Kisah Rumah Sakit

Sebuah cerita fiksi oleh Yacob Yahya

(4.693 kata)

Apa arti pengabdian?

CAIRAN INFUS ITU MENETES LAMBAT. Satu butir air jatuh tiap lima detik. Sebotol plastik ukuran setengah liter, cairan bening itu habis dalam delapan jam. Sekantong cairan mengandung sodium klorida, potasium klorida, kalsium klorida, 2H2O, serta sodium laktat.

Cairan infus itu menetes lambat. Mengguyur pembuluh darah Samiyatun yang berusia 59 tahun. Sejak Jumat lalu dia tergolek lemas di atas dipan rumah sakit ini. Tak mampu bergerak. Kini sudah hari Selasa. Hari berjalan serasa lamban. Selambat cairan infus yang menetes itu.

Cairan infus itu menetes lambat. Tak terasa menyusup ke aliran darah. Tak kasat mata laksana penyakit kencing manis alias diabetes mellitus yang bersarang di tubuh Budhe Atun -aku memanggilnya, menggerogoti raganya. Waktu demi waktu, tak terduga, kakak ayahku itu menimbun gula dalam darahnya.

Cairan infus itu menetes lambat. Seperti betapa lamanya menyembuhkan penyakit itu. Sedangkan tindakan medis hanyalah awal dari proses penyembuhan itu sendiri. Aku tak dapat membayangkan beban yang bakal ditanggung Budhe Atun. Dia perlu sabar, aku kira. Dia tak sekadar memerlukan kesabaran, aku rasa.

“BAGAIMANA BAIKNYA? KELUAR SAJA? Seminggu lagi berarti nambah lima juta lagi,” tanya Sri Harini, anak sulung Budhe Atun, kepadaku untuk meminta pertimbangan.

Aku baru saja tiba Selasa siang itu di rumah sakit umum kota Jarak itu. Perjalanan tiga jam pada bulan puasa yang terik. Rasa lelah belum hilang, aku sudah disodori soalan itu. Padahal tujuanku hanyalah menyerahkan sejumlah uang dari keluargaku di Kanji untuk bantu bayar sebagian biaya rumah sakit. Tak kurang dan tak lebih. Aku tak menyangka bakal terlibat lebih jauh dalam masalah ini.

Aku baru saja datang dari kota asalku, Kanji. Untuk pergi ke Jarak, butuh ngangkot kendaraan tiga kali. Pertama, naik bus yang ke arah kota Kadas. Satu jam. Kedua, nyambung angkutan kota yang ke sub-terminal Jitak. Setengah jam. Ketiga, dari Jitak, ke Jarak. Satu jam. Plus-plus waktu ngetem yang menguras kesabaran, tiga jam aku habiskan di jalan. Penat sudah pasti.

Budhe Atun pulas tertidur di atas dipan. Mukanya lesi. Badannya gembur, 80-an kilogram.

Tangan kirinya dibebat perban pada bagian pergelangan. Cairan merah iodium merembes keluar hingga membasahi perlak -alas kasur dari bahan karet, biasanya untuk melapisi sprei agar tak kena cairan macam ompol bayi. Kulihat jemarinya membengkak. Satu, dua, tiga, empat. Yah. Mataku tak salah. Hanya empat.

Punggung tapak tangan kanannya tertusuk jarum infus. Pun dibebat perban.

Ibu jari kaki kanannya juga terbungkus kassa putih. Luka masih basah.

“Kalau saja ada Lek Yanto, beliau pasti bisa memberi saran,” sambung Mbak Rini, begitu aku panggil kakak sepupuku itu. Lek Yanto adalah ayahku. Dia banyak dimintai saran maupun nasihat oleh para keponakannya.

Aku terdiam sejenak. Berpikir.

Aku lihat Budhe Atun. Setahun lalu, ketika ayah meninggal, Budhe masih sehat. Dia sempat menginap di rumah kami selama sepekan. Beliau turut pengajian selama tujuh hari melepas kepergian adiknya. Dia sangat terpukul. Jelang penguburan jenazah, dia hanya bisa duduk terdiam di depan jasad ayah yang masih terbaring di rumah. Ayah adalah satu-satunya saudara yang tersisa. Mereka lima bersaudara. Ayah anak bungsu. Dan Budhe anak ketiga. Kini tinggal Budhe seorang, semua saudara kandungnya sudah mangkat.

SUAMI BUDHE SUDAH LAMA MENINGGAL. Sewaktu aku masih sekolah dasar kelas enam. Kini aku berumur dua puluh enam tahun. Budhe juga terpukul, kehilangan Mbak Tin, anaknya nomor tiga, yang gagal jantung, Januari tahun lalu.

Budhe punya empat anak.

Si sulung Mbak Rini. Dia kini jadi seorang guru sekolah dasar. Dia bersuami Mas Rus, seorang syahbandar. Kota ini memang kota penghasil ikan, ada pantainya. Sekaligus terkenal akan kerajinan ukiran dan furnitur dari kayu jati. Mbak Rini dan Mas Rus dikaruniai seorang putra, Yopi, kini kelas lima sekolah dasar. Mereka tinggal di rumah kompleks sekolah, masih dekat dengan rumah Budhe.

