Jadi Juri Lomba Buletin Persma

Pers mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada –sekarang nama resminya jadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)– EQuilibrium, tempat saya dulu bergiat, mengadakan lomba buletin persma se-Yogyakarta. Ini gawean yang sudah lama mereka rancang. Sejak akhir Juli lalu, tepatnya 27 Juli pada malam hari, Dea, ketua panitia lomba ini, mengontak saya untuk bersedia jadi jurinya.

Dengan senang hati aku terima tawaran itu. 

Saya sangat senang. Pertama, ini lomba karya jurnalistik yang pertama kali EQ selenggarakan. Sebelumnya, tak pernah ada lomba macam begini. Kompetisi karya jurnalistik mahasiswa aku kira minim di Yogya. Mungkin di tingkat nasional, apalagi. Lomba menulis sih banyak. Tapi kebanyakan kompetisi menulis puisi, cerpen, sastra, atau artikel ilmiah. Sedangkan karya jurnalistik punya keunikan dan tantangan tersendiri. Kedua, ini pertanda EQ tidak mati suri sepeninggal kami. Penyakit yang satu ini adalah momok yang berhinggap pada hampir setiap organisasi mahasiswa. Yah, pengkaderan dan keberlanjutan denyut aktivisme.

Salut buat EQ yang berani menggelar kompetisi karya jurnalistik.

Saya diskusi banyak dengan Dea. Aku masih kurang mumpuni jadi juri. Harus ada tandem. Aku pengen jadi juri asal tidak tunggal. Kalau juri cuma seorang, subjektivitas sangat kentara dan penilaian cenderung “absolut”. Harus ada penilai yang lain. Juri harus ramai berdebat, berdiskusi, menyaring pemenang yang paling pantas.

Aku tawarkan nama Bambang Muryanto. Mas Bambang adalah ketua Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta (AJI Yogya). Aku juga anggota AJI, tapi ikut AJI Jakarta. Aku pikir Mas Bambang sangat pantas. Dia lebih senior daripada aku. Dia langganan mengisi diklat jurnalistik maupun acara diskusi EQ, sewaktu aku masih aktif. Lagian, baru-baru saja dia menyabet penghargaan bergengsi, Mochtar Lubis Award untuk kategori proposal liputan investigatif. Award ini tingkat nasional, diberikan kepada karya jurnalistik yang ciamik. Untuk pertama kali, digelar tahun ini. Pulitzernya Indonesia? Perlu diuji lebih lanjut. Meski demikian, award bagi jurnalis Indonesia aku rasa masih minim.

Namun, pada perkembangannya, rasa senangku sedikit surut. Lantaran, pesertanya cuma lima persma. Ada Sintesa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Ekonomika Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Yogyakarta, serta dua terbitan dari Fakultas Pertanian UGM. Beberapa nama persma aku lupa.

Apa karena geliat persma sedang tidur panjang? Apa karena ajangnya yang kurang bergengsi? Atau karena apa?

Kedua, rupanya Mas Bambang dalam perkembangannya tak jadi juri. Dea bilang pesertanya terlalu sedikit. Lagipula Mas Bambang sedang sibuk. Mungkin persiapan kongres AJI. Aku tak tahu pastinya. Jadilah saya juri satu-satunya. But show must go on.

Juri dalam hal ini adalah keredaksian. Sedangkan bidang artistik dan layout, awak EQ sendiri yang menilai. Dalam hal penilaian tampilan, aku tak cawe-cawe. Penilaian kami, dua macam juri yang berbeda, bakal digabungkan dan ditotal. Toh, hasil keputusannya, “Sama dengan penilaian Mas Yacob,” ujar Dea kasih kabar buatku lewat sms. Pengumuman pemenangnya sekalian bareng acara seminar, pada Sabtu 1 November lalu. Sayang, aku tak bisa datang. Aku harus pulang ke Pati.

Dalam penilaianku, Sintesa jadi peringkat pertama. Sebenarnya nilai ia dengan FBS UNY, peringkat dua, sama. Namun, dari segi kedalaman liputan, Sintesa lebih unggul. Aku sebenarnya paling suka dengan gaya bahasa naratif FBS UNY. Namun, soal keluwesan bahasa, pemakaian pilihan kata, pada artikel lainnya, sayang, monoton. Diksi yang itu-itu saja pada dasarnya melanda semua peserta. Dari segi gaya bahasa, terpaksa aku kasih tak ada nilai yang sempurna, meski yang tertinggi diraih oleh FBS UNY.

Aku juga kagum pada Ekonomika dari UII. Persma ini menerapkan byline dan tagline yang sempurna. Penulis berita, nama lengkapnya, terpampang jelas. Dari segi kelengkapan atribut berita, Ekonomika pantas memperoleh nilai sempurna –tertinggi di antara yang lain. Sayang, kedalaman liputan dan gaya bahasa kurang mendukung.  Posisi tiga dia sabet.

Jika dibandingkan dengan para pemenang, kualitas EQ masih agak di bawah mereka. Mulai dari kelengkapan narasumber, teknik menulis, gaya bahasa, hingga byline dan tagline. Semoga, dengan meninjau dan mencuri ilmu dari hasil karya para juara, EQ dapat memperbaiki kualitasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s