Bocah Pembunuh Ayam

Oleh Yacob Yahya

(1.833 kata)

Sudahkah menyadari, hari ini anak Anda mengalami peristiwa apa?

MURJAYANTI RABU PAGI ITU BERSEMANGAT MENYONGSONG RUMAH KOSKU. Kekasih saya itu berjalan setengah berlari ke arah timur dari rumah kosnya. Dia hendak bermain game komputer, Chuzzle Deluxe.

Game ini keluaran produsen permainan komputer, AnGo. Chuzzle mungkin akronim dari chubby-puzzle. Yah, bola-bola berbulu enam macam warna yang punya mata. Bentuknya memang menggemaskan, cempluk alias chubby. Anda harus mengelompokkan bola-bola itu sesuai warnanya. Minimal tiga bola harus Anda gerombolkan, mereka akan meletus, dan nilai Anda bakal bertambah.

Selain main game, Mur ingin mendengarkan koleksi lagu lawas dari program Winamp.

Langkah riang Mur tercekat. Seketika berhenti. Dia lihat seorang bocah cowok terjongkok. Anak itu berkulit putih bersih, cakep. Rambutnya ikal agak kasar. Dia berseragam sekolah dasar. Dia sesenggukan menangis, menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan dua tangannya. Bagai kura-kura menyembunyikan kepalanya di balik tempurung. Cuma bahunya yang naik turun terguncang-guncang kecil lantaran terisak.

Dia berada di luar kompleks sekolah dasar. Di depan rumah kos lainnya, rumah nomor 3B. Di sekelilingnya ada segerombol anak sekolah dasar lainnya. Mungkin teman sekelasnya. “Aku hitung ada lima belas anak, cowok semua,” ujar Mur padaku.

GEDUNG SEKOLAH TERSEBUT ADALAH SD NEGERI CATURTUNGGAL 6. Ia berdiri di Dusun Janti Desa Caturtunggal Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Provinsi Yogyakarta. Lokasi yang sempurna untuk sebuah sekolah, di tengah perumahan –kebanyakan jadi rumah kos mahasiswa– yang tak begitu riuh. Yah, suasana memang benar-benar sepi-tenang, persis di sebelah selatan gedung itu adalah pekuburan kampung. Sebelah selatan pemakaman adalah gedung sebuah taman kanak-kanak.

Gedung sekolah dasar itu menghadap ke timur, tepat mengarah rumah kosku.

Aku tinggal di sini sejak Senin, 28 Juli lalu. Rumah kosku bernomor 4. Kami tinggal di Gang Pinus. Aku menghuni sayap utara, yang terdiri dari lima kamar. Tiga kamar terisi, dua lainnya masih kosong. Kami berada di lantai dua.

Pada sayap selatan, terdapat tiga kamar. Satu di lantai dasar dan dua di tingkat atas. Terisi semua. Selatan rumah ini terdapat halaman yang luas. Ada pohon jambu biji, pohon mangga, dan rupa-rupa tanaman pagar. Halaman ini menyambung latar depan rumah, membentuk huruf “L”. Halaman depan itu ditumbuhi pohon mangga dan rambutan. Tepat di depan jendela kamarku.

Anak-anak sekolah tiap jam istirahat menyerbu pekarangan luas ini –selain bermain pada halaman rumah warga lainnya.

Di belakang gedung –sebelah barat, terhampar lapangan sepak bola. Rumputnya kering kuning pucat. Kebanyakan gundul, menyisakan tanah yang menerbangkan debu pada terik siang yang berangin sepoi. Lapangan ini digunakan warga sekitar untuk berlatih kulit bundar tiap sore. Pula dipakai oleh orang-orang yang belajar menyetir mobil –jika tak ada yang bermain bola.

Agustus lalu, warga menggelar rupa-rupa lomba di sini, memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh tiap tanggal 17. Ritual tahunan.

Sewaktu gempa hebat mengguncang Yogya tahun lalu, lapangan ini bagai pasar dadakan, dipadati warga yang panik menyelamatkan diri. Termasuk Mur. Siang-malam, warga berkumpul di tanah lapang itu. Kini kondisi sudah normal.

