Yang Tersendiri* (Kisah Sebuah Lagu)

Sebuah cerita fiksi oleh Yacob Yahya

(1.656 kata)

Nikmati saja kecamuk hati.

JALANAN akhir pekan lengang. Gedung-gedung pun membisu. Jalan Sudirman pukul sembilan pagi itu sunyi. Patung panglima besar itu masih tegak berdiri, bergeming. Sebuah roda empat Honda Jazz merah menyala tenang melenggang.

Pagi yang sempurna. Cerah. Biru lazuardi bersih.

Amat jarang ibukota berkesempatan untuk sejenak lega bernapas. Lima hari dalam sepekan, Jakarta selalu sesak terkena semburan asap kendaraan –ditambah beberapa bagian kota ini adalah lingkungan pabrik. Sarat debu. Kotor sudah pasti. Seperti kakek tua yang batuk rejan tersengal-sengal berjuang mengatasi paru-parunya yang kempis sempit.

Tapi hari ini adalah kekecualian. Segar. Langka.

Perjalanan boleh saja mulus dan lancar. Namun suasana hati si pengemudi tak sehalus laju roda menggilas aspal. Pria itu gundah. Sesekali dia baui kemeja biru krem yang dia pakai. Pada bagian ketiak. Parfum sudah berbaur dengan keringat. Mesin pendingin mobil seakan tak berhasil mengerem tumbuhnya butiran air dari pori-pori kulitnya. Itu keringat dingin. Grogi, dia. Apel pertama memang bikin grogi.

Selain AC, dia butuh pendingin suasana lain yang lebih ampuh. Dan rokok bukanlah pilihan yang baik. Bungkus putih A Mild terbiarkan tergeletak pada dasbor depan. Di samping boneka anak anjing kecil yang lehernya dari pegas. Si guguk coklat itu mengangguk-angguk kalau disentuh kepalanya. Di sisi golekan anjing itu, jarum speedometer menunjuk angka delapan puluh.

Gedung-gedung kantor satu demi satu dilaluinya. Seperti gambar pada layar gulung, mereka seakan tersedot ke belakang seiring berjalannya mobil. Pemandangan kelabu tersekat kaca jendela. Hangat kilau mentari di luar tak terasa.

Karet-Bendungan Hilir-Kampus Atma Jaya-pom bensin. Lurus saja dia berlalu. Sebentar lagi putaran Jembatan Semanggi. Dia hendak ambil ke arah Slipi. Kini Balai Sarbini sudah berada di seberangnya. Hotel Sultan, dan sebentar lagi gedung parlemen. Uh, siap-siap belok kiri menyusuri Manggala Wanabhakti.

Jarak makin mendekat, jantungnya tambah berdegup kencang.

“Shoot…” dia mendusin. Langkah roda tersentak. Lampu lalu-lintas menyala merah. “Kampret,” umpatnya sambil mengerem. Tak sabar saja.

Sebuah dokar melintasi jalan. Ia dari Pasar Palmerah, hendak ke Senayan. Kuda coklat yang menariknya menjulur-julurkan lidahnya. Tubuhnya kurus, tulang-tulang iga menonjol pada perutnya. Matanya tertutup kacamata kuda. Kacamata kuda? Pria dalam mobil Honda Jazz itu tersenyum memikirkan istilah itu. “Mana sih kacanya? Sejak kapan kuda pakai kacamata? Hanya sepasang alat penghalang pandangan si kuda supaya jangan melirik ke samping dan melulu melihat lurus ke depan,” dia cuma membatin.

Si sais membalas senyuman –yang sebenarnya bukan untuk dirinya—dengan anggukan hormat.

Dia masih cari-cari pembunuh suntuk. Grogi itu belum hilang. Hingga dia temukan sebiji kaset tape di antara serakan kaset lainnya. Lusuh. Warna biru beningnya pudar. Sudah terputar sebagian. Kira-kira siap untuk lagu kedua. Dia rasa belum pernah lihat kaset itu. “Paling punya kakak,” bisiknya pada diri sendiri. Dia penasaran, album siapa gerangan?

