Jejak Terakhir

Sekembali dari rumah sakit, kondisi Budhe tak kunjung membaik. Gula dalam darahnya makin mendidih ganas. Jumat, 12 September lalu, adalah hari terakhirnya di dunia ini. Sama halnya ayahku, Budhe meninggalkan kami dalam naungan bulan suci –Ramadan.

Mereka lima bersaudara. Budhe anak ketiga, ayah anak bungsu. Kakak sulung adalah Pakdhe Ruslan –sudah almarhum. Saudara kedua aku tak tahu, mungkin tinggal di Semarang –pun sudah tiada. Saudara keempat adalah Pakdhe Kus. Dhe Kus meninggal pada usia muda, belum menikah. Bahkan dia disalip oleh ayah yang menikah duluan.

Tanggal 3 Oktober 2007, Rabu pagi. Aku dan kakak terima telepon dari Pati. Bapak tiada. Semalaman, Selasa itu, aku tak tenang. Rapat di organisasiku, Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, di sebuah rumah pada Kompleks BIER, Pancoran, aku lalui tanpa serius menyimak. Aku malah melalap artikel edisi khusus Majalah Tempo yang mengulas sepak terjang tokoh Partai Komunis Indonesia, Aidit. Kover majalah merah. Aku baca soal detik-detik pelarian, penangkapan, dan eksekusi Aidit. Tanpa prasangka apapun malam itu, meski benakku berkecamuk kayak ada yang tak beres. Larut malam, mata tak bisa terpejam, hingga azan subuh berkumandang. Usai salat baru aku bisa tertidur, hingga terbangu oleh kabar tak terduga itu pada pukul delapan.

Kami pulang hari itu juga, tiba pada siang jelang sore, Budhe sudah bersimpuh di depan jenazah ayah. Kini dia orang terakhir dari lima bersaudara itu.

Budhe punya seorang anak, Mbak Tini, yang meninggal pada Januari 2007. Ayah pergi ke Jepara. Waktu aku liputan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, 22 Januari sore itu, masuklah sms dalam hapeku. Pesan singkat yang bikin hariku muram, tak semangat bekerja. Dari nomor Bapak, +6281805904440 –tentu saja nomor itu sudah hangus, tapi pesan itu masih kusimpan. Dia tulis pakai capslock, karena Bapak tak mahir mengoperasikan telepon genggam. “MBAK TINI MENINGGAL DUNIA HARI INI JAM 14.30”.

Aku pikir Budhe sangat sayang pada ayah. Kesukaan Bapak adalah kopi. Tiap kali bertandang ke rumahnya di Jepara –asal mereka Jepara, ayah minta kopi. “Gawekno kopi, Mbak.” Buatkan kopi, Kak. Dan Budhe sendiri yang merebus air, menuangkan sendiri ke dalam gelas, dan menyampaikannya sendiri kepada Bapak.

Aku teringat adegan, yang mana Budhe selalu membuntuti Bapak tiap kali dia harus pulang ke Pati –kota asalku. Bapak keluar lingkungan kampung, ke alun-alun pada fajar hari. Mencegat bus yang ngetem di jantung kota itu. Yah, jalan kaki karena rumah Budhe sangat dekat, di belakang kantor kabupaten.

Di depan Bapak melangkah, di belakang Budhe menguntit. Hingga langkah Budhe terhenti di mulut gang kampung, melepas langkah Bapak ke alun-alun.

Jumat pagi, 12 September, pukul delapan, Budhe selalu menyebut-nyebut nama adiknya itu –nama ayahku– hingga jelang napas terakhirnya. Mereka pergi, berurutan selama rentang setahun ini, dua Ramadan berturut-turut.

Aku masih teringat ketika menjenguknya di rumah sakit, awal Ramadan lalu. Budhe berpesan, “Aku ra isa teka ning Pati, mendhak pisane bapakmu.” Aku tak bisa datang ke Pati, pada peringatan setahun meninggalnya ayahmu.

Tak mengapa. Kini mereka sudah berkumpul di alam lain dalam damai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s