Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Ketiga -Terakhir)

Oleh Yacob Yahya

(5.004 kata)

Empat hari tiga malam kami habiskan waktu di awal Agustus itu. Sudah saatnya pulang ke Yogya. Kali ini naik bus patas, makan waktu lima jam lebih. Hampir sama dengan perjalanan berangkat. Selamat tinggal Purbalingga, Kabupaten Perwira.

BAB IV

SYUKURLAH, MUR BISA FIT PADA HARI SELASA (5/8). Tiba saatnya untuk pulang. Mbak Muji membawa sejumlah bungkus stroberi untuk oleh-oleh buat keluarga di Kartosuro. Mur dapat titipan madu dari Ayu untuk Anis di Yogyakarta. Juga kaca spion sepeda motor milik Anis yang dipinjam Ayu. Kami pun membawa dua helm yang kami pakai sewaktu perjalanan berangkat.

Mas Pratik Senin sore kemarin ada tugas mendadak ke Jakarta. Ayu pagi tadi sudah berangkat ke kantor. Pagi ini tinggallah Mbak Yatmi dan si bungsu, Astrini. Jelang berangkat, masih sempat-sempatnya Mur minta Mbak Yatmi memangkas rambutnya. Hanya tipis, hasilnya potongan bop seperti Dora -cewek petualang pada program kartun Nickelodeon yang berjudul “Dora The Explorer”. Perangkat salon yang teronggok di ruang depan itu berfungsi juga.

Dengan motor Mio, Astrini tiga kali bolak-balik mengantar Mbak Muji, saya, dan terakhir Mur menghadang bus ke Purwokerto di perempatan Karang Kabur.

“Jangan kapok main ke sini lagi yah,” tutur Mbak Yatmi melepas keberangkatan kami.

Tentu saja saya takkan kapok. Masih banyak daerah yang belum saya jelajahi. Lain kali pasti saya ke sini lagi. Siapa yang tak betah di rumah yang seasri ini?

Di Dalam “Bus Mabuk”

ASTRINI BARU SAJA BERLALU, BALIK KE RUMAH. Pukul sepuluh. Kini kami menghadang bus yang ke arah Purwokerto. Setelah hampir sepuluh menit menanti, bus itu datang juga. Ukurannya kecil, seperti bus jurusan Pati-Purwodadi. Hanya selintas antar-dua atau tiga kota, pikir saya. Perjalanan pulang dimulai. Rute sama sewaktu kami berangkat. Meski demikian, bakal ada hal-hal baru yang kami alami.

Ongkos satu orang Rp5.000. Setengah dari ongkos Pati-Purwodadi yang Rp10.000. biaya naik bus makin naik gila-gilaan seiring kenaikan harga bensin. Wong cilik makin payah saja, menghadapi kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak.

Bus singgah dulu di Terminal Purbalingga. Kondisinya lebih rapi daripada Terminal Pati. Bus dikelompokkan sesuai dengan tujuannya. Kernek bus yang kami tumpangi berdiri di depan pintu, sembari bus melaju. Tangannya menjawil salah seorang yang sedang berjalan kaki. Mungkin kondektur bus lain yang sedang mengaso atau cari penumpang.

“Asu…” orang yang dia usili itu memaki.

Kondektur yang usil itu hanya menengok tersenyum, bus meninggalkan lelaki yang kena sentil itu. Mungkin itu candaan gaya mereka, antara sesama kondektur atau sopir bus.

Selanjutnya, bus menuju Purwokerto.

Kami melewati gedung Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Sains dan Teknik. Pelatarannya jembar. Dari luar terlihat sepi. Nampaknya sedang masa jeda pergantian semester. Toh Mbak Muji juga lagi liburan usai ujian kan? Meski beda kampus, hampir setiap perguruan tinggi mematok kalender akademik yang hampir sama.

Perjalanan itu tak lebih dari setengah jam. Tiba juga kami di Purwokerto. Barulah saya tahu letak Kelenteng Hok Tek Bio itu. Megah. Serba merah. Dua sokoguru besarnya berlukiskan “dewa”.

Kami bisa saja turun di sini tanpa perlu masuk terminal. Hal itu Mbak Muji lakukan sewaktu berangkat. Namun, “kemungkinan dapat kursi lowong kecil,” terang Mbak Muji. Makanya kami tuntaskan perjalanan ke terminal.