Anak kedua, Mbak Risa. Dia punya suami Mas Nawawi. Mbak Risa bekerja pada sebuah pabrik dan Mas Nawawi pandai bikin perabot dari kayu. Mereka beranak dua. Roki, kelas tiga sekolah dasar, dan Bila yang belum ada setahun. Roki sangat nakal dan suka rame. Makanya dia tak pernah diajak ke rumah sakit.

Mereka tinggal serumah dengan Budhe.

Anak ketiga adalah Mbak Tin. Dia tak banyak keluar rumah dan seringkali menemani ibunya. Tak bekerja, namun setia menemani ibunya -budhe-ku. Segala pekerjaan rumah beres di tangannya. Sapu-sapu, cuci-cuci, dan lainnya. Belum menikah, dia sudah tiada tahun lalu. Jantungnya lemah.

Anak bungsu adalah Mas Anto. Dia kerja jadi manajer perusahaan mebel. Dia beristri Mbak Jujuk. Anak mereka dua, Sisca dan Gilang. Satu perempuan satu cowok. Mereka sudah punya rumah di daerah Mayang, pusat kerajinan mebel. Perlu ngangkot sekali untuk ke rumah Budhe -di Desa Panggung.

Aku sebenarnya jarang bertandang ke Jarak. Aku sedari kecil malas bepergian. Rumah, rumah, dan rumah. Itulah sarangku, kendati liburan panjang sekolah terhampar. Terakhir kali aku ke sana, yah, ketika aku sekolah dasar. Aku rasa tak ada yang asyik. Museum bahari maupun stadion sepak bola tak menghibur bagiku. Padahal kini kota ini punya klub kebanggaan yang berkompetisi pada liga utama.

Yang banyak ke sana adalah ayah, serta kakakku.

Kini aku harus ke kota ini untuk mewakili ibuku yang tak dapat menjenguk. Ibu tensinya tinggi. Sempat menyundul 190/90. Dan itu gara-gara, “ngemil keripik tempe. Asin-asin dikit,” ujar Ibu, Sabtu lalu. Sabtu itu Ibu baru saja mendengar kabar kalau Budhe dilarikan ke rumah sakit.

JUMAT SORE ITU MBAK RINI PANIK. Dia harus buru-buru mengantar ibunya ke Rumah Sakit Umum Daerah RA Ngerteni. Budhe sudah koma tak sadarkan diri. Mukanya pucat. Lemas. Bibirnya sudah memutih. Gula dalam darahnya terlanjur mengamuk.

Ini bukan kali pertama Budhe dirujuk ke rumah sakit itu. Tiga bulan silam dia juga dirawat. Dengan penyakit yang sama. Di rumah sakit yang sama. Lantaran biaya perawatan tak dapat dicegah merangkak, anak-anak sepakat untuk memulangkannya. Waktu itu habis Rp3,6 juta. Dipangkas asuransi kesehatan, biaya tinggal Rp3 juta.

Anak-anak sepakat untuk merawatnya di rumah saja.

“Ada perawat dari rumah sakit itu, teman kecilku, yang bersedia ke rumah merawat budhe-mu,” Mbak Rini bercerita padaku.

Untuk kali kedua, kini, anak-anak menghadapi dilema yang sama. Biaya sudah menyundul angka Rp5,4 juta. Stok dana menipis. “Ini saja sudah hari kelima. Dokter pengen budhe-mu tinggal seminggu lagi. Bisa-bisa sepuluh juta lebih. Gak sangguplah. Lagipula pelayanan di sini gak memuaskan. Masih telaten perawat yang datang ke rumah,” sambung Mbak Rini.

Karena pertimbangan yang sama, soal biaya, lagi-lagi anak-anak sepakat untuk merawatnya di rumah saja.

Aku lihat Budhe masih pulas tertidur.

KAMIS MALAM HARI ITU BUDHE MINTA DURI JERUK. Kulit jari telunjuk kirinya kemasukan benda kecil. Entah duri tulang ikan atau pecahan kayu. Orang Jawa menyebutnya susuben.

Dia habis jalan-jalan. Begitulah ia. Begitu sehat, dia giras beraktivitas. Jalan kaki sendiri. Tanpa perlu ditemani. Padahal tiga bulan lalu terbaring lemas akibat diabetes. “Ibu selalu begitu. Pertama kali dia merasa lemas. Atas saran dokter, dia minum teh manis. Kata dokter, gula sumber energi. Dia lemas kekurangan energi. Eh, tahu-tahunya jadi penyakit gula,” cerita Mas Nawawi.

Celakanya, diabetes itu jenis basah. Kena luka sedikit saja, tanpa perlakuan dengan peralatan steril, bisa berabe. Susuben pada telunjuk kirinya itu berakibat fatal. Lantaran hendak mencabut susuben dengan duri jeruk yang jauh dari steril, Budhe kini harus kehilangan jarinya itu.

“Kata dokter, untung baru satu jari. Tapi kalau kena lagi yang ini,” tutur Mas Nawawi sambil menunjuk jari tengah, “maka yang diambil terpaksa harus yang ini,” sambungnya sambil menunjuk pergelangan tangan.