Pagi atau jelang siang pada hari-hari biasa? Giliran bocah-bocah SD itu yang menguasai sepetak tanah 80×100 meter persegi itu. Curi-curi waktu di sela jam pelajaran kosong karena kelas ditinggalkan guru, atau tatkala jam istirahat pada pukul sembilan. Tak peduli, entah berseragam sekolah atau memakai pakaian olah raga. Aku tak dapat membayangkan bagaimana reaksi para guru mengajar mereka yang masuk kelas dengan pakaian yang lusuh berdebu bercampur keringat yang lekat dan lengket. Jadi guru aku kira perlu kesabaran ekstra.

Mur indekos di rumah nomor 4F. Tepat sebelah utara lapangan bola itu.

Dalam kompleks gedung sekolah itu, pada sudut timur laut, terdapat rumah kecil. Rumah itu ditempati oleh keluarga penjaga sekolah. Mereka punya beberapa tanaman hias, termasuk anggrek ungu. Aku bisa melihatnya dari lantai dua kamar kos.

Di sebelah barat rumah penjaga sekolah, ada musala kecil yang belum rampung pembangunannya. Lantainya masih tanah, belum berubin, dan baru dilapisi karpet gulung. Kendati demikian, musala itu sudah berfungsi, kami pakai untuk salat tarawih dan subuh pada bulan puasa ini.

PAGI HARI HINGGA SIANG ADALAH KECERIAAN. Teriakan anak-anak yang bersamaan, “Selamat pagi Bu Guruuu…” bagai paduan suara, koor yang sempurna. Begitu merdu.

Jelang masuk kelas, jam istirahat, maupun waktu pulang adalah kegaduhan yang asyik. Bocah-bocah berlarian, berangkulan dengan kawan. Ngobrol apa saja, atau bercengkrama. Sedangkan orang tua atau wali mereka sudah ngantre menunggu, siap menjemput mereka, duduk-duduk di teras rumah kosku.

Penjual jajanan tak kalah senangnya.

Anak-anak selalu gemar makanan kecil. Satu ketika aku lihat seorang penjual sosis kewalahan melayani serbuan anak-anak itu. Ada menu sosis gulung dadar, sosis lapis mie, sosis ayam maupun sapi, tempura dari ikan, nugget, kaki naga –daging giling berlapis tepung panir berbentuk seperti paha ayam kecil, di tengahnya ada kayu buat pegangan tangan, dan sebagainya.

Sepotong harganya lima ratus rupiah. Pria penjaja sosis itu kulakan sebungkus Rp9.000 hingga Rp13.500 –tergantung jenis sosisnya. Satu bungkus berisi lima puluh potong. Silakan hitung sendiri laba tiap bungkus. Lebih dari Rp11.500! “Meski kecil, menguntungkan loh,” tutur pedagang itu padaku, suatu ketika pada bulan lalu.

Melihat mereka mengganyang penganan itu, aku jadi… ikut-ikutan borong sosis.

Tapi aku segera teringat, mungkin bulan puasa ini si penjual jajan juga perlu “puasa” menjajakan dagangannya. Selama September ini, aku tak melihat dia nongol di depan halaman sekolah.

Aku makin gemas melihat tingkah polah anak-anak. Ada sedikit rasa kagum. Satu di antara mereka, adalah anak dari orang tua asal Papua. Dia cewek. Rambutnya ikal, berkulit gelap. Bocah itu membaur dengan mereka yang umumnya anak “asli” lokal. Anak Papua itu sudah lanyah berbahasa Jawa. Mungkin karena sudah lama tinggal di sini.

Satu kali pada siang hari bocah hitam manis itu membawa seruas tebu. Dia angkut di atas keranjang depan sepeda mini. Dia patah-patahkan batang tebu itu jadi beberapa potongan. Dia bagi-bagikan kepada teman lainnya.