Kami lalui Jalan Panglima Sudirman itu. Banyak toko yang menjajakan getuk goreng. “Ah, harusnya beli getuk goreng,” Mur menyesal.

Getuk adalah panganan khas Jawa yang diolah dari ketela.

Beberapa toko getuk itu bertulisan sama: “Asli” Haji Tohirin Hasil Karya Bapak Sanpirngad Th 1918.

Lama nian, pikir saya. Sudah ada sepuluh tahun sebelum Sumpah Pemuda?

Bus melewati sebuah rumah sakit. RSUD Dr. Margono Soekardjo, Jalan Dr. Umbreg Purwokerto. Setelah itu, tiba juga di terminal. Terminal itu lumayan bersih dan rapi. Baru saja turun, kami disambut oleh berbagai tawaran tujuan perjalanan.

“Ke mana? Jakarta? Sini.”

“Ke Bandung?”

“Ke Yogya?”

“Yah, mau ke Yogya, yang patas.” Jawab Mbak Muji. Pria yang menawarkan jasa bus itu ramah menunjukkan bus patas itu. Bus “Efisiensi”. Bus patas adalah bus cepat berpendingin ruangan alias air conditioner -AC. Bus patas juga punya fasilitas televisi. Teve itu menyala dan menayangkan lagu-lagu dari DVD player. Ada Radja, Seventeen, D’Massive. Semuanya lagu cinta melulu ala remaja gandrung.

Kami dapat tempat duduk depan. Tiap baris kursi berisi dua-dua. Saya duduk di sebelah Mur, berada di larik kanan, tepat belakang kursi kemudi. Sedangkan Mbak Muji duduk di seberang kami, di sebelah orang lain.

Harga tiket per orang Rp40.000. Fasilitasnya, ada sebotol minuman yang bisa dipilih. Teh botol atau minuman bersoda macam Sprite dan Fanta? Kami memilih teh saja. Jika minuman sudah habis diteguk, botol diletakkan pada tempat yang telah tersedia, di pojok kursi. Nanti petugas mengambilnya.

BERANGKATLAH, BUS PATAS ITU DARI PURWOKERTO MENUJU YOGYA. Kami lewati lagi Jalan Sudirman. Sederetan toko getuk goreng dan kelenteng itu. Lantas bus beberapa kali berhenti di agen penjualan tiket mengangkut penumpang yang memesan dari sana.

Sopir bus itu masih muda, kira-kira berusia tiga puluh tahunan. Sedangkan si kondektur sudah tua, empat puluh tahun paruh kedua, atau awal lima puluh tahun. Mengendalikan kendaraan besar, sopir itu merasa seperti raja jalanan. Dasar darah muda. Hampir tiap menit klakson menyalak. Pertanda kendaraan yang lebih lamban harus minggir.

Tolilet-tolilet-tolilet.

Teve padam. Gantian MP3 mengalun. Laluna menghibur kami. Lagunya slow.

Kami tiba di Banyumas. Kecamatan Kalibagor yang bersambung dengan Kaliori. Tak ada yang berubah. Bumi Perkemahan Kendalisada menyapa dengan tugu depan berhias patung tunas kelapa lambang Pramuka. Beberapa saat kemudian kami (kembali) disambut oleh lorong pengemis wanita di daerah Pagelarang Jalan Raya Buntu. Kompleks PTPN IX sudah lewat.

Lalu ada Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Banyumas di tengah kita. Ada lapangan luas di depan sekolah itu. Ada penunjuk arah ke Pondok Pesantren Miftahussalam.

Tiba juga kami di persimpangan Kemrajen. Bus berhenti sejenak, mengangkut penumpang. Setelah itu, bus tak lagi mengangkut penumpang. Perjalanan lancar. Bus senantiasa membunyikan klakson. Kendaraan menepi. Kecepatan di atas 80 kilometer per jam sewaktu saya lirik spedometer.

Goyang kanan goyang kiri kayak orang sempoyongan gara-gara mabuk. Ini “bus mabuk”. Beberapa penumpang cemas karena tingginya kecepatan dan lenggak-lenggok jalannya bus. Si sopir tak peduli. Tulisan pelayanan konsumen pada tiap kursi “Hubungi kami jika Anda menemukan sopir bus ini ugal-ugalan atau menaikkan penumpang di sembarang tempat” nampaknya hanya pajangan belaka.