Jumat, sehari kemudian, Budhe terpaksa diamputasi.

DOKTER RUSMIYADI MENANGANI BUDHE. Dia salah satu dari 18 dokter yang bekerja di ruang kelas satu rumah sakit itu. Rambutnya sudah beruban semua. Pendiriannya keras. “Saya sebenarnya tak mau rekomendasi kepulangan Ibu. Dia harus dirawat total di sini. Kalian ini anak-anaknya kok tidak mau yang terbaik buat orang tua sih? Ini bukan kali pertama ke sini kan? Kalau tak dirawat tuntas yah bakal bolak-balik kemari,” sergah Dokter Rus kepada Mbak Rini dan Mbak Jujuk, Senin lalu.

Mbak Rini hendak menyampaikan niat kepulangan pada hari Rabu. “Sekali masuk ruang bedah saja sudah nambah sejuta. Kami sudah gak sanggup,” ujarnya kepadaku.

“Lagipula perawatan di sini tidak memuaskan. Suster gak telaten. Cuma ganti perban. Kalau dirawat di rumah lebih baik. Perawatnya bersih-bersih luka dengan cermat. Kalau cuma begini yah mending dibawa ke rumah saja.”

Siapa perawat rumahan?

“Teman kecilku sendiri. Wong dia kerja di rumah sakit itu juga kok. Di bagian bedah. Si Setiti,” tutur Mbak Rini.

“Setiti? Dia kan cuma lulusan sekolah keperawatan. Kalau suster yang menangani Ibu sarjana semua. Oke, nanti saya mau bicara sama Setiti,” Dokter Rus makin mencak-mencak.

“Itulah kalau perempuan pasti kalah berdebat. Dokter punya banyak dalih untuk membuat kami berlama-lama di rumah sakit.”

“Anda mengkhawatirkan biaya? Ibu punya kartu askes toh?”

Bibir Mbak Rini dan Mbak Jujuk hanya terkatup.

NAMA RUMAH SAKIT ITU RSUD RA NGERTENI. Ia diambil dari nama pahlawan emansipasi kaum wanita asal kota ini, Raden Ajeng Ngerteni. Ngerteni sendiri artinya mengerti. Mungkin, arti nama itu adalah sebuah harapan, semoga si empunya nama dapat memahami suara hati rakyat. Terbukti, RA Ngerteni, selalu berjuang gigih untuk kesetaraan kesempatan antara kaum putri dan pria dalam hal pendidikan. Waktu itu, pada masa penjajahan Belanda, kaum wanita dinilai tak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Beruntung, raden ajeng itu dari kaum ningrat yang cukup berpendidikan. Dia hendak menularkan kepandaiannya kepada perempuan lainnya. Dia mendirikan sebuah sekolah perempuan. Dia juga berkoresponden dengan sahabatnya, seorang Belanda. Surat-suratnya soal keluh kesah dia akan kondisi masyarakat waktu itu. Tentang minimnya akses pendidikan terhadap kaum perempuan. Kumpulan surat itu jadi sebuah buku apik.

Dengan menengok latar belakang nama itu, harusnya rumah sakit ini mampu menerapkan emansipasi. Tempat bagi yang mampu maupun si miskin. Melayani tanpa membeda-bedakan. Sesuai dengan motto rumah sakit itu sendiri, “Kepuasan Anda Harapan Kami”.

Halaman depan rumah sakit itu menghadap ke barat, depan jalan raya.

Rumah sakit ini terdiri dari kamar ekonomi dan kamar Very Important Person (VIP). Khusus untuk menangani balita dan persalinan ada Ruang Melati. Ruang ini terdiri dari 24 kamar. Ruang standar ekonomi ada Ruang Mawar, Flamboyan, Bougenvile, Teratai, Anyelir, Cempaka, dan Dahlia. Rata-rata tiap ruang terdiri dari sembilan kamar. Satu ruang kelas ekonomi terbelah menjadi dua deretan kamar. Di tengahnya adalah lorong yang besar.

Kelas VIP terdiri dari tiga ruang. Wijaya Kusuma, Nusa Indah, dan Aster. Masing-masing kamar tak perlu dikelompokkan dalam rumah besar kayak kelas ekonomi. Tiap kamar juga hanya diisi oleh satu pasien -kelas ekonomi sekamar bisa “dihuni” dua hingga empat pasien. Total ada enam belas kamar. Tiap kamar seakan berdiri sendiri dalam sebuah deretan.

Wijaya Kusuma yang berbentuk paviliun, yang paling mewah. Tarif sehari Rp150 ribu. Ada empat kamar. Tiap kamar seperti satu rumah tersendiri. Ada kamar mandi dan ruang tunggu yang luas. Parkir kendaraan tersendiri. Paviliun ini diresmikan oleh Bupati Hendri Martoyip pada 15 April 2003.

Nusa Indah terdiri dari enam kamar. Satu hari kena Rp125 ribu. Meski tak semewah Wijaya Kusuma, ruang ini punya kulkas. Ada pula karpet dan blifet serta teve.

Aster ada enam kamar. Tarif sehari Rp100 ribu. Dhe Atun dirawat di kamar Aster 4.

