Menolak Semen Gresik Lewat Musik

Oleh Yacob Yahya

(2.477 kata)

Mengapa warga setempat menentang industrialisasi?

SELASA MALAM ITU (4/11) saya kepengen menikmati nasi goreng langganan saya di kampung halaman, Pati. Yap. Saya tahu ke mana kaki melangkah. Ke perempatan Toko Lawet, ke tenda nasi goreng Pak No. Sejak sekolah dasar saya melahap nasi goreng ini. Harga sepiring awalnya tujuh ratus rupiah, merambat jadi seribu, seribu lima ratus, dua ribu, terus naik, terus dan terus, hingga kini jadi goceng.

Perempatan ini diiris oleh Jalan Panglima Sudirman dari timur ke barat, Jalan Kyai Saleh dari utara -rumah kami di jalan ini, dan Jalan Kamandowo pada sisi selatan. Pak No menggelar dagangannya persis di sudut barat daya persimpangan jalan itu.

Saya agak geli dan terkejut, pada tembok Toko Lawet itu, tertempel beberapa lembar poster. Tampilannya cetakan hitam putih.

Pertama, poster bergambar wajah Barack Obama, calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat untuk pemilihan presiden 2008. Di bawahnya tertulis “Todays President Tomorrows Dictator”. Saya duga ini selebaran dari kelompok anarkis. Perkiraan saya menguat, dengan tulisan berikutnya: “No Master No Slaves”. Mungkin, penempel poster itu adalah para musisi jalanan yang mengaku beraliran punk. Punk masuk Pati?

Apa itu anarkis?

JIKA ANDA MENGIRA anarkis adalah keonaran, kericuhan, teror, kekerasan, tanpa aturan, chaos, Anda sebagian besar salah -untuk tidak menuding Anda salah kaprah. Teror dan chaos hanya satu dari sekian varian metode perjuangan kaum anarkis. Dan cara yang diadvokasi oleh gembong anarkis Mikail Bakunin ini terbukti gagal total dan tak menarik simpati!

“An” berarti tiada dan “archo” berarti pemerintahan. Anarki berarti suatu paham yang mencita-citakan atau mengidamkan suatu tatanan masyarakat tanpa adanya negara beserta lembaga dan aparatus resminya. Termasuk pranata, undang-undang, peraturan, polisi, hukum, dan lain sebagainya. Mereka mengira pada dasarnya manusia adalah setara. Tak ada majikan tak ada bawahan. “Negara” dan perangkatnya hanyalah alat penindas oleh golongan yang berkuasa terhadap rakyat. Pada taraf tertentu, sebagian golongan anarkis, bahkan mengharamkan bentuk organisasi karena bakal ada jenjang, ketua, bawahan, dan seterusnya.

NAMUN BUKAN POSTER itu yang menyita perhatian saya. Melainkan dua jenis poster lainnya.

Pertama, poster bergambar lambang sebuah pabrik semen, Semen Gresik. Di tengah lambangnya, terdapat gambar tengkorak kecil dan dua tulang yang menyilang kayak simbol bajak laut. Terdapat tulisan “Corporate Social Destruction”. Ini plesetan dari istilah “corporate social responsibility”, yakni tindak tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan warga sekitarnya. Ada juga tulisan “Kami Menolak! Jadi Korban”; “Lebih Dekat Lebih Menindas”; “Usir! Semen Gresik Selamatkan Gunung Kendeng”; serta ini yang bikin saya tersenyum kecil “Kejam Tak Tertandingi” -plesetan dari motto perusahaan ini, “Kokoh Tak Tertandingi”.

Poster kedua adalah woro-woro atau pengumuman konser musik gratis. Tanggal 23 Oktober lalu, di Lapangan Kayen. Saya hitung pada poster pengumuman itu, ada 32 band yang meramaikan konser “Musik Kepedulian Lingkungan” itu. Jargon mereka, Selamatkan Gunung Kendeng.

Nama-nama band yang terpampang, saya belum pernah dengar. Mungkin gerakan bawah tanah atau indie. Namanya? Sangar-garang. Ada Alcoholocoust, Ballistic, Revoltver-07, Murder Veiled, Flower Violent, Riot Machine, Gembok, Boot Bobrok.