Sopir bus tetap tak peduli. Seakan tak sadar sedang membawa puluhan nyawa yang mempercayakan keselamatan kepadanya. Saya hanya berdoa, semoga tak terjadi hal yang…… saya tak mau melanjutkan.

Bus beradu balap dengan sebuah sedan hitam Vios. Sedan itu berplat huruf “D”, daerah Bandung. Bus selalu makan “kanan” agar tidak disalip sedan itu. “Ugal-ugalan banget sopirnya,” komentar Mbak Muji setelah tiba di Yogya.

“Sedan itu gak mau disalip. Sialan,” celetuk si sopir. Dalam hati saya, siapa yang sialan?

Dari Kemrajen kami ke Sumpiuh. Dari Sumpiuh kami ke Tambak. Pintu masuk Goa Jatijajar dan Pantai Logending sudah lewat. Kami menuju ke arah Purbowangi dan Gombong.

Tiba di sebuah persimpangan jalan raya pada pusat kota, bus berhenti di lampu merah. Sedan itu sejajar dengan kami. Saya lihat dari kaca jendela, seorang ibu-ibu di dalam sedan itu ngomel. Tentu saya tak dengar apa yang dia ucapkan. Ibu itu duduk di kursi depan, sebelah seorang laki-laki yang menyopiri sedan itu.

Lampu lalu lintas jadi hijau, bus itu “menggasak” sedan. Sedan mengalah, dan bus kencang di depannya.

KAMI HENDAK MENUJU KE TERMINAL KEBUMEN. Banyak tempat pembuatan genteng. Jika Anda membangun rumah dengan genteng merek “Assoka”, di sinilah tempatnya. Pada tempat pembuatan genteng itu berdiri sebuah tungku pembakar genteng. Tanah liat atau lempung yang lembek dan berwarna coklat gelap bakal mengeras dan memerah jika dibakar di tungku itu. Sama halnya dengan pembuatan batu bata.

Pada Jembatan Kali Lukulo, dari arah yang berlawanan, saya lihat anak-anak cewek memakai seragam sekolah menengah pertama naik sepeda. Satu sepeda satu orang. Mereka berderet ke belakang membentuk barisan satu ruas. Mereka harus tahu, mengalah pada kendaraan yang lebih besar.

Tiba juga kami di Terminal Kebumen. Asri, bersih, dan sepi. Suasana seperti Terminal Blora atau Terminal Delanggu di daerah Klaten. Bedanya, terminal ini resik sedangkan mereka kurang tertata. Jangan bandingkan dengan Terminal Kartosuro yang berdebu dan banyak bangunan toko yang tak jelas tutup melulu.

Lepas dari pusat kota Kebumen, kami menuju Purworejo.

WAKTU AZAN DUHUR TELAH LEWAT. Kami berhenti di sebuah rest area yang bernama “Wonosari”. Ini tentunya tak ada hubungannya dengan tempat asal Mur, Gunungkidul, yang beribukota Kecamatan Wonosari.

Kondektur mengingatkan, waktu istirahat tak bakal lama, 15menit.

Pelatarannya luas. Muat untuk beberapa bus. Mungkin ini milik pengelola bus patas “Efisiensi”. Di sudut tenggara ada sebuah kantor. Pada sisi barat ada toilet, dan di pojok barat laut berdiri sebuah musala. Di samping musala, menjorok agak ke depan, ada sebuah kios yang menjual berbagai cemilan.

Saya ke toilet sebentar, lantas berjalan ke utara ke arah musala. Nama musala itu “Nurul Barokah”. Artinya kira-kira cahaya berkah. Ada kolam kecil yang berisi puluhan ikan koi. Menuju ke musala, terdapat beberapa titian kaki di tengah kolam itu. Di sudut barat daya, terdapat tempat wudu.

Pintu masuk dari arah selatan itu terbuat dari kaca. Pada pintu kaca itu tertempel sepasang logo musala itu. Bulat. Tepinya hijau, bergaris putih. Lingkaran inti hitam. Pada lingkaran tepi, tertulis “Musala” dan “Nurul Barokah” yang melingkar, dipisahkan oleh sepasang bintang. Dari jauh kok kayak lambang kedai kopi “Starbucks”. Geli saya melihatnya.