Satu kamar Aster berukuran enam kali enam meter persegi. Kamar ini berubin keramik putih ukuran 30×30 centimeter persegi. Langit-langitnya eternit cat putih, setinggi empat meter dari lantai. Satu lemari pakaian dari kayu berwarna putih berdiri di pojok, depan dipan penunggu. Di seberang dipan penunggu terdapat dipan bagi pasien yang dilengkapi kasur busa dan bantal busa, plus selimut dan sprei. Di samping ranjang pasien ada sebuah lemari setinggi perut orang dewasa untuk menyimpan perkakas amupun pakaian pasien. Warnanya coklat plitur. Ada pendingin ruangan bermerek LG Jetcool serta satu teve Panasonic 14 inci yang menggantung di dinding atas. Teve itu zonder remote control. Meski menyandang status VIP, pintu kamar mandi itu sempal pegangannya. Tak dapat menutup. Lagian ubin keramiknya sudah lusuh kotor. Tepat di luar kamar mandi terdapat washtaffel. Tamu penjenguk disediakan dua kursi berbantalan dan sandaran punggung dari busa bersamak kulit coklat. Sebuah meja tamu juga ada. Kamar ini punya dua pintu, pintu depan dan belakang yang langsung menuju ruang jaga para suster. Jam dinding menempel di tembok samping teve.

Peranti bagi pasien, ada pispot dan urinal. Baskom buat sibin. Sibin artinya mandi kecil, hanya sekadar basah badan. Bisa pakai sabun, bisa juga tidak. Cuma diusap handuk yang agak basah. Ada pula jemuran handuk yang berdiri di luar belakang kamar. Jemuran itu kecil, setinggi perut.

Pada halaman samping selatan rumah sakit ini, berdiri deretan rumah dinas. Ada rumah dinas buat perawat. Biasa. Sedangkan rumah dinas buat dokter sedikit mewah bercorak modern. Berlantai dua. Sekaligus untuk buka praktek.

Diabetes adalah momok paling menakutkan yang bergentayangan di ruang VIP ini. Dari 649 kasus sepuluh besar penyakit, 295 pasien mengidapnya. Itu data rumah sakit pada tahun ini. Selebihnya adalah penyakit macam hipertensi dan lainnya.

“BAGAIMANA BAIKNYA?” lagi-lagi Mbak Rini menagih saranku, Selasa terik itu.

Aku tersentak dari diam. Aku angkat sedikit pantatku dari bantalan kursi tamu itu. Aku duduk lagi, menghembuskan napas. Aku mohon diri salat duhur dulu. Penat belum hilang total.

“Benar perawat yang datang di rumah bagus kerjaannya?” aku bertanya sehabis sembahyang.

“Jempolan. Dia ambilin semua luka yang sudah kering. Dia potong-potong jaringan kulit busuk itu, biar tumbuh jaringan baru. Di sini? Cuma ganti perban,” jawab Mbak Rini.

“Lantas kenapa Budhe jadi begini lagi?”

“Dia beberapa hari sedang pergi ke Sarang, ibunya sakit. Makanya Setiti izin gak merawat dulu. Eh, dilalah kejadian seperti ini.”

“Lagipula budhe-mu diam-diam menyudet susubennya di kamar. Pakai duri jeruk,” timpal Mas Nawawi.

“Yakin sehabis ini Setiti bisa merawat terus? Bisa dipanggil kalau dibutuhkan? Gak pergi-pergi lagi?”

“Tadi sudah aku telepon. Dia sanggup kok,” sahut Mbak Rini

“Di sini Budhe dikasih suntik insulin?”

“Gak tahu. Kayaknya gak disuntik.”

“Usahakan jangan. Biasanya insulin itu diambil dari babi.”

“Insulin itu apa?” tanya Mbak Jujuk.

“Hormon yang mengolah kadar gula dalam darah… Gini Mbak. Tak ada obat yang mujarab. Apalagi obat kimia. Yang namanya obat hanya mengatasi gejala. Sedangkan obat sebenarnya adalah pola hidup dan pola makan kita sendiri. Kalau memang pelayanan di sini tidak bagus, pulang saja. Budhe dirumat di rumah,” aku coba kasih masukan. Aku pengen setidaknya para sepupuku memandang, aku pun bisa memberi nasihat seperti halnya mendiang ayahku.

“Siapa yang besok bilang ke Dokter Rus?”

“Mas Anto gimana?”

“Dia masih sibuk ada urusan di kantornya. Dia bisa usahakan mobil yang ngangkut Ibu.”

“Mas Nawawi?”

“Wah, aku masih buat lemari,” tukas Mas Nawawi.

“Wow, kamu sih hebat kalau di bibir saja. Tindakan nyata? Nol besar,” timpal Mbak Jujuk kepada kakak iparnya itu.

“Mendingan ngomong rame-rame saja. Laki-laki semua. Mas Nawawi sama Mas Anto. Aku ikut. Aku bantu besok. Dokter gak boleh memaksakan kehendak seakan dia satu-satunya yang bisa nyembuhin. Semua tergantung pada kerja sama dan kesepakatan dengan pasien,” tawarku, yang berarti aku harus urung pulang colik -pulang hari itu juga. Aku harus undur sehari di sini.