Anak seusia mereka yang masih belia rasanya tak perlu pusing mengunyah konsepsi Bhinneka Tunggal Ika yang rumit, abstrak, dan terlalu akademik, bahkan terkadang cenderung politis. Mereka sudah mahir membahasakannya sendiri dalam atmosfer dunia anak-anak yang lugu dan ceria.

NAMUN DUNIA ANAK TETAPLAH DIMENSI YANG RENTAN DUS RAPUH. Contoh itu kini terhampar di depan mata Mur. Dia saksikan anak cowok itu gemetar menangis, tersedu-sedan. Tangisnya bukan macam rengekan cengeng yang mengumbar teriak. Dia terisak dalam diam.

“Kenapa Dik?” tanya Mur bersimpati.

“Takut… saya takut…”

“Takut kenapa?”

“Dia bunuh ayam. Laporkan saja,” celetuk salah satu anak yang berkerumun.

“Iya-iya. Laporkan saja pada pemilik ayamnya,” sahut yang lain.

“Saya gak sengaja…”

“Bohong. Dia pengen kejar ayam itu. Dia mau tangkap ayam itu. Dia gencet ayam itu. Tuh, matanya sampai keluar,” yang lain makin kalap berteriak.

Risiko maling ayam saja bisa berabe diamuk massa, apalagi kalau membunuh milik orang.

“Tapi gak sengaja. Saya jatuh terpeleset waktu lari tadi,” ujar bocah itu memperlihatkan tapak tangannya yang berdebu dan belepotan darah –darah ayam. Tangannya yang jadi tumpuan berat badan sewaktu jatuh, menindih ayam kecil itu yang kebetulan di sampingnya.

Mur takjub. Di tengah kecamuk hati, bocah itu bisa runtut bertutur. Dia elus rambut kepala anak itu. “Yah sudah kalau gak sengaja gak apa-apa. Nanti lapor ke Pak Guru yah,” ajak Mur.

Teman-teman dia yang perempuan tertarik. Mereka mendekatinya, juga ikut-ikutan Mur mengelus kepalanya. “Udah gak pa-pa.”

Mur memeluk pundak anak itu dan mengantarnya kepada seorang guru.

“Yah sudah, kalau gak sengaja gak pa-pa. Nanti ayamnya dikubur yah,” tutur Pak Guru halus sambil tersenyum.

Kejadian yang “good ending” –yang jelas bukan happy ending– ini bikin gerombolan anak cowok itu tidak oke. Mereka masih masygul. Mereka mengayunkan tangan kayak melempar sesuatu ke arah Mur. Tangan mereka yang basah membuat butir-butir air menciprat muka dan kaos Mur. “Wuuu, dia sengaja bunuh ayam kok.”

Itu ayam kecil. Anak ayam, tapi tak kecil-kecil amat.

AKU TERINGAT KEJADIAN SERUPA SEWAKTU AKU SEKOLAH DASAR. Anak-anak kadang, lebih sering malah, perlu anak lain yang jadi korban olok-olok. Yah, itulah bullying. Mereka puas kalau ada anak yang menderita, jadi korban perbuatan mereka berjamaah –beramai-ramai.

Bully juga bisa dilakukan oleh seorang pribadi. Itu jika dia merasa jauh lebih kuat daripada korbannya.

Perbuatan adiktif ini bikin si pelaku ketagihan. Seolah mereka tak perlu menemukan alasan kuat untuk melakukannya. Kapan pun mereka pengen, yah lakukanlah.

Aku pernah dilaporkan teman sekolah –waktu itu aku kelas dua– gara-gara memetik dua butir rambutan di toko buah. Waktu itu aku hanya pengen makan rambutan yang manis. Guruku, Bapak Santrimo, cuma tersenyum menasihatiku. “Di dalam perutmu nanti ada setan. Jangan diulangi lagi yah.”

Aku tak takut akan amukan guru. Aku tak pernah takut. Aku pendiam namun sebenarnya memendam rasa keras hati. Aku lihat anak-anak pelapor itu, yang mengharapkan hukuman lebih berat, memasang muka tak puas melihat aku hanya “diganjar” guyuran petuah.

