahun ini doyan kawin alias “pemeluk keyakinan” poligami. Tiga istrinya dia cerai. Total-jenderal, ini perkawinan Syekh Pujo yang keenam. “Kalau bisa sih saya akan cari gadis seusia dia lagi,” imbuhnya.

Ini yang membuat aparat bergerak. Soalnya, Undang-Undang Perkawinan hanya mengenal usia minimal seorang perempuan boleh menikah adalah enam belas tahun. Belum lagi kini sudah kokoh Undang-Undang Perlindungan Hak-Hak Anak. Sepak terjang melahap bocah ini dikhawatirkan merampas masa kanak-kanak yang justru krusial dalam membentuk kepribadian, watak, dan perkembangan-pertumbuhan anak yang bersangkutan, terutama dalam hal mental.

Untuk mengetahui seluk-beluk relung pikirnya lebih lanjut, saya mewawancarai Syekh Pujo. Tepatnya, berdiskusi. Berikut nukilan perbincangan selama satu jam itu.

Bagaimana kabar Anda?
Tak pernah lebih baik sebelumnya. Saya sangat gembira dan bersemangat. Huahaha…

Hari-hari Anda ceria sejak adanya Latifah di sisi Anda?
Jelas dong. Suasana hati jadi makin segar.

Mengapa Anda menikahi seorang bocah yang pantasnya jadi anak Anda?
Karena toh tak dilarang oleh agama.

Bukankah agama mensyaratkan kemampuan dan kematangan, baik usia, fisik, psikis, mental, kejiwaan, serta materi dua belah pihak yang bersangkutan?
Soal materi jelas bukan perkara. Orang tuanya setuju. Mereka saya kasih rumah dan mobil. Tapi itu bukan yang utama. Silaken tanya sama mertua saya. Soal faktor lain, bukankah Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad Salallahualaihi Wassalam, juga nikah pada usia belia?

Berapa tahun usia Aisyah waktu dinikahi Rasullullah?
Sembilan tahun bukan?

Bukankah hadis yang meriwayatkan kabar itu lemah, daif? Periwayatnya diragukan? Bukankah yang cenderung kuat, mencatat bahwa Aisyah menikah pada usia sembilan belas tahun?
Oyah? Selama ini yang saya yakini Aisyah nikah pada usia dini kok.

Anda sudah mempertimbangkan perkembangan Latifah, bagaimana sekolahnya kelak?
Gak masalah. Dia anak yang cerdas kok. Saya gak perlu sekolah mentereng, maaf -bukan maksudnya pamer yah, juga bisa menghasilkan rezeki.

Saking cerdasnya Latifah sampai Anda angkat jadi general manager perusahaan Anda?
Betul.

Tanggapan karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun?
Mereka turut pada saya. Apa yang saya kehendaki yah mereka terima. Toh itu buat kebaikan semuanya kok. Latifah anak yang cerdas. Mereka senang dipimpin oleh anak yang cerdas kayak Latifah.

Bagaimana perkenalan Anda dengan Latifah?
Saya pengen punya istri baru. Makanya saya bentuk panitia seleksi. Panitia ini menyisir lokasi-lokasi, sekolah-sekolah. Beberapa calon diseleksi, terpilihlah Latifah.

Yang diseleksi usia sebaya Latifah semua?
Begitulah.

Bagaimana perasaan dia setelah tinggal dengan Anda?
Tanya saja sendiri. Dia sudah jelaskan di depan banyak wartawan. Dia happy, senang. Dia cinta sama saya, sayang. Dia gak mau masyarakat meributkan hal ini.

Boleh saya berbagi pengalaman?
Yah, silakan.

Betapa “gampangnya” merebut hati seorang anak. Anda kasih dia perhatian, Anda turuti kemauannya, maka lamat-lamat dia bakal suka dengan Anda.
Dari mana ceritanya?

Lah wong saya pernah mengajar anak-anak di sebuah kampung. Yang bikin repot, ada seorang bocah suka sama saya. Usianya yah 12 tahun. Dikasih permen saya seneng, apalagi dikasih rumah, jabatan, mobil mewah. Iya bukan? Anak seusia itu sedang belajar merasakan dan berusaha memahami rasa suka. Bukan begitu?
Hehe.

Anda menikahi Latifah secara sirri, mengapa?
Dalam agama diperbolehkan.

Bukankah lebih baik menikah secara resmi baik dari segi agama maupun hukum negara?
Iya, tapi hukum negara gak boleh bertentangan dengan hukum agama dong.

Sisi mana yang bertentangan?
Yah itu tadi, gak mengakomodasi bentuk nikah sirri. Poligami itu gak dilarang. Agama membolehkan.

Tidak dilarang bagi yang mampu berbuat adil bukan?
Saya selalu adil kepada istri-istri saya.

Lantas mengapa ada yang Anda ceraikan?
Itu urusan privasi. Cerai juga tindakan yang halal di mata Allah.

Tindakan yang halal namun tidak disukai oleh Allah hingga arsy-Nya berguncang tiap ada perceraian bukan?
Di dunia ini tak ada yang kekal. Mengusahakan rumah-tangga yang langgeng memang iya, tapi manusia hanya bisa merencanakan bukan? Yang paling tahu jalan hidup kita, sudah ada yang ngatur lah.

Istri-istri Anda tak mengapa jika Anda punya istri lagi?
Mereka patuh pada saya.

Anda mau jika posisinya berbalik, istri Anda kawin lagi gitu?
Lah itu dilarang oleh agama. Yang boleh poligami cuma si suami kok.

Jadi Anda kayaknya enak loh. Anda bisa menyebabkan orang lain jadi janda, tapi Anda tak pernah merasakan jadi duda.
Wahahaha… kenapa jadi ribut? Yang membesar-besarkan toh media sendiri.

Anda mengundang media waktu menikahi Latifah kan?
Iya.

Bukan salah wartawan kalau jadi berita dong…
Tapi kan buntutnya panjang. Banyak orang bereaksi. LSM koar-koar, polisi mau periksa saya, Komnas Anak juga mau ke sini. Yang boleh menemui saya cukup Kak Toto saja, ketua komisinya. Yang lainnya gak perlu. Ini privasi saya.

Yah tugas wartawan memang bikin berita. Selanjutnya, reaksi masyarakat, efek pemberitaan lebih lanjut, yah di luar kendali wartawan.
Tapi yang kena getah dari pemberitaan kan saya.

Sama halnya berita korupsi. Kalau pejabat korup dipenjara atau dicopot oleh atasan karena pemberitaan, itu bukan salah wartawan. Sebaliknya, kalau ada orang berprestasi, lantas jadi berita dan dipromosiin, itu juga wartawan gak boleh minta imbalan.
Oke. Sip.

Apa langkah Anda selanjutnya setelah diperiksa polisi dan Kak Toto memberi rekomendasi?
Saya bersedia. Mengembalikan Latifah dulu, nanti kalau sudah dewasa saya unduh lagi, saya boyong lagi.

Setelah Latifah, Anda masih getol kawin?
Kita lihat situasi dan kondisinya dulu.

Maksudnya?
Tahu sendiri lah. Saya masih pengen cari gadis lagi, kalau mampu.

Berapa aset Anda?
Saya tak pernah menghitung. Itu urusan dapur saya. Udah yah. Saya sibuk ngurus santri. Makasih.

One response to ““Latifah Happy Kok” –Wawancara dengan Syekh Pujo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s