“Budhe-mu masalahnya makan susah. Nasi sedikit. Tapi obat jalan terus. Gak berimbang.”

“Kalau nasi sedikit gak apa-apa. Nasi itu karbohidrat, diolah tubuh juga jadi gula. Dikit malah baik. Yang dibanyakin sayur dan buah. Buah sendiri sudah mengandung gula, sudah manis.”

Sisca dan Gilang gaduh. Mereka mengajak Yopi bermain. Mbak Jujuk menghalau ketiga tuyul itu keluar.

“Itulah kendala kalau di rumah. Anak kecil ribut. Apalagi Si Roki.”

“Yah gimana lagi Mbak. Budhe istirahat di kamar saja sama ditungguin.”

Budhe Atun tergolek tidur.

Malam ini aku tidur di rumah sakit, menunggu Budhe. Pasangan Mas Anto dan Mbak Jujuk serta dua anak mereka sudah pamit usai magrib. Mas Nawawi sudah cabut siang-siang usai mengantarku ke rumah sakit. Tinggallah aku bersama Mbak Rini dan suami serta Yopi.

SORE HARI, BUDHE KEDATANGAN TAMU. Seorang ibu bersama seorang anak perempuan remaja. Dia kawan lama Budhe. Sedangkan si gadis lumayan manis. Ibu itu prihatin. Dia selipkan sebuah amplop ke tapak tangan Budhe sewaktu bersalaman pamit.

Malam hari datang juga tamu. Sepasang bapak-ibu dan seorang anak putri mereka yang tengah mengandung. Sama dengan tamu sebelumnya, mereka menghaturkan amplop sebelum pamit undur diri. Budhe menerima amplop itu.

Kini Budhe memegang tiga amplop. Itu teman Budhe di atas ranjang. Tiap kali tidur, makan, atau lihat teve, amplop itu erat dia genggam. Aku melihatnya kasihan. Aku raba keningnya, tak begitu hangat. Suhu tubuh normal. Aku sedikit lega.

Amplop itu masih dia genggam.

MALAM HARI PUKUL DELAPAN, SEORANG SUSTER MASUK RUANGAN. Dia ganti infus yang habis. Kali ini dengan sebotol kecil ukuran 100 mililiter. Botol itu dari kaca. Cairan bening itu metronizadole. Tetesannya lebih deras, tiap detik jatuh sebutir air.

“Itu antibiotik. Sehari tiga kali,” tutur si suster.

Metronizadole habis, gantilah pelastin. Ini sehari sekali saja, pada malam hari. Sama ukurannya dengan metronizadole, 100 ml. Cuma mengalirnya lebih seret. Kayak cairan infus biasa yang sebanyak 500 ml itu. Sewaktu saya tanya apa gunanya, sis suster hanya menjawab, “tak tahu. Ini resep dari dokter.”

Pukul sebelas malam, Budhe diperiksa kadar gulanya oleh suster yang lain. Infus pelastin itu juga diganti lagi jadi infus biasa. Sebenarnya ada sebotol plastik glukosa 10% sebanyak 500 ml. Kantong itu bergantungan di samping kantong infus biasa. Tapi itu buat jaga-jaga saja. Belum terpakai.

“Berapa kadar gulanya?” saya tanya.

“Tadi siang bukan saya yang periksa. Saya tak tahu. Hasil malam ini besok pagi baru kelihatan,” jawab si suster berkerudung itu.

“Tuh kan. Apa-apa tak memuaskan. Ganti sprei saja, suster hanya meletakkan di meja. Biar diganti oleh penunggu pasien sendiri. Pelayanan kok kayak gini. Mahal, lagi,” ujar Mbak Rini kepadaku setelah suster itu pergi.

JANGAN PERNAH HARAP DAPAT TIDUR NYENYAK DI RUMAH SAKIT. Baru saja tidur-tidur ayam, antara sadar dan tidak, aku harus menikmati alam mimpi di atas kasur gulung beralas tikar tepat di atas ubin. Dingin sudah pasti.

Pukul tiga kami semua bagun. Saatnya santap sahur.

Aku lihat cairan infus hampir habis. Tes-tes-tes, lambat nian seakan berat bulir air terjatuh. Aku perkirakan habis nanti usai sahur. Kami lanjutkan makan.

Usai makan aku keluar. Duduk-duduk bersama suami Mbak Rini, Mas Rus. Kami ngobrol soal seluk-beluk rumah sakit. Sebenarnya Mas Rus sangsi atas langkah mengeluarkan ibu mertuanya. Dia condong mempertahankan Budhe di sini.

“Masih lemas begitu,” ujarnya.

“Tapi masalah biaya, Mas. Duit. Kalau punya, sebulan pun ayo. Lagipula sewaktu dijemput paksa tiga bulan lalu, kondisi Ibu juga sama lemasnya. Tapi sudah sempat pulih toh?” begitu argumen Mbak Rini setiap kali suaminya mengemukakan pandangan yang agak lain.

Aku minta diri sejenak. Keliling-keliling lingkungan.

