Laskar Wisit

Naskah oleh Yacob Yahya
Foto oleh Ginanjar Rah Widodo

(1.511 kata)

Menangkap rutinitas di awal Syawal.

HANGAT PAGI belum hilang. Terik siang masih jauh. Pagi itu kembali sepi. Sunyi babak kedua. Pertama kalinya, beberapa puluh menit lalu, jalanan lengang. Becak berjajar tak ada yang berseliweran. Sama halnya roda bermotor. Ribuan manusia tersedot di tanah lapang alun-alun dan masjid agung kota. Mereka larut takzim mengambil dua rakaat disambung khotbah usai salat. Yang tak ke masjid mendekam di dalam rumah bagai beruang tidur pada musim hibernasi -menunggu kerabatnya pulang dari masjid. Ini hari Idul Fitri.

Id artinya hari dan fitri berarti suci.

Setelah sebulan penuh menjalani puasa -menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu; setelah meningkatkan kadar ibadah dan coba lebih dekat dengan Tuhan; dan setelah saling bermaafan, tiap insan bersih dari dosa, suci, bagai seorang bayi yang (kembali) terlahir. Lantaran alasan itulah hari tersebut memperoleh nama Idul Fitri.

Usai ritual itu, sunyi pecah. Gegap gempita jalanan terguyur lautan massa. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Senyum cerah tersungging pada bibir mereka. Jabat erat dan rangkul hangat pada sesama. Kebanyakan jamaah berjalan kaki, sebagian berkendara. Mobil-mobil yang bisu terparkir mulai nyala kembali. Gerak lagi. Motor-motor berjalan tersendat di antara pejalan kaki. Tukang becak tangkas bangkit menyambut calon penumpang. Para pengemis nan papa pun menelus seperti hapal jalur yang lempang di tengah ratusan orang yang bersesakan -menghadang para pemberi sedekah. Pemulung panen kertas koran yang terserak di atas aspal -bekas alas sembahyang.

Bagai pasir besi yang tersedot oleh kutub magnet yang berlain-lainan, sekelompok manusia itu pulang kembali ke rumah mereka masing-masing. Jalan kembali lengang. Pertokoan atau perkantoran, tak satu pun yang buka. Ini hari libur. Bukan sekadar libur.

Hari pere istimewa ini cuma datang setahun sekali. Spesial, lantaran sanak dari rantau rela berjuang kembali pulang, menaklukkan jalanan, bertaruh nyawa, harta dan tenaga. Untuk berkumpul bersama, meski hanya sesaat, lantas kemudian kembali ke tanah rantau lagi. Bagai menyambung simpul yang terurai. Jelang momen khusus yang tiada duanya ini, saking membludaknya arus kendaraan, konon perjalanan Jakarta-Cirebon butuh 19 jam. Padahal kalau normal hanya sepertiganya. Bahkan, jurnei via kereta cukup tiga jam.

Lalu, apa bedanya para pemudik dengan sekawanan fauna? Mereka punya naluri yang sama: bermigrasi. Menantang bentangan jarak yang panjang. Sekoloni burung pemakan lebah mengitari tiga benua -Eropa, Afrika, dan Asia- untuk berpindah-pindah sarang. Kupu-kupu juga demikian. Ikan salem menantang arus laut menuju sungai dan bersiap menerima cabikan kuku tajam beruang hanya untuk bertelur dan akhirnya mati kelelahan. Gerombolan (bukan ikan!) paus berlabuh dari satu pantai ke pantai yang lain -bahkan wilayah sedingin kutub, menyelami samudra untuk beranak dan mereka harus waspada terhadap terjangan tombak dan jaring nelayan serta baling-baling kapal. Penyu pun menziarahi benua yang lain untuk menetaskan telur -kemudian tukik, si penyu cilik yang baru saja lahir, harus lepas sendiri ke samudra nan luas. Zebra, kijang, impala rela berlarian ratusan mil untuk memburu padang nan hijau dan lebih segar lalu mereka membayar konsekuensinya dengan diburu buaya ketika menyeberangi sungai, diterkam singa, dubuk, anjing liar, macan tutul, cheetah, dan hewan buas lainnya jika sudah sampai di dataran tujuan.

Mudik harusnya terasa bagai menemukan oase yang segar bagi kita setelah jiwa hampir lekang dihajar tekanan hidup di tanah yang bukan tempat asal kita. Mata air itu buat isirahat kita; buat menimba perbekalan jiwa -untuk melanjutkan perjalanan, lain kata, merantau lagi.