Musala itu berukuran enam kali enam meter persegi. Tak terlalu kecil, juga tak terlalu luas. Lantainya berubin keramik coklat muda.

Saya buru-buru. Mur masih sempat-sempatnya membeli sejumlah snack. Saya temani dia. Pilus Garuda lima bungkus kecil, dua buah lumpia, dua buah arem-arem. Semua penumpang sudah di dalam. Tinggal menunggu kami.

Kami masuk, dan bus berangkat.

LANTARAN ISTIRAHAT LIMA BELAS MENIT, BUS ITU BERSUA KEMBALI DENGAN SEDAN HITAM. Salip-salipan kembali terjadi. Akhirnya sedan itu bisa mengambil tempat di depan bus, di sekitar perbatasan Kebumen-Purworejo.

Saya teringat pada lokasi razia polisi waktu berangkat.

Klakson tak henti-hentinya meraung. Tiba pada pusat kota Purworejo, ada sebuah sepeda motor dari arah yang berlawanan arah. Pria pengendara itu mencopot helm dan melontarkan kata-kata dengan muka kesal kepada sopir bus kami.

Setidaknya sudah ada tiga orang yang berbeda tak puas pada ulah sopir bus itu. Dan si sopir tak ambil pikir. Cuek bebek.

Dari kaca jendela, saya lihat sejumlah anak cewek berseragam sekolah menengah atas lagi nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dekat alun-alun. Sebagian berkerudung dengan stelan rok panjang semata kaki. Sebagian membiarkan rambut mereka terlihat, rok hanya sebatas lutut.

“Cantik yah?” Mur menggoda saya yang mengamati sekumpulan cewek itu.

Kami lepas dari alun-alun dan melewati patung seorang pria berbaju kebesaran militer. “Monumen Jenderal Ahmad Yani”. Apa hubungan jenderal “Pahlawan Revolusi” itu dengan Purworejo? Apakah asal Ahmad Yani dari sana? Saya sendiri belum tahu.

Saya teringat pada gedung sekolah menengah pertama saya. Saya sekolah di SMP Negeri 3 Pati. Letaknya dekat dusun Randukuning, sebelah barat. Pada halaman tengah, terdapat patung dari kepala sampai bagian dada seorang pria. Ini patung Sugiyono, juga seorang “Pahlawan Revolusi”. Rupanya Sugiyono adalah pendiri SMP Negeri 3 Pati ini.

Pahlawan Revolusi adalah sebutan bagi tujuh orang di Jakarta, dan dua orang di Yogyakarta. Semuanya orang militer. Berpangkat jenderal, kecuali Piere Tendean, ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Ketujuh orang itu hendak diculik oleh pasukan yang diidentifikasi sebagai Cakrabirawa, pada 1 Oktober 1965 dini hari.

Sebagian meninggal tertembak di rumahnya lantaran baku hantam dengan pasukan penjemput, sebagian mau digiring ke suatu tempat di daerah Lubang Buaya. Sampai di sana, mereka terbunuh dan ketujuh jasad itu ditanam pada sebuah sumur kecil.

Versi Orde Baru menyebutkan dalang penculikan dan penyiksaan tujuh jenderal itu adalah Partai Komunis Indonesia. Hingga kini, apa yang sebenarnya terjadi, belum terang. Terlalu banyak sisi gelap sejarah negeri ini. Sewaktu saya sekolah, saya merasa mata pelajaran ini sangat menyebalkan dan sama sekali tak mengasyikkan.

LEPAS DARI PURWOREJO, KAMI MENUJU KULONPROGO. Ini sudah masuk daerah Yogyakarta. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari lima daerah tingkat dua. Kulonprogo, Sleman, Bantul, dan Gunungkidul. Di tengah mereka, terdapat Kotamadya Yogyakarta. Kulonprogo terletak di sisi barat. Kulon artinya barat. Dan Progo adalah nama sebuah sungai. Sungai Progo memang membelah kabupaten ini.

Kami sampai di daerah Wates. Kejar-kejaran dengan si sedan hitam belum berakhir. Kami tak masuk ke dalam Terminal Wates. Tapi bus berhenti pada sebuah kompleks toko. Sebagian besar toko itu adalah agen penjualan tiket.