Namun… ternyata ada yang lucu juga. Ada Aura x Kasih x (nama seorang model cakep yang jadi penyanyi, hitnya Bercinta Denganku -dugem abis), Cinta Raw Lah (plesetan nama Cinta Laura, selebritis muda yang suka berlogat bahasa Indonesia kebarat-baratan -ojhek, bechek…), Gerombolan Si Berat (sekawanan penjahat konyol pada komik Bebek Donal), Terusberlari (sengaja digandeng tulisannya), serta… Tendangan Badut.

Asal mereka, bermacam-macam. Mulai dari Tangerang (mereka tulis Tanggerang), Tegal, Cilacap, Jombang, Purwodadi, Bojonegoro, Solo, Pati, Juwana.

SEMEN GRESIK ADALAH salah satu badan usaha milik negara. Basis produksinya di Gresik, Jawa Timur. Belakangan, Semen Gresik berencana membangun sebuah pabrik semen di kawasan Kayen-Sukolilo, di Kabupaten Pati. Ini yang bikin ribut warga sekitar. Kebanyakan menentang.

Bakal lokasi pabrik itu adalah Gunung Kendeng. Tepatnya di Kecamatan Sukolilo dan Kayen. Ini daerah Pati paling selatan. Di daerah sana ada makam Sunan Prawoto atau Syekh Jangkung serta perguruan silat Macan Putih.

Sukolilo langsung berbatasan dengan Kabupaten Grobogan, yang justru lebih terkenal Kecamatan Purwodadinya. Sama halnya, kabupatennya memang Pati (ibukotanya juga bernama Pati, sebuah kecamatan di mana saya tinggal). Namun, orang-orang lebih akrab dengan Juwana, kecamatan penghasil kerajinan kuningan dan hasil laut, di mana mantan menteri dan ekonom Kwik Kian Gie berasal.

Kondisi tanah di Sukolilo berkapur. Air keruh dan sulit diakses. Warga harus ngangsu atau “mengunduh” air, dari sebuah sumber mata air yang harus ditempuh lewat perjalanan kaki yang panjang, di bawah sinar mentari yang terik.

Banyak pohon jati di sana.

Banyak pula penambangan kapur. Bukit atau gunung mereka keruk dari bawah, membentuk sebuah gua, mereka ambili tanah putih itu. Santer pula kabar musibah longsor, yang merenggut nyawa para penambang.

“WAH, KALAU PABRIK berdiri, mata air di sekitar sini bisa mati dan kering,” komentar kakak saya. Saya pikir juga begitu, sedikit-banyak saya setuju. Dampak lingkungan adalah pukulan telak bagi warga.

Awal Oktober yang masih berbalut suasana Lebaran itu (4/10) kami sekeluarga -saya, ibu, kakak, kakak ipar, dan adik, serta seorang sopir mobil-melintasi Kayen, Sukolilo, meluncur menuju Kartosuro. Kami hendak bersilaturahmi ke keluarga Murjayanti, calon istri saya.

Kami sengaja ambil jalur lewat Purwodadi lalu ke Kartosuro. Perjalanan pakai mobil pribadi hanya tiga jam. Suasana perjalanan seragam. Langit yang terik, tanah berkapur, hutan jati, ladang jagung dan sawah yang kering, sapi ternak yang kurus dengan tulang iga menonjol, rumah-rumah penduduk berdinding kayu dan beralas tanah.

Pada sebuah bukit, berkibar bendera merah-putih yang telah robek. Warna merahnya pun sudah pudar, jadi putih coklat.

KABAR RENCANA PENDIRIAN pabrik itu sebenarnya sudah saya dengar sejak 2005 dari seorang “pembisik” di kalangan intern Semen Gresik sendiri. “Sampeyan dari Pati? Sebentar lagi bakal berdiri pabrik semen di sana,” tutur sumber itu.

Pabrik ini bakal melibatkan tiga kabupaten. Pati, Rembang, Blora.