Aku merasa mereka sedang berusaha “membunuh” jiwa saya.

Mendengar cerita Mur barusan, aku harus menata ulang otakku supaya jernih mencerna. Ada sekumpulan anak menuduh seorang bocah membunuh seekor ayam. Sebenarnya, siapa “si pembunuh”?

MUR MASIH MENEMANI ANAK ITU KELUAR HALAMAN SEKOLAH. Yang lainnya sudah menghambur pulang.

“Di kelas ranking berapa?” Mur memantik percakapan, coba mengakhiri situasi “sama-sama diam”.

“Gak dapat ranking. Gak naik kelas sekali.”

“Kenapa? Gak pernah dibimbing belajar?”

“Saya gak ikut ujian.”

“Mau Kakak ajari?”

“Kalau belajar sih mau. Selama ini ikut les,” tuturnya lirih.

“Lain kali cari teman yang baik yah. Jangan main lagi sama mereka.”

Si kecil mengangguk.

Pukul sepuluh pagi, suasana sekolah makin sepi. Ditimpa sinar mentari yang makin mendidih, gedung itu berdiri dingin. Senyap.

* * *

Catatan penulis:
Kali ini saya memutuskan menulis apa adanya. Tanpa perlu saya bikin fiksionalisasi. Beberapa kali dalam blog ini saya menulis cerita fiksi –yang diambil dari peristiwa nyata. Ada beberapa alasan saya terpaksa meramu tulisan jadi kisah karangan. Sebagian besar lantaran verifikasi (dan wawancara) pada beberapa sumber pelaku kejadian yang terbatas.

Kali ini saya memutuskan lain. Saya tulis saja jadi kisah nyata. Tepatnya, peristiwa yang dialami oleh Mur. Kejadian ini benar adanya. Meski demikian, ada beberapa bagian yang mengalami dramatisasi. Karena tujuan saya bukan untuk membual alias melempar kisah ngarang, saya yakin Anda –para pembaca– dapat menerimanya.

Para peneliti menyangsikan beberapa bagian cerita “In Cold Blood” karya Truman Capote, si penulis andal kisah panjang nonfiksi, adalah benar apa adanya. Namun, lantaran kita sepakat Capote tidak ingin dan tak pernah bertujuan berbohong, para pakar memakluminya. Walhasil, “In Cold Blood” yang butuh waktu penyelesaian enam tahun itu tetap jadi karya jurnalistik yang legendaris. Sekali lagi, karya jurnalistik yang berpijak pada fakta dan kebenaran.

Tujuan saya kali ini sederhana. Tulisan ini tak muluk dan saya sadar, ini remeh semata. Pun demikian, saya berharap usai membacanya, semoga kita meluangkan waktu barang sejenak –mulai kini– guna memikirkan betapa hebatnya dampak bullying.

Saya geram tiap kali lihat sinetron. Sinema layar kaca kita sebagian besar mengabaikan muatan moral. Dunia seakan sederhana, yang jahat bermuka bengis –cantik-imut kok keji. Sedangkan yang baik awalnya sengsara dan akhirnya bahagia. Penderitaan “si baik” itu makin menjadi-jadi lantaran siksaan dan kekejaman “si jahat”. Banyak adegan anak kecil mengumpat. Sungguh tak masuk akal dan melecehkan akal sehat.

Celakanya, televisi merupakan konsumsi utama warga kita.

Lingkungan serta pendidikan pada usia dini, bagi saya –dan Mur yang mahasiswa jurusan psikologi, merupakan fondasi penting bagi anak-anak, sebelum memasuki jenjang edukasi yang lebih tinggi. Segala etika, etiket, kepercayaan dan keyakinan, tatalaku, serta pola pikir anak-anak sangat ditentukan oleh pola dan metode pendidikan serta sebagian besar lantaran perlakuan orang-orang sekitar.

Stop bullying and make our environment comfort and better.

Salam hangat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s