Akhirnya Aku Tuntaskan “In Cold Blood”

Rasa penasaran itu usai sudah. Aku baca juga buku yang bikin aku ketar-ketir menunggu-nunggu kapan bisa memilikinya.

Aku cari-cari di Gramedia, beberapa bulan lalu, kosong. Harga Rp55.000. Bentang, sebagai penerbit, menarik sejumlah bukunya, termasuk “In Cold Blood”. Bentang tergabung dalam grup distribusi Mizan. Kata seorang petugas Gramedia, Mizan hendak menaikkan harga.

Benar saja, aku beli buku itu Rp63.500.

In Cold Blood adalah karya Truman Capote, jurnalis majalah jurnalisme sastrawi The New Yorker. Ia bercerita soal pembantaian empat anggota keluarga Clutter. Si ayah, Herbert, istrinya, Bonnie, serta dua anaknya, Nancy dan Kenyon. Dua anak perempuan pertama, luput jadi korban karena sudah tak tinggal di rumah itu.

Para korban ditembak dalam jarak dekat, tepat di kepala. Yang nampak paling menderita adalah Herb, yang digorok lebih dulu lehernya dengan pisau belati. Keempatnya tak pernah sempat menikmati malam Thanksgiving yang hangat. Kejadian itu pada November 1959.

Herb Clutter adalah petani gandung terkemuka di Holcomb, Kansas. Kaya, meski bukan yang terkaya. Para pembunuh, Dick Hickock dan Perry Smith, awalnya hendak merampoknya. Ironis, mereka hanya memperoleh tak lebih dari 42 dolar. Satu nyawa untuk 10 dolar?

Ini memang gila.

Capote begitu lihai mengungkap dan menyingkap motif pembunuhan, sisi kelam si pelaku, hingga menyentak kita, siapa sebenarnya yang jadi korban? Perry Smith, sejak kecil memiliki pengalaman traumatik. Orang tua yang bercerai, dua kakak –dia anak bungsu dari empat bersaudara– mati. Jimmy, kakak sulungnya, bunuh diri menembak kepalanya sendiri, setelah mendapati istrinya bunuh diri dengan cara yang sama. Fern, kakak kedua, seorang perempuan, mabuk dan terjun –entah sengaja bunuh diri atau karena terpeleset– dari lantai atas. Hanya kakak ketiganya, Barbara, yang dia akrab panggil Bobo, yang selamat. Saking trauma, Bobo tak mau diketahui alamatnya oleh Perry. Ironis, Bobo masih menyimpan foto masa kecil ketika mereka mesra, mandi di danau bersama, berpelukan, saling menempelkan kedua pipi dengan senyum riang. Selain tercerai-berainya simpul keluarga, Perry mengalami penyiksaan dari petugas panti asuhan waktu kecilnya.

Dick? Setali tiga uang. Kawin-cerai sebanyak tiga kali, jalan hidup yang keras.

Jika Anda seorang psikolog, psikiatri, atau mahasiswa bidang psikologi, rasanya tak muluk jika saya merekomendasi buku ini sebagai bacaan wajib. Ini bukanlah cerita fiksi. Ini hasil reportase panjang dan hampir sempurna.

Ada beberapa bagian yang diragukan verifikasi kebenarannya. Yakni adegan percakapan antara Nancy dan Kenyon soal kebiasaan mereka merokok diam-diam. Lantas ayah mereka, Herb, menimbrung dengan menepuk tangan. Bagaimana Capote tahu adegan-per-adegan itu? Wawancara siapa, sementara ketiganya keesokan harinya terbunuh tanpa saksi mata?

Meski demikian, In Cold Blood tetap berdiri sebagai karya jurnalistik terbaik sepanjang masa. Hanya kalah dari Hiroshima-nya John Hersey. Hersey juga menulis Hiroshima untuk The New Yorker pada 1946. Kedua naskah itu, disunting oleh orang yang sama, William Shawn.