Saya kenal sumber itu ketika saya liputan bareng rombongan Menteri Negara BUMN Sugiharto, pada Februari 2005. Waktu itu saya masih bekerja untuk Tabloid Kontan, sebuah mingguan ekonomi dan bisnis salah satu dari Kelompok Kompas-Gramedia. Selain saya, ada Sutarto dari Koran Tempo, Aulia dari Rakyat Merdeka, dan Hari Widowati dari Investor Daily -sejak 2007 Mbak Hari pindah ke Kontan.

Malam hari kami sampai di Surabaya, bertandang ke kantor Jawa Pos, koran yang memimpin pasar Jawa Timur milik Dahlan Iskan. Di sana, Sugiharto berdiskusi dengan awak Jawa Pos termasuk Dahlan Iskan sendiri, ada juga Fikri Jufri -wartawan senior Tempo dan The Jakarta Post, yang ikut dalam rombongan menteri. Pagi harinya, kami ke pabrik di Gresik –Petrokimia Gresik, BUMN lainnya bidang pupuk. Lantas ke Institut Teknologi Surabaya. Hingga liputan sehari itu, pada petang harinya, kami bertolak ke Jakarta.

Direktur Utama Semen Gresik waktu itu masih Satriyo.

Selang beberapa bulan, Juni, sumber saya yang mengurusi kehumasan Semen Gresik itu kembali kontak saya. Kali ini lewat sms. Dia mengabari agenda Rapat Umum Pemegang Saham di Hotel Shangri-La Jakarta. Kata dia, “bakal ada kejutan.”

Saya tak tahu kejutan macam apa yang dia maksud. Yang jelas, pada rapat yang baru usai malam jelang dini hari itu Direksi dan Komisaris dirombak; Dwi Soetjipto menggantikan Satriyo. Kalangan serikat pekerja kaget atas munculnya Dwi Soetjipto, mantan Direktur Utama Semen Padang –pabrik semen BUMN, anak perusahaan Semen Gresik.

Agenda bagi-bagi tantiem malam itu kurang menarik jika dibandingkan dengan pembahasan soal kepemilikan saham Semen Gresik oleh Cemex -gergasi semen dari Meksiko yang kala itu masih menggenggam sekitar 25% saham dan kini mereka lepas kepada Grup Rajawali, serta ihwal bongkar-pasang pucuk pimpinan itu.

Saat itu, perwakilan pemerintah atau kementerian BUMN yang memegang mayoritas saham Semen Gresik adalah Lin Cie Wei -mantan direktur utama Danareksa-serta Roes Aryawijaya, deputi menteri BUMN.

Saya pernah mengisi rubrik CEO Tabloid Kontan dengan sosok Dwi Soetipto. Rubrik ini bercerita tentang rencana dan strategi pimpinan perusahaan dalam menghadapi tantangan dan dinamika kondisi bisnis.

Kami wawancara via telepon. Saya konfirmasikan rencana pembangunan pabrik itu. “Kabarnya mau mendirikan pabrik di Pati dan dua kabupaten di sekitarnya?”

“Itu masih rencana awal. Kami masih survei lokasi. Tak cuma di situ kami meninjau. Daerah lain juga kami pertimbangkan,” jawab Dwi waktu itu, masih 2005. Saya tangkap kesan pelit Dwi berbagi informasi soal yang satu ini.

Rencana itu lama mengendap, hingga kolega satu angkatan saya di Kontan, Nur Agus Susanto, mendapat tugasan liputan, berangkat ke Pati pada akhir 2006. Saya sudah keluar dari Kontan. Saya cuma dapat membantu Agus menyilakan mampir ke rumah kami. Saya tidak ada. Mondar-mandir Yogya-Jakarta. Agus disambut ayah (almarhum sejak Oktober 2007), ibu, dan adik. Adik saya mengantarkan Agus konfirmasi beberapa sumber ke kantor kabupaten -naik sepeda kayuh. Liputan ke lapangan di Sukolilo, Agus berangkat sendiri. Warga sekitar begitu keras menentang pendirian pabrik itu.