Ternyata si sopir menaikkan seorang penumpang berjaket kulit berwarna hitam.

Si jaket hitam itu seorang sopir yang sedang prei. Dia duduk di kursi depan, persis sebelah sopir. Keduanya bercakap. Dia mengaku sedang kena skors gara-gara memukuli seorang penumpang. Si jaket hitam banyak bicara soal pengalamannya membawa sebuah bus.

Inti pembicaraan tak jauh-jauh dari aksi kebut-kebutan, ugal-ugalan, edan-edanan, nekat-nekatan. Justru pengalaman seperti itu jadi “prestasi” yang dibangga-banggakan oleh si jaket hitam.

“Aku pernah ‘makan’ roda empat. Dia di tengah tapi lambat. Daripada berlama-lama menghalangi, yah ciak saja,” ujarnya antusias.

Si sopir diam menyimak cerita. Kali ini dia melupakan dan melepaskan sedan hitam yang sudah jauh meninggalkannya.

“Aku juga pernah bawa jurusan Yogya-Purwokerto. Tiba di Kebumen, ada kernek bus lain ngajak berantem. Dia bawa teman sepuluh orang. Ada yang bawa celurit. Aku sih cuma bawa teman tiga orang. Aku habisin lah.”

“Pernah, rem blong. Sempat aku mau hantamkan ke warung tepi jalan. Tapi gak jadi. Aku tetap melajukan bus dan banting arah. Penumpang mengacungi jempol padaku. Kata dia, ‘Kamu sopir jempolan. Rem rusak tapi tidak panik’.”

Jelang pukul tiga sore. Bus sudah sampai di ambang Terminal Giwangan, Yogyakarta. Si jaket hitam minta turun di situ. Dia sudah ditunggu seorang wanita bermotor bebek di seberang jalan.

“Dia itu sopir yang paling berani,” tutur si sopir kepada kondektur terkagum-kagum.

Tiba di Yogya

PUKUL TIGA SORE, BUS PATAS “EFISIENSI” ITU TIBA JUGA DI TERMINAL GIWANGAN. Kaki kami kembali menginjak tanah Yogya. Udara cerah. Yogya lebih hangat daripada Purbalingga.

Dulu, terminal bus di Yogyakarta terletak di Umbulharjo. Lantas beralih ke Giwangan sejak 2001 atau 2002? Letaknya jadi lebih jauh dari pusat kota. Ada pula Terminal Jombor. Jombor ini jadi persinggahan bus yang ke arah Muntilan, Borobudur, atau Magelang.

Begitu kami turun dari bus, banyak orang “menyerbu”. Mulai dari tukang ojek maupun petugas dan calo bus. Seperti Terminal Purwokerto saja, kami mengalami kejadian yang hampir sama.

“Jakarta?”

“Sumatra? Lampung?”

“Solo?”

Dan segala macam tawaran berbagai tujuan. Padahal tujuan kami hanyalah ke Yogya dan kami baru saja sampai di Yogya. Tak bakal ke mana-mana lagi. Tapi itu tugas mereka. Mereka tak mengenal lelah menawari calon penumpang demi mengais rezeki. Setiap orang adalah sasaran, siapa tahu memang bakal jadi penumpang. Tawaran yang tertampik pun tak bakal jadi omelan apalagi meningkat jadi paksaan. Giwangan tak sengeri Pulo Gadung atau Kampung Rambutan di Jakarta, atawa Bungurasih di Surabaya. Setidaknya hingga kini, bagi saya, Giwangan masih aman.

Kami bertanya-tanya, di manakah shelter busway. Akhirnya ketemu juga. Halte di terminal inilah pangkalan enam jurusan yang tersedia hingga kini. Ada nomor 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, dan 3B. Saya belum hapal tiap-tiap jalur. Nampaknya Pemda Yogya perlu sosialisasi lebih gencar. Misalnya, pasang papan informasi jalur dan tujuan busway pada masing-masing shelter atau halte busway atau tempat umum lainnya. Bisa juga cetak brosur.

“Janti, tiga orang,” Mur memesan tiket. Tiap orang seharga Rp3.000. Sama kayak di Jakarta, tiket harus dicemplungkan ke dalam sebuah kotak supaya palang logam membuka sehingga kita bisa masuk ke halte tersebut.

“Tunggu jalur 3A,” ujar gadis penjaga halte ramah.