Aku lihat banyak ruang. Kelas ekonomi. Semua kamar di sini bernama jenis bunga, pikirku. Para penunggu kelas ekonomi begitu banyaknya. Mereka tidak tidur di dalam kamar. Mereka pilih tidur di luar. Ada yang cuma berselimut sarung. Rela tidur beralas ubin yang dingin. Ada yang beralas tikar. Seorang nenek memakai jarit dan kebaya tidur, mungkin menunggu cucunya yang lagi sakit. Ada pula yang membawa kasur lipat. Aku pikir masih beruntung, bisa menunggu ruang VIP, tidur di dalam ruangan.

Angin pesisir dingin di malam hari menggigit tulang.

Aku lewati berbagai ruang. Ada ruang rontgen, laboratorium, poliklinik, unit gawat darurat, ICU-ICCU, kasir pembayaran tagihan biaya perawatan, kamar mayat, laundry, musala, dapur, hydrant, garasi ambulans, ruang isolasi, genset, arsip rekam medis, ruang administrasi, serta ruang instalasi bedah sentral (IBS).

Ruang bedah inilah yang menjagal jari telunjuk tangan kiri Budhe.

Seketika aku teringat… kantong infus Budhe.

Benar saja. Sudah kosong terkuras. Aku heran Mbak Rini tak memanggil suster. Tidak tahu atau memang abai? Segera aku berlari ke ruang jaga. Untung, dekat dengan kamar kami. Dua orang suster nyenyak di atas kasur gulung. Salah satu dari mereka terkaget-kaget aku bangunkan.

“Harusnya tak boleh kosong melompong kayak gini. Bukannya pada makan sahur. Tidak lihat apa?” si suster mengomel padaku.

“Tadi masih ada -dikit sih,” aku gagu.

“Jangan dibiarkan sampai kosong lagi yah.”

“Sus, atas nama keluarga, kami hendak bawa pulang Ibu besok sore.”

“Nanti saya sampaikan kepada dokter.”

USAI SUBUH MBAK RINI PAMIT. Tinggallah aku sendiri menunggu Budhe. Hari Rabu adalah permulaan masuk sekolah, usai libur beberapa hari di awal Ramadan. Mbak Rini hari ini harus mengajar kelas. Sore hari dia mengajar les.

“Nanti habis dari kelas, jam sepuluh aku ke sini lagi,” tuturnya.

“Rini ke mana?” Budhe bertanya.

“Pulang Dhe. Nanti ke sini lagi,” jawabku.

Pukul enam pagi, saatnya Budhe sibin. Suster yang ketus karena kasus infus itu kembali masuk ruang. Dia hendak melayani sibin Budhe. Aku membantunya. Budhe serasa tersiksa badannya dibolak-balik dicopot dan dikenakan pakaian.

Usai mengurus Budhe, aku mandi pagi itu.

Belum pukul tujuh, Mas Nawawi datang bersama seorang gadis. Masih kerabat. Hanya beberapa cakap, dia pamit pulang. Gadis itu dia tinggal bersamaku. Dia yang sehari-hari menunggu Budhe. Gadis itu memanggil Budhe dengan sebutan Mbah -nenek. Berarti dia ponakanku? Aku tak banyak kenal kerabat di Jarak. Lantaran itu tadi, sejak kecil aku tak bertandang ke sini.

Jam delapan, suster yang lain datang membawa cairan infus metronizadole. Cairan itu deras mengucur.

Sekali lagi aku bilang, nanti sore hendak cabut. Suster juga untuk kesekian kalinya, menjawab, nanti dia sampaikan kepada dokter. “Bukan saya yang mengambil keputusan. Padahal hari ini Pak Dokter ingin Ibu ke ruang bedah. Hendak bersih-bersih luka yang kotor,” tuturnya.

Aku tunggu-tunggu dokter belum datang. Aku pernah sakit demam berdarah dan harus mondok di Sint Carolus, di ibukota. Dokter tak pernah lewat jam delapan pagi mengecek tiap pasien. Ini jam sepuluh lewat, Dokter Rus belum nongol?

DOKTER RUS JAM SETENGAH SEBELAS DATANG JUGA. Tak segalak cerita Mbak Rini. Dia ramah dan hangat bercakap denganku. “Masih berkeras pulang sekarang?”

“Sudah keputusan keluarga, Dok,” tukasku. Si Gadis yang menunggu Budhe diam di samping dipan.

“Apa boleh buat. Semua kembali kepada keputusan yang bersangkutan. Rencana saya hari ini masuk ke ruang sana, membersihkan luka,” tutur Dokter Rus menunjuk ruang bedah yang semalam aku raun.

“Tak usah Dok. Dirawat di sini saja.”

“Kalau begitu diberi tindakan biasa saja yah,” tutur Pak Dokter, kali ini kepada suster yang mendampinginya.

SUSTER MEMBAWA PERALATAN. Ada gunting penjepit. Ada beberapa potong kain kassa. Ada beberapa plester kassa. Dan berbagai peranti lainnya.

Dia ambil botol kecil. Lebih kecil daripada metronizadole. Aku duga ukuran puluhan ml. “Larutan PPC,” katanya. Maksudnya penicilin. Warnanya putih susu. Botol itu bertutup lapisan karet. Bisa ditusuk jarum suntik. Untuk mengambilnya, suster pakai suntik, bukan membuka tutup botol. Dia sedot, lalu dia kucurkan pada sebuah mangkuk logam ukuran kecil.