SUARA PENENTANGAN SEMAKIN mengencang hingga kini. Yang terkena getah dampaknya tak cuma warga sekitar yang berkepentingan langsung. Saya terhenyak, dalam milis Aliansi Jurnalis Independen -organisasi wartawan di mana saya bergabung, tersiar kabar bahwa wartawan koresponden Radio Elshinta untuk daerah Pati mengalami intimidasi dan menerima ancaman. Si juru warta itu dituduh sebagai provokator, menggerakkan massa penentang berdirinya pabrik itu.

Tim advokasi dari AJI Semarang, organisasi AJI terdekat dari Pati, bergerak. Seminim-minimnya iman, adalah bikin pernyataan sikap. Saya di Jakarta, hanya bisa bantu kasih nomor-nomor kontak narasumber di Semen Gresik. Saya tak tahu kelanjutan proses advokasi dan pendampingan terhadap wartawan itu.

Sialnya jurnalis yang bekerja di daerah…

Saya juga hanya bisa meneruskan (forward) pesan di milis itu kepada teman liputan di lapangan, Theresia dari Elshinta. Tere dan saya kebanyakan ketemu di gedung parlemen. Saya waktu itu masih bekerja untuk situs berita Hukumonline.

Tere mengaku sudah menyampaikan email saya kepada petinggi Elshinta soal kabar ancaman terhadap jurnalis Pati itu. Jawaban dari gadis Batak asal Jakarta itu bikin saya tak kalah tersentak. “Koordinator liputan dan pimpinan sendiri tak banyak gerak kok. Kayak diemin aja. Abis, gimana dong?” tukas dia pasrah. Saya membatin, ini ada kolega kerja di daerah keselamatannya sedang terancam kok dibiarkan.

Lagi-lagi, sialnya jurnalis yang bekerja di daerah.

PATI ADALAH DAERAH PESISIR. Termasuk deretan Pantura, pantai utara Jawa. Ia terletak paling ujung utara Pulau Jawa di Jawa Tengah, setelah Jepara. Pati berada 75 kilometer di sebelah timur Semarang, ibukota provinsi. Jaraknya dengan ibukota negara, Jakarta, 405 kilometer.

Usia kabupaten ini hampir setua Majapahit, kerajaan Hindu yang terletak di “pedalaman” Jawa Timur. Tahun ini, Pati berumur 685 tahun. Pati, dulunya Pesantenan, mendeklarasikan ketertundukannya kepada Majapahit. Bukan kepada Demak.

Sinar Majapahit pasca duet raja Hayam Wuruk (simbol pemerintahan) dan patih Gajah Mada (yang secara teknis riil menjalankan roda pemerintahan) kian meredup. Pamor Islam makin mencorong, dengan lahirnya Demak -sebelah timur persis Semarang dan sebelah barat Kudus, sebelum ke Pati, juga termasuk Pantura. Demak berakhir, berganti Pajang, dan berlanjut Mataram Islam.

Pemerintahan pesisir, yang menggantikan kraton pedalaman Majapahit, kembali lagi ke pusat pemerintahan pedalaman makin ke selatan, yakni mentok di daerah Solo-Yogyakarta pada era Mataram. Mataram sendiri selanjutnya hingga kini pecah jadi empat kraton pada masa Belanda, tepatnya VOC yang berlanjut jadi Hindia-Belanda.

Titik kembalinya pusat pemerintahan ke pedalaman, oleh sastrawan agung Pramoedya Ananta Toer ini, disebut “Arus Balik”. Pakar sejarah lainnya punya istilah “involusi” dan “inward looking”.

BEGAWAN SEJARAH INDONESIA, yang kebetulan mengambil spesialisasi sejarah Jawa, Onghokham, punya kupasan mendalam soal ini. Saya suka dengan kumpulan 70 kolom Onghokham yang diikat jadi sebuah buku yang berjudul “Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang” (2003).

Rupanya yang berwatak “inward looking” bahkan cenderung xenophobia, bukan hanya Mataram. Burma (atau Myanmar) adalah contoh konkret. Onghokham (ibid) memaparkan sejarah negeri Aung San Suu Kyi ini. Burma adalah sebuah negeri kerajaan bercorak Buddha. Raja Burma kebelet jadi Bodhisattva. Karena itu, Burma berambisi menaklukkan Muangthai yang memiliki beberapa pusaka Buddha, dan India, tempat lahir Siddharta Gautama, sang Buddha.