Dan tahun depan kita mudik lagi.

HANGAT PAGI belum hilang. Ini suasana malas-malas nyaman. Usai salat id berjamaah, orang-orang lebih memilih tak ke mana-mana dan berdiam di dalam griya. Sarapan bersama. Atau berkumpul bersama. Tak lupa sungkeman bersama.

(Aku sungkem pada Ibu)

Setelah sungkeman sekeluarga -aku, adik, kakak, ibu, dan kakak ipar- kami siap mengganyang opor ayam. Sudah satu dekade lebih, tiap kali Lebaran, opor ayam adalah santapan kami.

Kami bikin opor dari dua ekor ayam. Ditambah lima jerohan. Lima jerohan sisanya untuk buat sambal goreng. Ada kentang, pete, telur puyuh, plus ati-ampla. Jagan lupa lontong. Sedap bin nikmat dus lazat. Tak lengkap tanpa docang dan kerupuk udang.

Docang adalah rajangan tipis kacang panjang mentah diurap dengan sambal kelapa -campuran parutan kelapa dan ulekan cabe merah.

Hangatnya kuah opor sehangat pagi hari.

Baru saja tandas opor, kami mendengar pintu depan diketuk. Tok-tok-tok.

“Assalamualaikum,” suara rame anak kecil menguluk salam. Keselamatan bagi Anda.

“Wa-alaikum salam,” kami serempak menjawab. Demikian pula keselamatan bagimu.

HANGAT PAGI belum hilang. Cahaya mentari yang mengkilap emas menimpa kulit sekelompok anak-anak. Keringat mereka tak mengucur deras, hanya berupa titik-titik kilau putih -kayak kelip bintang di langit atau sparkling gel-yang menempeli tangan mereka. Jumlah mereka belasan orang. Rata-rata berusia sekolah dasar. Tiga orang sekolah menengah pertama -yang paling besar.

Merekalah yang bakal melengkapi suasana maaf-maafan tiap-tiap rumah di lingkungan ini -termasuk rumah kami.

Baru saja beberapa waktu salat id tuntas, dan baru saja mereka singgah di rumah masing-masing, mereka segera keluar. Saling menjemput, akhirnya terkumpullah belasan orang. Mereka menyisir satu per satu rumah tetangga untuk silaturahmi. Sebagai anak kecil yang lebih muda, mereka perlu berinisiatif terlebih dahulu meminta maaf. Betapa mulia hati mereka bukan?

Dan sebenarnya di balik semua itu ada motivasi lain. Aku tahu karena waktu seumur mereka juga melakukan itu. Aku yakin kamu juga begitu. Melihat polah mereka sekarang ini, aku rasa begitu jenaka karena mengingatkan memori indah masa kecil.

HANGAT PAGI belum hilang. Tiga anak mengintai dari sebuah sudut tikungan. Trio itu berusia sekolah menengah pertama.Mereka mengintip sebuah rumah besar yang terbuka lebar pintunya. Menunggu. Yang mereka nanti adalah keluarnya sekumpulan anak yang dari tadi berkunjung ke rumah itu. Anak-anak yang mereka gadang, berusia lebih kecil, sekolah dasar.

Beberapa saat bocah-bocah kecil itu berhamburan keluar. Muka agak masam.

“Piye? Ana ra?” tanya salah seorang anak yang menunggu dari luar. Gimana? Ada nggak?

“Gak ana…” lirih mereka menjawab dengan gelengan kepala. Tidak ada.

Lalu mereka melirik rumah lain. Tiga anak menunggu dari luar. Beberapa saat anak-anak kecil bertandang, lalu keluar. Kali ini wajah lebih berseri. Tersenyum, tiga anak yang menunggu di luar itu ambil giliran berkunjung ke rumah itu. Sejurus kemudian, mereka juga memasang muka cerah.

“Lumayan,” ujar salah satu dari mereka sambil menggerak-gerakkan selembar lima ribu rupiah -yang dia dapat dari hasil kunjungan itu. Itulah wisit -kami menyebutnya. Kamu lebih familiar dengan istilah angpau. Bukan begitu?

