Sebuah Petuah Jelang Nikah

Sebentar lagi, tiap hari ke depan, adalah hari-hari yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Rambut yang mulai gondrong mencapai pundak ini makin berat saja terasa. Aku butuh kepala yang enteng. Segar. Biar muka tak kelihatan kusut dan semrawut. Rambut panjang ini makin bikin batok kepala jadi berat. Rongga kepala ini serasa pengen jadi ringan, biar bisa mencerna beban pikiran dengan baik.

Kuputuskan untuk pangkas rambut.

Tukang potong rambut itu setia melempar guyonan segar bagi para tamunya. Dia langgananku. Potongannya rapi jali, dan yang paling penting, sangat sesuai dengan seleraku. Tapi inilah yang bikin agak repot. Aku tak pernah sreg untuk potong rambut di tanah rantau tempat aku mengais rezeki –meski ke salon mahal sekalipun. Aku baru bisa tenang potong rambut jika pulang ke kampung halaman.

Namanya Pak Bandi. Dia guru sekolah menengah pertama, yang sore-malam harinya jadi tukang pangkas rambut.

Jelang malam habis magrib itu dia sedang mempermak kepala seorang bocah. Aku masuk ke bilik potong rambut itu, duduk di atas kursi di belakangnya. “Piro umurmu, Le,” tanya dia pada si pelanggan. Berapa usiamu, Nak.

“Telulas,” jawab si bocah cowok. Tiga belas.

“Nah, nek kowe kawin saiki apa gelem?” Nah, kalau kamu kawin sekarang apa mau?

Si bocah hanya geleng tersenyum.

“Iki loh, cah rolas tahun wae wis kawin.” Ini loh, anak dua belas tahun saja sudah kawin. Dia coba giring topik pembicaraan pada peristiwa pernikahan Ulfah, cewek yang besok Desember baru genap 12 tahun, yang rela dinikahi Puji, seorang pria pengusaha kaya raya yang akrab dipanggil Syekh.

Segala peristiwa dan berita hangat, bagi Pak Bandi, dapat diracik jadi obrolan gayeng dengan si pelanggan. Selain untuk mempererat keakraban –biar si pelanggan datang lagi, percakapan ini untuk membuang rasa lelah. Sewaktu ayahku ada –beliau almarhum setahun yang lalu, jika Bapak datang untuk dipangkas rambutnya, mereka adalah duet pembanyol yang bikin pendatang lainnya terbuai suasana ngocol. Bilik kecil serasa meledak ditingkah tawa yang hangat.

“Umur rolas, apa wis duwe rambut ngisor?” sambungnya. Baru dua belas tahun, apa sudah punya rambut bagian bawah?

Wahahaha… kami ketawa bersama.

Usai anak itu, tiba giliranku.

Tak tahu mengapa, usai mengulas perkawinan kontroversial itu, si tukang cukur tak beranjak dari tema pernikahan. “Aku jadi ingat, dulu aku kawin cuma bisa nyembeleh dua ekor ayam. Satu buat ingkung, satu buat masak soto. Aku hanya bisa undang delapan orang. Kerabat, sama tetangga kanan-kiri. Ijab-kabul saja aku pakai celana jins.”

Ingkung adalah seekor ayam utuh dimasak, tanpa dipotongi.

“Itu waktu aku gak punya apa-apa. Belum jadi apa-apa. Segala biaya aku yang mikir. Bapak sudah almarhum. Ibu gak mau mikir pengeluaran. Jadi aku yang urus semua,” imbuhnya.

Aku jadi berkaca, bukankah kini ayah juga tiada?

“Aku gak mau pusing perayaan mewah-mewahan. Bukankah yang penting kelanggengannya? Toh buktinya istriku beri aku dua anak. Buat apa megah-megahan kalau akhirnya cerai?”

Aku hanya menyimak “nasihatnya”. Aku hanya menyerap kata demi kata, dan mencernanya, baik dengan otak mapun hati. Meresap.

“Waktu aku mau sunatan, khitanan, aku ingat ayahku masih ada. Beliau sembelihkan dua ekor ayam. Eh, ternyata impas, waktu aku nikah juga menyembeleh dua ekor. Hahaha… semua ada hikmahnya,” dia tertawa kecil, menerawang.

“Jangan lupa, kamu musti nyekar ayahmu dulu.”

Aku tersenyum mengangguk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s