Bangkok dapat mengelak agresi Burma. Anda sudah lihat film Chow Yun Fat dan Joddie Foster “Anna and The King” bukan? Target yang tersisa adalah India. Blaik. Inggris, yang meng-koloni India, balas menyerang.

Di internal kerajaan sendiri, putra-putri raja yang berjibun jumlahnya saling membunuh berebutan takhta. Mereka lahir dan besar dari poligami. Dan pembantaian itu mengerikan sekali. Lantaran mereka tak boleh dibunuh oleh tangan manusia, para putra raja yang kalah itu disorongkan di bawah kaki gajah!

Masuklah Inggris, Burma takluk. Ibukota di pedalaman berpindah ke pantai, Yangon. Ini nama baru yang mengubah nama lawas, Rangoon. Yang membangun kota ini adalah Inggris, dan pada 1886 resmi sebagai ibukota.

Sayang, pada era modern, rezim militer Ne Win mengubah kembali nama Yangon menjadi Rangoon. Cilakanya, si penerus, Than Swee, memindahkan ibukota ke daerah antah-berantah hutan belantara, Napyidaw, akhir-akhir ini.

Di bawah kepemimpinan Than Swee inilah, tokoh demokrasi wanita Aung San Suu Kyi masih mendekam jadi tahanan; para biksu mengalami kekerasan dan pembunuhan serta mayat mereka dibuang ke sungai; Kenji Nagai, jurnalis foto asal Jepang, ketika meliput tewas diterjang peluru pasukan yang memukul gelombang demonstrasi yang makin membesar; tekanan internasional bagai angin lalu tanpa gubris.

Elit Burma begitu fobi terhadap dunia luar, namun begitu narsistik –awalnya bermimpi hendak jadi Buddha.

LAIN BURMA LAIN JAWA. Meski demikian, keduanya punya tali sejarah yang paralel dan bisa diperbandingkan. Mataram takut kalau-kalau daerah pesisir kembali membangun kekuatan untuk berontak. Mataram berniat menaklukkan kota-kota pelabuhan di Pantura -dengan meminta bantuan Belanda.

Khusus kasus Pati, penaklukan yang alot itu terekam dalam cerita rakyat legenda dua sejoli Roro Mendut-Pronocitro. Shakespear boleh punya Romeo dan Juliet, rakyat Pati punya Romi-Juli versi sendiri.

Akibatnya, ekonomi terlalu bertumpu pada kegiatan agraris. Perdagangan mundur, bahkan hampir “kering”. Kelas pedagang susah muncul. Belanda sendiri mengeluh, sebagus apapun produk tekstil asal India, takkan laku dijual di Jawa -meskipun pelabuhan Banten bisa jadi kekecualian.

Rakyat sudah terlatih untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Mereka bertani, selain guna membayar upeti, untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Untuk sandang, mereka coba memenuhinya sendiri dengan bikin batik. Tak ayal, masing-masing daerah punya corak batik yang khas. Ada Pekalongan, ada Yogyakarta, ada Solo, bahkan -meski kurang tenar-batik khas Pati juga ada.

Sistem perdagangan yang jadi urat nadi Eropa coba masuk di tanah Jawa. Namun, posisi agraris juga kuat. Ada kota di pesisir, ada desa di pedalaman. Inilah yang menurut sejarawan Boeke terdapatnya “dualisme”.

Sayang, konsep dualisme ini bisa dipelintir sedemikian rupa untuk kepentingan elit pemegang roda ekonomi. Biarlah dualisme itu tetap ada dan terpelihara. Dunia Barat memang kaya dan makmur; tapi “resah” dan dikuasai oleh nafsu duniawi. Sebaliknya, orang Timur memang miskin; tapi “harmonis”, “ideal” dan kaya akan “spiritualitas”. Biarlah keduanya saling melengkapi dan orang Timur biarlah tetap miskin.