Dia ambil lagi cairan lainnya, aqua pro liquid. Kali ini bening. Sama, dia keluarkan lewat jarum suntik dan campurkan dengan larutan putih susu PPC.

Terakhir, dia tuangkan cairan iodium 10% yang berwarna coklat marun. Dia ambil dari botol plastik ukuran satu liter. Tapi dia pakai sebagian kecil saja. Dia aduk ketiga cairan itu jadi satu, hasilnya larutan merah seperti obat merah atau Betadine. Dia celupkan beberapa potong kassa kecil. Kassa putih jadi merah. Dia peras kassa itu dengan dua gunting penjepit, dia plintir-plintir, meneteslah cairan di atas mangkuk. Kassa siap untuk dipakai di atas luka.

Dia buka perban Budhe di tangan kiri. Aku lihat jari tengahnya ada jahitan, bekas potongan jari telunjuk. Punggung tapak tangannya, bagai kawah sudah berlubang. Di dasarnya ada daging merah jambu semu putih. Di pinggir luka itu, sebagian kulit mengering hitam. Jaringan mati itulah yang harus dicabut agar bisa tumbuh kulit baru. Di sela-sela lubang itu ada potongan kassa lama yang perlu diganti. Dia ambil kassa bekas itu.

Dia hendak pasang kassa baru yang tercelup larutan merah. Urung. Hape suster berbunyi.

“Aku lagi bersama pasien,” jawab dia kesal kepada si pemanggil. Barulah dia pasang kassa basah itu.

Aku cuma berpikir, bisa-bisanya dia terima panggilan di saat melayani pasien. Siapa yang sebenarnya berhak kesal?

Rupanya tindakan yang diambil hanya ganti perban. Itu pun si suster memasang muka masam. Serasa canggung melihat luka penderita penyakit yang parah seperti ini. Aku berpikir, inikah harga pelayanan di ruang VIP? Apakah mereka asal-asalan menangani lantaran si pasien tak mau melanjutkan rawat inap hingga tuntas?

Mbak Rini tak kunjung datang. Aku putuskan mengaso duduk di luar, teras belakang. Ada seorang di sana. Aku temani duduk dia. Rupanya dia penunggu Ruang Wijaya Kusuma 1, samping kamar kami.

“Siapa yang sakit?” saya bertanya.

“Ibu, hipertensi. Masuk kemarin Senin. Sekarang jalan hari ketiga.”

“Berapa tekanan darahnya?”

“Masuk pertama kali 230. Lalu jadi 190. Syukur sekarang sudah di kisaran 120-130.”

“Semoga lekas sembuh yah Mas.” Aku undur diri, masuk lagi ke kamar.

TINGKAH SESEORANG YANG BERUSIA TUA ACAP BALIK SEPERTI ANAK KECIL. Budhe hendak bangun tapi tak kuasa. Aku dan gadis penunggu itu mencegahnya. “Mau ke mana memangnya Dhe?”

“Mau kencing.”

“Kan sudah disambung slang. Tinggal pipis saja, gak usah bangun,” ujarku menunjuk kapiler irunal. Kantong plastik penampung sudah bergantung di bawah dipan.

“Coba bawain ke sini rok-ku.”

“Buat apa Dhe?”

“Aku pakai.”

“Bukannya tak muat?”

“Gak muat bagaimana? Punya-punyaku sendiri kok gak muat.”

“Kan Dhe Atun pakai popok, pampers. Makanya tak muat.”

Toh aku luluh juga. Aku pasangkan rok itu dengan bantuan si gadis. Mentok. Terhalang slang saluran kecing.

Sebelumnya Budhe hanya memakai baju atas, bawah pakai popok. Dia tutupi bagian bawah dengan selimut. Kini dia rewel pakai rok. Dalihnya, sudah waktunya untuk cabut dari rumah sakit itu. Berhari-hari terkulai di sini, dia mulai bosan. Hari baru jelang siang, kepulangan nanti sore, dan Budhe sudah minta pulang.

Yang aku khawatirkan adalah keinginan Budhe sendiri untuk sembuh. Dia tak banyak selera makan. Susah. Tiap kali disuapi, baru dua sendok saja minta berhenti. Aku cemas. Aku minta kalau nasi tak habis tapi sayur dan lauk kudu tandas.

Aku tawari jeruk yang dibawakan suster bagian dapur. Aku kupas, aku buang bijinya, aku buang serabut putih yang mengitari bulatan oranye itu. Aku suapkan satu per satu. Aku sarankan Budhe mengambil waktu untuk tidur saja.

Tangannya berulah. Tangan kanan yang tertembus jarum infus tak bisa diam. Kadang dia berbaring menghadap kiri, sehingga tangan kanannya menarik slang infus. Jadinya pipa infus yang kecil itu tegang tertarik. Kadang Budhe menindih tangan kanannya dengan kepalanya menjadi bantal. Akibatnya infus seret, tak lancar mengalir.