Truman Capote di sini bisa intens menggali segala informasi dari berbagai narasumber. Termasuk, dia diperbolehkan memasuki sel kedua pelaku itu. Capote tak menulis dengan gaya “aku”. Tak pernah muncul tokoh “saya” atau “I”. Pada bagian bab keempat –bab terakhir, The Corner, dia menulis penuturan Dick kepada seorang jurnalis yang diperbolehkan masuk sel. Menurutku, jurnalis itu adalah Capote sendiri.

Kasus ini berlarut-larut, Dick meminta bantuan kalangan organisasi profesi advokat, untuk meninjau ulang kasus ini dan menggelar sidang ulang. Belum lagi proses banding dan kasasi. Waktu mulur, hingga mereka tetap diputuskan untuk dieksekusi di tiang gantungan pada 1965.

Walhasil, Capote butuh waktu enam tahun untuk menulisnya.

Capote begitu detil menggambarkan. Aku suka gaya penulisannya. Dia biarkan para narasumber “mengoceh”. Yah. Dia suka kutipan-kutipan panjang, membiarkan para narasumber bercerita sesuai versi dan ingatan mereka sendiri. Ajaibnya, Capote mengaku, selama reportase, tak pernah membawa buku catatan. Dia punya ingatan yang kuat.

Kisah Capote ini hingga menginspirasi pembuatan film. Dua film layar lebar terakhir adalah Capote (2005), dan Infamous (2006). Keduanya sudah aku tonton. Aku lebih suka film yang pertama. Philip Seymour Hoffman menyabet Oscar karena peran Capote.

Dua film itu punya bagian cerita yang berbeda. Capote mengisahkan Perry mengeksekusi keempat korban. Sedangkan dalam Infamous, setelah mengeksekusi ayah dan anak laki-laki (Herb dan Kenyon), Perry yang dilakoni oleh Si James Bond baru Daniel Craig, menyerahkan senapan itu kepada Dick. Sisanya, dua perempuan ibu dan anak, Dick yang menyelesaikan.

Yang mana yang benar? Yang paling tahu adalah Perry dan Dick sendiri, yang nasibnya telah habis di tiang gantungan empat puluh tiga tahun lalu. Dalam berkas pengakuan, Perry menyatakan bahwa dia hanya bunuh dua korban –laki-laki. Dua lainnya oleh Dick. Sedangkan Dick mengaku lain. Keempatnya oleh Perry.

Para pengajar kursus jurnalisme sastrawi –aku ikut pada Juni lalu sebagai angkatan kelima belas, Andreas Harsono dan Janet E Steele, merekalah yang “memprovokasi” aku supaya membaca karya ini. Dan, Anda bakal menyesal jika belum membacanya. Penjiwaan Anda akan makin merasuk setelah menonton dua film apik itu. Aku jamin.

2 responses to “Akhirnya Aku Tuntaskan “In Cold Blood”

  1. Saya sudah beli dari tahun lalu, tapi mau baca kesalip buku-buku yang lebih baru dan lebih tipis hehehe. Wah, aslinya Kaborongan ya Pak… suami saya juga.

  2. Mbak Leila,
    Salam kenal juga. Saya sarankan Mbak Leila segera merampungkan buku itu, seru banget. Dan spesialnya, ini kisah nyata. Segala kutipan tokoh-tokoh di dalamnya adalah dari hasil wawancara. Orang banyak menulis novel fiksi, atau setidaknya menulis novel fiksionalisasi dari kisah nyata, atau mengaku-aku kisah nyata beneran.

    Tapi, karya jurnalistik narasi, yang kebanyakan panjang dan harus memikat tulisannya, dituntut kejujuran dari si penulis. Segala adegan, plot, dialog, kutipan, peristiwa, dan sebagainya, memang harus benar-benar nyata. Tak setitik pun ada ruang bagi fiksi atau karangan di sini.

    Btw, selain In Cold Blood, saya juga suka Pencuri Anggrek (Orchid Thief) karya Susan Orlean.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s