Bukan Musimnya MU?

Saya jadi gemes dan geram. Akhir pekan lalu, Samir Nasri, titisan Zinedine Zidane, merobek jala Manchester United dua kali, mengantarkan kemenangan 2-1 dalam duel ketat di Stadion Emirates, markas Arsenal itu. Pemain muda itu biang kerok kekalahan klub favorit saya untuk kedua kalinya.

Ada berbagai alasan mood saya jadi kurang oke. Ini kekalahan ketiga MU dalam duel bergengsi. Pertama, MU dilibas Liverpool 2-1 –padahal memimpin duluan di Anfield, markas The Reds. Kedua, Setan Merah mati kutu terkena gempuran “angin salju Rusia” Zenit StPetersburg dalam Piala Super Eropa, juga dengan skor 2-1. Ketiga, skor yang sama, membuat MU bertekuk lutut kontra Arsenal.

Rasa geram makin tak mampu teredam karena ini musim kedua Liga Inggris “hilang” dari siaran teve karena “dikuasai” oleh teve berbayar. Kemarin Astro kini Aora.

Kondisi MU musim ini hampir sebangun dengan musim kemarin. Bahkan, pada musim lalu, MU belum mencapai puncak hingga Desember. Namun perlahan tapi pasti, MU kokoh hingga laga terakhir yang menentukan. Pacuan dimenangi MU, Chelsea, harus puas jadi runner up. Saya makin bahagia tatkala MU mengulang sukses mengalahkan si biru di final Liga Champions.

Namun, dalam kontra head-to-head the big four, MU baru memetik satu poin. Musim kali ini sudah melewati pekan ke-12. Kecuali MU, yang masih “menabung” satu buah pertandingan yang tertunda lawan Fulham.

Empat besar itu antara lain MU, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool. Keempatnya konsisten menguasai zona Liga Champion, ajeg menempati empat besar tiap akhir musim. Kecuali musim 2005, yang mana peringkat empat “dicuri” oleh Everton, klub sekota Liverpool.

Hingga pekan ke-12 itu, MU sudah menjajal laga dengan ketiga saingannya. Kalah dari Liverpool dan barusan Arsenal, lalu hanya seri lawan Chelsea 1-1. Memang, semua laga tergelar di kandang lawan. Mampukah MU membalas?

Yang nampak kokoh adalah Liverpool. Dua kali menang kontra MU dan Chelsea. Tinggal Arsenal yang jadi ujian terakhir, setidaknya hingga paruh musim.

Chelsea baru bersua dengan MU dan Liverpool. Satu kali kalah –dengan Liverpool dan satu kali seri dengan MU. Tim asuhan Luiz Felipe Scolari ini belum menghadapi Arsenal.

Arsenal? Sekali menang dan belum menghadapi Liverpool serta Chelsea.

Namun, di tengah serunya adu plototan kuartet raksasa itu, jangan lupakan tim semenjana. Bahkan, jangan remehkan tim promosi, terutama Hull dan Stoke. Beberapa pekan awal, Hull bahkan bertengger di tiga besar. Ingat, Hull maupun Stoke sukses melibas Arsenal. Faktor konsistensi adalah kunci dalam mengarungi jadwal kompetisi yang masih panjang.

Saat ini Chelsea berbagi angka dengan Liverpool, 29 poin dari 12 laga. Lantaran produktivitas gol, Chelsea untuk sementara jadi pemuncak. Tempat ketiga diisi Arsenal, 23 angka, disusul MU yang punya 31 poin –namun unggul satu kali selisih pertandingan.

Dibanding musim lalu, MU perkasa di antara tiga pesaingnya itu. Lawan Chelsea sekali menang sekali kalah, lawan Liverpool dua kali menang dan dengan Arsenal sekali seri sekali menang. Layaklah MU memenangi race pada musim lalu. Bisakah, pada paruh kedua, MU mengukir tiga kemenangan atas pesaingnya itu –sekaligus membalas hasil yang minim pada setengah musim pertama?

Faktor Queiroz
Manajer MU Sir Alex Ferguson adalah manajer bertangan dingin. Namun kunci keberhasilannya adalah sang tandem, asisten pelatih Carlos Queiroz asal Portugal. Ketika Queiroz hengkang jadi pelatih Real Madrid –dan ia gagal meraih gelar juara pada kompetisi manapun, Fergie nampak limbung, MU juga gagal dalam kompetisi di Liga Primer. Gelar untuk Arsenal dan Chelsea selama tiga tahun berturut-turut.

Queiroz balik kandang, MU kembali sukses dua tahun terakhir.

Kini Queiroz harus menukangi tim nasional negeri asalnya. Queiroz harus meloloskan Portugal untuk Piala Dunia 2010. Dia menggantikan Luiz Felipe Scolari yang lari ke Chelsea. Di timnas sana dia mengandalkan punggawa MU untuk memperkuat bendera hijau-marun itu: Cristiano Ronaldo serta Nani.

Untuk kedua kalinya, Fergie ditinggal pergi Queiroz. Rapor sementara, MU terlalu banyak menuai hasil seri serta dua kali kekalahan. Dua kekalahan ini, kondisinya hampir sama dengan musim lalu. Bedanya, kemarin, MU justru disikat tim papan tengah macam Bolton –lewat gol semata wayang Nicolas Anelka yang kini diboyong Chelsea, serta West Ham United –lewat gol krusial Anton Ferdinand, adik bek MU Rio Ferdinand yang berposisi sama dengan kakaknya.

Ini ujian bagi Sir Alex sepeninggal si asisten brilian. Jangan sampai gagal lagi tanpa Carlos Queiroz!

2 responses to “Bukan Musimnya MU?

  1. hi salam kenal…

    senang bisa nemu blog ini, nambah insporasi jadinya..hehehehe..

    untuk urusan bola di EPL sepertinya kita bersebrangan, maklum saya pencinta Liverpool..hehehehe..

    jangan patah semangat, perjuangan masih panjang….go..go..go liverpool..[lho koq liverpool..hehehhee..sorry mass…!]

    silahkan mampir di “rumah” saya yah, ada info menarik tuh…
    salam,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

  2. bonar,
    Salam kenal juga. Makasih atas kunjungannya. Ini alamat blog saya yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s