Tak jarang nasib petani sering disebut subsistens. Hanya cukup bercocok-tanam, berproduksi, untuk konsumsi sendiri. Tak kepikiran akan urusan tabungan atau investasi apalagi penumpukan modal. Ibarat orang kebanjiran hingga semulut, sudah sulit bernafas, air bertambah tinggi sedikit saja malah bikin tenggelam.

Beban kerja rakyat petani kecil makin berat dengan adanya sistem pajak dan upeti. Gelombang penghisapan kolosal terjadi pada masa tanam paksa, yang mana makin menuntut bertambah banyaknya tenaga manusia. Maklum, alat produksi belum canggih berkembang. Ekonomi pertanian sangat bergantung pada tenaga manusia sebagai penggarap lahan. Saking beratnya, para petani coba membagi beban kerja itu… dengan bikin banyak anak. Tak heran, kala itu, motto hidup “banyak anak banyak rejeki” jadi panglima.

KAPITALISME PERDAGANGAN MAKIN berkembang jadi industrialisasi, pada tahap pematangan selanjutnya. Hal ini berawal pada era revolusi industri di tanah Inggris jelang abad ke-18. Konsekuensinya, belahan bumi Barat memang mengalami kemajuan pesat, namun… tetap saja “resah”.

Tatkala angin industrialisasi ini perlahan merambat ke Jawa, penduduk yang selama berabad-abad mewarisi corak hidup gaya pedalaman ala Mataram -bahkan di daerah pesisir pun, jadi gagu. Terkejut. Di ambang gegar budaya.

Industrialisasi yang coba menjalar itu nampaknya hingga kini masih meresahkan bagi kalangan wong cilik yang erat “bercumbu” dengan “harmoni alam” dan “spiritualitas” itu.

4 responses to “Menolak Semen Gresik Lewat Musik

  1. Waaahhh…

    wahh…

    Kejadiannya kok kayak kami ya, suami orang Kaborongan, saya orang Kartosuro…🙂. Omong-omong, batik khas Pati kayak apa sih, saya malah belum pernah tahu… jadi penasaran…

  2. Sebenarnya yang orang Kartosuro adalah kakak laki-laki calon saya, yang bakal jadi wali nikah. Keluarga calon saya dari Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta.

    Saya jadi teringat, dulu almarhumah nenek jualan jarit dan kain sandang di pasar. Yah, ada batiknya juga. Terus terang saya kurang paham ciri khusus batik pati. Katanya sih, lebih banyak main warna biru.

  3. Pingback: Usai Lahap Sambal Jeruk « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  4. menurut saya kabar gembar gembor sana sini soal penolakan semen gresik itu membuat saya sangat prihatin. dan mengandung unsur provokasi terhadap masyarakat2 yang awam akan dunia luar.. saya mengecewakan sikap WALHI yang seakan melebih lebihkan. kebetulan saya adalah warga tuban. tempat berdirinya PABRIK SEMEN TERBESAR itu. awal mulanya protes dari seluruh warga sekitar maupun aktivis lingkungan juga tiada henti hentinya.. bahkan lebih keras dari ini. namun Al hasil…. setelah disetujui dan pabrik SG berdiri di kotaku tercinta ini, taraf hidup masyarakat kami naik drastis, warga sekitar juga banyak yang menjadi karyawan baik di induk Semen Gresik maupun Anak anak perusahaan.. silahkan ditinjau dahulu sebelum memvonis pak.
    terlebih, hal hal yang ditakutkan oleh walhi tidak terbukti. Warga Merakurak maupun kerek malah semakin terbantu dalam hal AIR. sekarang tidak pernah kekurangan air di musim kemarau karena telah terdapat buanyyyak waduk di desa sekitar bekas galian Tanah liat, airnya pun sangat melimpah..
    masalah air bawah tanah tidak pernah ada karena SG tidak memakai ABT,
    Perkembangan kota TUban sangat pesat setelah SG berdiri, mulai dari infrastruktur dan tata kotanya.,
    Ayooooo kapan kapan maen dech ke TUBAN n Lihat tuban My beloved City..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s