Raja (Mau) Jadi Presiden

Jelang tahun depan, perhelatan “pesta demokrasi”, banyak tokoh yang pemanasan ancang-ancang melangkah menuju RI-1. Rakyat, sejak dulu hingga kini, partisipasinya masih sebatas bertandang di bilik suara. Selanjutnya? Terserah pemimpin yang keluar sebagai pemenang. Mau ingkar janji, mau memenuhi program kerja, yah terserah pemenang pemilunya. Dan kebanyakan? Anda tahu sendiri lah…

Kemarin malam, Selasa (28/10), sebuah pesan singkat nyelonong masuk ke kotak surat hape saya. Dari sebuah nomor baru. Mungkin dari seorang kawan, atau seorang kenalan, yang nomornya tidak saya simpan. Atau mungkin saya belum kenal si pengirim, cuma dia tahu saya (dan nomor saya).

Begini isinya. “sultan menyatakan siap mjdi presiden periode 2009-2014.beliau merupakan cln presiden independen yg didukung rkyt,ormas dan di incar partai2,ap tanggapan sdr?”

Ini pesan yang menggelitik. Sultan yang dimaksud adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X, Raja Kraton Kasultanan di Yogyakarta. Kini Herjuno Derpinto, nama asli Sri Sultan, jadi Gubernur Yogyakarta. Dalam Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta, posisi gubernur memang disandang oleh Sri Sultan.

Lha kalau Sri Sultan melenggang ke kompetisi calon presiden, dan akhirnya terpilih (ini masih tahap seandainya loh), lantas siapa yang jadi gubernurnya?

Yang menarik, UU Keistimewaan Yogyakarta ini sedang dibahas perubahannya. Dewan Perwakilan Rakyat tingkat pusat, di Jakarta, sedang mengutak-atik posisi sebuah daerah di Yogya. Termasuk kedudukan Sultan. Berbagai pilihan sedang mereka takar. Wacana yang berkembang, Sultan cukup jadi pengayom saja. Istilahnya saya lupa. Sehingga, dimungkinkan tergelarnya pemilihan gubernur secara langsung, yang sudah terjadi di daerah biasa. Hal ini agar Sri Sultan sendiri tak terikat dan “tersandra” melulu jadi gubernur. Dimungkinkan pula, yah dapat nyalon jadi presiden itu.

Saya sendiri abai dan kurang menaruh minat pada pemilihan presiden.  Silakan para calon maju di gelanggang persaingan, dan silakan masyarakat menentukan pilihan. Termasuk pilihan untuk tidak memilih.

Bukan karena apatis. Bukan karena pula saya tak mau bertanggung jawab. Pilihan untuk tidak memilih ini lantaran keyakinan saya, yang berprofesi wartawan, untuk tetap independen dan objektif. Tak condong kepada salah satu kubu. Yah, bisa dibilang saya lagi tidak mood berpolitik praktis parpol-parpolan atau dukung-dukungan salah satu calon.

Yang menarik adalah calon presiden independen, seperti yang disebut si pengirim sms. Sudah lama saya meninggalkan pos liputan di gedung DPR. Saya sudah lama tidak up to date. Calon independen, setahu saya hanya mungkin bagi calon gubernur atau kepala daerah tingkat dua (bupati atau walikota). Rancangan Undang-Undang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden? Rasanya kok belum “mengizinkan” calon independen. Kecuali ada perkembangan yang mengarah ke sana. Dan terus terang saya belum tahu posisi terakhir ketentuan itu.

Dan sekali lagi saya tak menaruh minat pada siapapun yang mencalonkan diri jadi presiden.

Saya cuma membalas pesan itu, Rabu pagi hari ini (28/10), dengan sedikit asal. “Wah itu menarik.dari raja yg mimpin kraton mau jd presiden yg mimpin republik.”

Yah, siapapun Anda yang mencalonkan diri jadi pemimpin, tunjukkan posisi Anda berpihak kepada rakyat. Selamat mencalonkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s