Tiap kali aku ingatkan dan benahi letak tangan kanannya, Budhe hanya terdiam. Namun dia ulangi lagi tingkahnya. Sekali lagi aku letakkan tangan kanannya supaya tertelungkup, dia berujar, “apa-apa kok gak boleh. Apa-apa dilarang.”

Mbak Jujuk datang bersama si bungsu Gilang. Barulah menyusul suaminya, Mas Anto.

“Kok banyak kapas. Tanganku berat,” kembali Budhe merengek. Dia copot perban tangan kanannya. Aku cegah, aku khawatir slang infusnya copot.

Beberapa saat Budhe terdiam. Memegangi amplop. Lantas dia menggerutu. “Aku dimarahin Rini.”

“Kenapa Bu?” tanya Mbak Jujuk setengah membujuk.

“Rini marahin aku.”

“Kok bisa?”

“Aku jalan naik becak, dia marah-marah.”

“Eh… alah, itu toh. Ibu jalan sendiri, yah wajar anak Ibu marah. Itu khawatir Bu,” tutur Mbak Jujuk terkekeh.

Lantas Mbak Jujuk bercerita padaku. Beberapa hari usai pulih setelah pulang dari rumah sakit tiga bulan lalu, kondisi Budhe membaik. Dia sudah bisa berjalan. Sedikit saja kembali sehat, dia tak dapat dicegah beraktivitas. Kegiatannya jalan-jalan. Naik becak sendiri, ke koperasi. Mengambil aplikasi pinjaman sejumlah duit.

“Aku gak bisa ke Kanji yah. Badan masih lemes begini. Aku gak bisa datangi peringatan setahun meninggalnya bapakmu,” ujar Budhe kepadaku.

“Gak apa-apa Dhe.”

Beberapa saat Mbak Rini datang. Dia diantar Mas Rus. Aku lega.

AKU BERSAMA MAS ANTO KE RUANG JAGA. Hendak menanyakan rincian biaya. Ruang kosong. Kami lihat kemudian seorang suster masuk. Terburu-buru. Tak menghiraukan kami. Dia suster yang tadi memasang perban Budhe. Lantas dia keluar ruang lagi, berlari ke kamar pasien lainnya.

Datanglah suster kepala, Andang Retnosanti. Dia meraih gagang telepon. Sibuk sendiri bercakap dengan orang di seberang. Baru dia menoleh ke kami. “Sebentar yah,” tuturnya tersenyum, sambil masih memegang gagang telepon.

Kami harus rela menunggu seperempat jam. “Masih antre di apotek menunggu resep obat jalan dari Dokter Rus. Nanti baru bisa kita lihat perinciannya,” tutur Suster Andang.

Nantinya, total biaya itu ketahuan hampir lima setengah juta rupiah. Terpotong askes, tinggal Rp4,6 juta. Angka segitu cukup berat bagi anak-anak Budhe yang jadi guru, buruh lepas, atau pekerja pada perusahaan kecil. Mereka juga punya beban membesarkan anak-anak sendiri.

SIANG ITU AKU PAMIT PULANG. Setelah aku berpikir semuanya beres. Dokter sudah acc kepulangan Budhe. Soal teknis, biar nanti sore diatur oleh anak-anaknya. Mobil biar disiapkan Mas Anto. Administrasi dan pembayaran tinggal diurus Mbak Rini.

Di tengah perjalanan ke halaman muka rumah sakit, aku berikan amplop yang berisi uang dari keluarga Kanji kepada Mas Anto. Itu hanya hampir setengah dari seluruh biaya. “Cuma segini Mas.”

“Gak apa-apa. Makasih. Besok kalau peringatan setahun Lek Yanto, biar aku saja yang datang ke Kanji.”

Dari halaman depan rumah sakit, melintas bus jurusan Jarak-Kadas. Aku berlari ke arah bus itu.

Dalam perjalanan, pikiran aku berkecamuk. Bukankah rumah sakit adalah hospital? Bukankah hospitality artinya kebaikhatian, atau semacam kesabaran, atau ada unsur pelayanan? Aku masih memikirkan muka masam suster. Aku masih memikirkan amarah dokter.

Aku juga masih memikirkan upaya anak-anak Budhe merawatnya. Mereka terengah-engah dihajar biaya hidup yang makin menghimpit. Biaya kesehatan untuk orang pas-pasan macam kami memang berat. Konon, orang miskin dilarang sakit.

Aku terseret memikirkan janji negara yang tak kunjung tiba. Mana subsidi bagi rakyat miskin? Seberapa ampuh kartu askes? Jaminan pengaman sosial? Kabarnya ada 77 juta jiwa rakyat miskin, yang bergantung pada secarik kartu kesehatan. Bagaimana nasib mereka semua?

Aku tak bisa tenang, memikirkan dan mencari apa makna pengabdian.

2 responses to “Kisah Rumah Sakit

  1. Mas Yacob jik eling aku a?
    Itong kancane anjar, sedulure Ruly

    Wah, terharu ceritane,…ini terinspirasi dari kisah Nyata yo mas?

  2. Itong,
    Aku jelas eling kowe. Semua cerita fiksi di sini adalah hasil fiksionalisasi kejadian nyata. Kowe saiki ditugaske ning ngendi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s