Menunggu Wajah Baru Negeri Adidaya

Presiden baru Amerika Serikat baru saja terpilih, kemarin (5/11), pada waktu siang Indonesia. Barack Obama, dialah orangnya. Bersama sang wakil presiden, Joseph Biden –akrab disapa Joe. Duet fenomenal asal Partai Demokrat ini mengalahkan saingannya dari Republik, John McCain dan Sarah Palin.

“Alhamdulillah, Obama yang menang,” ujar ibu saya tersenyum lega. Bahkan sebagian (besar?) masyarakat dunia yang bukan pemilih di Amerika Serikat pun menggadang-gadang munculnya pemimpin baru yang satu ini.

Mereka menawarkan perubahan. Obama baru resmi dilantik pada tahun depan. Wajah baru negeri adidaya sedang dalam proses, in the making.

Ini pemilihan umum yang paling monumental. Tingkat keikutsertaan paling tinggi. Segenap warga berduyun-duyun, berbondong-bondong ke bilik suara. Rela antre berjam-jam hanya untuk menghabiskan waktu beberapa menit, demi masa depan negeri mereka –setidaknya empat tahun ke depan. Dua kubu, siapapun yang terpilih, bakal menorehkan sejarah.

Obama, untuk tidak bermaksud rasis, adalah kandidat berkulit hitam. Jika terpilih, dan memang terpilih, dialah presiden pertama Amerika Serikat yang berkulit hitam. Fantastis, mengingat negara yang dianggap berada di garda terdepan pembela demokrasi ini punya sejarah perbudakan –kulit hitam– selama berabad-abad.

Sedangkan McCain, jika terpilih, akan tercatat sebagai presiden terpilih tertua. Veteran perang Vietnam ini sudah berusia lebih dari 70 tahun. Di samping itu, Sarah Palin, Gubernur Alaska, jika terpilih juga akan terekam sebagai wakil presiden perempuan pertama.

Kunci kemenangan Obama adalah kemasan yang simpatik. Latar belakang kehidupannya yang beragam plus retorika yang memikat adalah alasan para pemilih berpaling padanya. Banyak orang menilai pidato kemenangan Obama kemarin adalah pidato yang terbaik.

Tutur katanya memang memukau. Runtut, lancar, tak tersendat, tanpa teks.

Obama telah terlanjur banyak berjanji. Soal penanggulangan krisis ekonomi, soal pengentasan nasib para penganggur, soal pajak, soal perdamaian dunia, soal masalah sosial, dan sebagainya. Dan Obama juga sudah mewanti-wanti, bahwa janji itu mustahil terwujud tanpa dukungan semuanya.

McCain sudah legowo menerima kekalahan dan bilang bahwa now Obama is his Chief. Di sisi lain, Obama juga menawarkan dialog dalam memecahkan masalah. Sangat menarik, melihat wajah Amerika “yang lebih simpatik dan bersahabat”.

Wujudkan, Barry!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s