Rupanya Iwan Fals. Nomor lawas, awal sembilan-puluhan.

Terhempas kuterjaga dari lingkar mimpi. Pada titik sepi. Suaramu terngiang menembus khayalku. Yang juga tentangmuuu… Dan kuakui tan-pa ke-munafi-kan ku ciiinnn…ta kau… Bahwasannya ke-a-kuanku bersumpah aku ciiinnn-ta kau…

Jemarinya mengetuk-ngetuk setir.

Lampu merah menjadi hijau. Dia melaju tenang.

TUMBUHNYA cinta lantaran terbiasa. Orang Jawa bilang witing tresno jalaran saka kulina. Dia rasakan benih cinta itu sudah tumbuh menjadi tunas di hati. Karena pertemuan tiap hari di lingkungan kantor –selama beberapa pekan ini. Di kantin. Di tempat parkir. Di swalayan dalam gedung kantor. Di fitness-center. Sebagian tak sengaja, dan sisanya –lama-lama—adalah pertemuan yang dia harap-harapkan.

Mereka bekerja pada gedung yang sama, tapi beda kantor –di bilangan Thamrin.

Di matanya, wanita itu menarik. Cerdas. Ambisius. Cerewet. Tangkas berbicara. Alur tuturnya tertata. Sungguh dewasa. Mandiri. Berpenampilan mantap. Tiap kali wanita itu menatap lawan bicara, ekor matanya meninggalkan goresan jejak seseorang yang pintar. Sangat tipe dia. Yah, cewek itu sangat mempesona dia.

Meski tiap kali bertemu, pria itu tak berani memantik sapa. Pertemuan hanya berpapasan belaka. Tak lebih dan tak kurang. Hingga suatu saat, mereka bertubrukan waktu hendak masuk lift yang sama. Mereka jalan sama-sama bersicepat. Memburu pintu lift yang makin menyempit. Orang-orang di dalamnya sudah penuh sesak. Namun jadwal meeting sebentar lagi bakal dimulai.

“Aduh,” teriak wanita itu. Berkas dari map yang dia pegang berhamburan.

“Maaf,” pria itu mencoba sopan, menyesal.

“Saya bisa kehilangan presentasi saya.”

“Saya tak sengaja, maaf,” jawab pria itu kikuk.

Pintu lift terlanjur menutup. “Well, sudah terlanjur. Apa boleh buat.”

“Saya sangat menyesal, maaf.”

Beberapa saat mereka tak bertegur sapa. Hanya berdiri di depan pintu lift itu. Bisu. Si pria hanya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Mereka menunggu angkutan lift yang sama. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Lima menit. Hingga sepuluh menit kemudian.

“Maaf tadi eh…”

“Tak apa-apa,” wanita itu akhirnya membuka pintu maaf.

“Hari yang sibuk nampaknya.”

“Begitulah. Calon klien besar. Harus bisa meyakinkan.”

“Oho. Anda di lantai berapa?”

“Dua puluh. Anda?”

“Dua empat.”

“Sampai ketemu lagi.” Wanita itu melangkah keluar. Sudah sampai pada lantai yang dituju. Sebuah kantor bank. Pintu lift membuka dan menutup lagi.

“Eh, nama Anda?” sebuah kalimat yang belum meluncur dari bibir pria itu. Mulutnya hanya ternganga bagai gua. Sebenarnya itu hanya pertanyaan basa-basi. Dari tadi sudah dia lirik sebuah kartu pegawai yang tersemat di saku dada kiri kemeja wanita itu. “Patricia Vera”. Dan untuk sekali lagi, dia kukur kepalanya yang tak gatal.

Lift meluncur ke atas.