Usai “menjarah” salah satu rumah, mereka menunjuk rumah kami. Langkah mereka bersicepat. Pagar halaman depan mereka buka. Mereka mengetuk pintu, melempar salam. “Assalamualaikum…”

HANGAT PAGI belum hilang. Dengan hangat pula kami menerima serombongan bocah itu. Mereka cengar-cengir. Mereka duduk di kursi tamu. Mereka menghiraukan berbagai cemilan yang terhidang di atas meja. Lodong dan toples terbuka. Tapi isinya enggan mereka jamah. Mereka sedang tidak menaruh selera pada panganan kecil itu. Padahal, sewaktu aku seusia mereka, hidangan tersebut adalah yang paling wajib dikudap. Ada biskuit mari merek Monde, semprong isi coklat sejenis Astor, nastar isi selai nanas, kueh cheese-stick, kueh kembang yang bagian tengahnya ada sebutir chip coklat, kueh salju -berlumur gula bubuk yang putih bagai salju, dan sebagainya.

(Anak-anak yang berkunjung ke rumah kami)

“Piye, bar saka ngendi wae?” kakakku menyapa mereka. Gimana, habis dari mana saja.

“Pak Fulan, Pak Ini, Pak Itu, Pak Anu,” jawab mereka menyebut sejumlah nama tetangga kami.

“Entuk wisit pira?” timpalku pada mereka. Dapat angpau berapa?

“Rolikur.” Dua puluh dua.

“Paling akeh pira?” kakakku bertanya. Paling banyak berapa?

Mereka menunjukkan lima jari tangan -simbol goceng.

“Nyoh. Nek iki duite anyar. Lagi bar dicetak saka mburi,” tutur kakakku sambil membagi uang lima ribuan yang masih baru. Ini nih. Kalau di sini uangnya baru. Baru saja dicetak dari belakang.

Mereka tertawa-tawa.

“Ning Pak Anu wis durung?” aku menyahut. Ke Pak Anu sudah atau belum? Aku menyebut nama seorang tetangga yang terkenal pelit bin KI kuadrat plus R. anak-anak sudah tahu rahasia umum itu.

“Hahaha…” kami tertawa bareng.

Adikku menghitung jumlah tamu. Kemudian berlalu ke kamar. Beberapa saat sekawanan anak itu sumringah melihat adikku keluar kamar. Aku yang duduk berhadapan dengan anak-anak itu menoleh ke belakang melihat adikku yang membawa sejumlah uang.

“Iki.” Ini, ujar adikku. Satu per satu beroleh lima ribu.

Beberapa waktu kami ngobrol ngalor ngidul. Basa-basi. Kebanyakan aku tanya sekarang mereka pada sekolah kelas berapa. Ada yang jawab kelas tiga, empat, lima. Salah seorang “pemimpin” rombongan adalah cowok kelas lima. Tapi, sebenarnya dia seumuran kelas dua sekolah menengah pertama -kini istilahnya kelas delapan.

“Gak munggah ping pindo,” akunya malu-malu. Tak naik kelas dua kali.

“Wah. Mesti kowe dadi ketua geng ning sekolahan. Geng Nero,” kakakku melempar kelakar. Wah kamu jadi ketua geng di sekolah. Geng Nero.

Geng Nero adalah geng sekumpulan anak sekolah menengah atas. Anggotanya cewek. Kebrutalan dan keberingasan mereka terekam dan sempat bikin geger warga Pati -kota asal kami. Mulanya rekaman itu di sebuah ponsel. Lantas beredar dari satu hape ke hape lainnya. Hingga heboh jadi berita di media beberapa bulan lalu. Kenakalan remaja. Geng sekolah. Dan semacamnya.

“Loh. Sak semono yoh cilik. Genti sing gedhe ben muat akeh,” kembali kakakku memantik guyonan, bicara dengan salah seorang bocah tamu. Loh. Kantong segitu yah kecil. Ganti yang lebih besar biar muat lebih banyak -wisitnya.

“Hahaha..” kembali, tawa pecah di ruang tamu.

Selang berapa lama, anak-anak merasa cukup. Kode-kodean dengan kerlingan mata. Mereka hendak cabut. Dan melanjutkan operasi wisit ke rumah-rumah yang lain. Alasan mereka, keburu kesiangan. Tawa tak pernah pudar dari bibir mereka. Senyum-senyum malu.

Mereka berpamitan. Suasana rumah kembali sepi.

HANGAT PAGI belum hilang. Dan aku tak mau lekas kehilangan hangatnya pagi.

Penulis membuat judul di atas dengan terinspirasi oleh novel Andrea Hirata yang berjudul “Laskar Pelangi” dan disadur oleh sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana menjadi film dengan judul yang sama.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Minal Aidin Wal Faizin

Pati-Yogyakarta,

Oktober 2008 Masehi/Syawal 1429 Hijriyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s