BAYANGMU menghantui setiap gerakku. Dan kemauanku. Dahagaku akanmu. Matikan emosi. Juga ambisiku. Oh…ohhh…ho! Dan kuakui tan-pa kemunafi-kan. Ku ciiinnn…ta kaaauuu. Bahwasannya ke-a-kuanku bersumpah aku cinnn-ta kau.

Lagu pada bagian jeda. Gitar listrik meraung. Dentum bass berputar pada kunci B-A-G… F-E-B…A-G…F-E-B… dan suara gitar makin melengking.

Apartemen pertokoan Senayan nampak lowong. Mobil itu melaju seakan beradu cepat dengan kereta listrik yang meluncur di atas rel samping kanan jalan. Kompleks perumahan Permata Hijau terhampar di depan. Tapi dia belokkan mobil ke kiri. Sedangkan kereta berjalan lurus.

Dia lewati sebuah masjid yang ada di pojok kiri tikungan itu. Kompleks gedung Pusat Diklat Pertamina. Kompleks perumahan Simprug. Dia harus balik arah. Ke sebuah apartemen di Permata Hijau.

“BERAPA usiamu, Mul?” tanya ibunda kepada pria itu suatu kali.

Dia tahu, sang ibu tak mau mendengar jawaban angka tiga puluh dua. Dia benar-benar tahu. Ibu hanya mengingatkannya, usianya makin merambat. Dan belum ada calon pendamping yang dia “pamerkan” kepada wanita tua itu.

“Kamu terlalu ngebet mengejar karir. Lupa mengejar jodoh.”

“Sabar yah Bu. Kalau jodoh tak lari ke mana.”

“Tiap kali jawabanmu selalu itu. Jangan kayak kakakmu dong.”

Yah, dia memang terlalu asyik mengejar cita. Sehingga membengkelaikan urusan cinta.

Baginya, urusan wanita bakal lebih gampang jika dia sudah mapan. Sebenarnya dia suka banyak wanita. Tapi dia nikmati gelora rasa itu hanya dalam dada. Tak pernah dia ungkapkan kepada yang bersangkutan. Datang dan pergi begitu saja. Dia merasa masih terlalu banyak mimpi yang harus dikejar. Karirnya tergolong cepat. Sudah berapa senior dia salip. Kini dia termasuk manajer muda yang patut diperhitungkan. Kinerjanya beres. Cemerlang.

Pundi-pundi rezeki tak henti menggembung. Fulus selalu mengalir. Dia wujudkan hasil jerih payahnya dengan sebuah rumah. Dia berangkatkan haji Ibu. Perjalanan ke kantor yang awalnya pakai bus kota, lambat laun jadi roda dua, hingga Jazz merah menyala itu. Hasil kerja kerasnya selama hampir satu dasawarsa.

Dia ingin sesukses kakaknya. Dan hendak membahagiakan ibunya yang sudah ditinggal sang ayah yang telah lama menghadap Illahi. Namun kebahagiaan rupanya tak selalu harta dan materi. “Aku mengidamkan seorang cucu, nak,” suara sang ibu lirih mengusik telinganya.

NAAHHHAAA—haaa… dan kuakui tan-pa kemunafikan ku ciiinnn—ta… kau… bahwasannya keakuanku bersumpah aku cinnn—ta kau…

Tujuan makin mendekat. Lampu merah itu. Jelang gedung ITC. Sebentar lagi harus belok kiri. Ke sebuah apartemen. “Patricia…” desis pria itu. Ini pertama kali dia bertandang ke rumah seorang gadis. Bisa kamu bayangkan tingkah pria kantoran (dan rumahan), sudah terlanjur berumur kepala tiga, memulai apel pertama.

Dia lirik lewat spion atas, sebuket mawar merah di kursi belakang. Merekah segar.

Jemarinya mengetuk setir menuruti irama.

“HALO… selamat pagi…”

“Selamat siang…”

“Yah, selamat siang. Ini benar ekstensinya Ibu Patricia?” tutur pria itu sambil melirik jam dinding kantornya. Pukul sebelas.

“Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya pengen apply kredit buat beli mobil.”

“Maaf, saya di corporate banking. Silakan hubungi bagian consumer banking Pak.”

“Saya tahu. Tapi saya hanya kenal Ibu Patricia.”

“Maksud Bapak?”

“Saya pengen ada bisnis dengan Ibu Patricia.”

“…” di seberang tak ada jawaban.

“Saya harus menyelesaikan urusan karena insiden lift kemarin.”

“Hahaha… ngaco!”

“Ada waktu buat lunch?”

“Haha… ngaco, ngaco. Bener-bener ngaco.”

“Saya serius Bu.”

“Oke. Nanti. Waktu lunch. Di kafe basement.”

Dia terkikik tiap kali mengingat bagaimana caranya berkenalan dengan wanita incarannya itu. Bagaimana waktu demi waktu momen demi momen jadi cair. Bagaimana panggilan “Anda” lumer jadi “Pat”. Atau “Trice”. Bagaimana suasana formal berubah jadi informal. Bagaimana lamat-lamat dia dapatkan alamat kediaman gadis idaman itu.

Masa-masa itu berlalu, hingga kini mengantarkannya melaju menuju alamat yang sudah digenggamnya itu.

“Mainlah ke rumahku. Aku tunggu.”

“Wokeh… see you on Saturday,” dengan gempita dia sambut ajakan itu. Langkah demi langkah sudah terlewati. Inikah tahap yang lebih serius? Tak boleh henti sampai di sini. Terbayang, senyum hangat sang ibu menyambut si mantu.

DAN kuakui tan-pa kemunafikan ku cinnn—ta kau… Bahwasannya aku bersuuummmpahhh… aku cinnn—ta kau…

Iwan berteriak lantang. Menggelegar. Parau. Nada makin meninggi.

Tinggal sepelemparan batu lagi. Dia hentikan mobil itu. Sebelum masuk ke halaman depan apartemen itu. Dia menghela napas. Usaha untuk menenangkan diri. Dia rapikan kemeja. Dia sisir rambut yang sudah hitam mengkilap berminyak.

Jari tangan sudah menyentuh gagang pintu, dia urung.

Dia lihat seorang wanita. Usianya sebaya dengannya. Senyumnya sempurna. Terlalu sempurna. Begitu ceria. Wanita itu berjalan mesra menggandeng seorang lelaki. Seorang anak perempuan berlari menubruk mereka. Lelaki itu mengangkat tinggi anak itu. Si wanita tertawa lepas. Nampaknya mereka siap berbelanja.

“Patricia…” pria dalam mobil yang berhenti itu hanya lirih berkata sembari melihat sepenggal adegan keluarga bahagia itu. Kepalanya tiba-tiba pening. Dia pejamkan mata sejenak. Mereka tak pudar menghilang. Yah, ini bukan mimpi. Ini memang nyata.

“Hei, rupanya engkau terlalu cepat jatuh cinta. Tuk kesekian kalinya,” hati kecilnya menertawakan diri sendiri.

Dilihatnya sebuket kembang mawar itu. Kini tampak layu.

Iwan masih coba menghiburnya. Namun sia-sia. Suaranya berulang-ulang dan makin sayup.

Dan ku akui tanpa kemunafikan. Ku cinta kau. Bahwasannya keakuanku bersumpah. Ku cinta kau. Dan ku akui tanpa kemunafikan. Ku cinta kau. Bahwasannya keakuanku bersumpah. Ku cinta kau. Dan ku akui tanpa kemunafikan.

Dan seterusnya…

*Yang Tersendiri adalah sebuah judul tembang lama Iwan Fals.

One response to “Yang Tersendiri* (Kisah Sebuah Lagu)

  1. “Baruuu kusadariii cintakuuu bertepuuuk sebelah tangaaaaan!!
    Kau buat remuk seluruh hatikuuuuu!!…”

    Dewa – Pupus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s