Beberapa jurus kemudian, seorang gadis kecil berjilbab memesan sejumlah tiket. “Ke Prambanan bagaimana?” Prambanan adalah candi Hindu di daerah perbatasan Yogya dan Klaten. Pendirian candi tersebut satu masa dengan Borobudur yang bercorak Budha. Unik, kedua agama tersebut dapat tersebar beriringan tanpa peperangan. Berbalik dengan kondisi pada asal keduanya, India.

“Naik dulu 3A, turun halte Janti ganti 1B,” jawab petugas yang sama.

Gadis berkerudung itu rupanya seorang pemandu wisata alias guide tour. Dia membawa tujuh cewek bule dan seorang pria asing. Kebanyakan berambut blonde. Tiga cewek masih remaja, manis. Satu orang perempuan dewasa berambut cepak bercelana dan berkemeja macho dan bersikap agak cuek -memberikan kesan tomboy. Sisanya sudah berumur. Jika sesama mereka sendiri, mereka bicara pakai bahasa yang saya tak tahu aksennya. Mungkin Prancis? Mungkin Skandinavia macam Swedia, Norwegia, Denmark, atau Finlandia? Saya cuma menduga-duga, tentunya bukan Jerman atau Belanda. Tapi kalau bicara dengan si pemandu, mereka pakai bahasa Inggris.

Setelah beberapa menit kami menunggu, akhirnya bus 3B itu datang juga. Saya, Mur, dan Mbak Muji naik bersama rombongan wisatawan itu -dan gadis berjilbab itu.

BUSWAY DI YOGYAKARTA BERNAMA “TRANS-JOGJA”. Saya tak tahu mengapa akhir-akhir ini banyak sebutan “Yogya” pakai huruf “J” menjadi “Jogja”. Menyesuaikan dengan lidah asing? Supaya go international? Bisa jadi. Yogya tak pernah henti bersolek dan menggaungkan slogan “Jogja Never Ending Asia”. Gedung pertemuan akbar macam Jakarta Convention Center saja namanya JEC -singkatan dari Jogja Expo Center, bukan YEC. Tapi kalau terlalu terhanyut dengan bermacam hal yang serba asing, saya khawatir Yogya malah makin terasing di tengah warganya sendiri. Kearifan lokal maupun budaya setempat serta rasa kesahajaan lama-kelamaan makin terkikis. Bisa jadi “Jakarta malah pindah ke Yogya”. Saya ingin menikmati Yogya yang seasli-aslinya untuk waktu yang lama ke depan. Ada istilah baru “glocalism”. Berpikir global boleh, asal jangan meninggalkan ciri lokal yang khas.

Busway di sini baru saja ada pada tahun ini. Ini meniru program rapid mass transportation Jakarta. Kalau di sana sebutan bus tersebut “Trans-Jakarta”. Bus di sini tak sepanjang dan sebesar bus di Jakarta. Awalnya busway Jakarta berwarna merah semburat oranye-kuning. Rute awal Terminal Blok M sampai Stasiun Kota. Sekarang sudah berkembang jadi berbagai rute. Namun tetap saja belum efektif menurunkan kemacetan. Nah, busway Yogya umumnya berkelir hijau-kuning.

Tarif busway Jakarta Rp3.500, dan mungkin bakal naik jadi Rp5.000 dalam waktu dekat. Alasannya sih anggaran daerah provinsi selalu bocor tiap tahun untuk mensubsidi proyek transportasi massal berbiaya murah ini. Kalau di Yogya, tarifnya cukup Rp3.000. Biaya ini satu tiket sekali masuk. Tak peduli jauh-dekatnya tujuan. Sekali Anda masuk busway, Anda bisa menikmati perjalanan ini sampai mana pun. Tentu saja pada pemberhentian terakhir atau tatkala sudah terlanjur keluar halte, Anda tak boleh mengulangi perjalanan, kecuali jika beli tiket lagi.

Halte busway di Jakarta umumnya berada di tengah jalan. Jadi, bus besar itu berjalan menggunakan lajur khusus yang terpisah dari kendaraan lain, pada jalan paling kanan. Hal ini memungkinkan lantaran adanya jembatan layang penyeberangan buat pejalan kaki. Satu halte bisa untuk angkut penumpang untuk dua tujuan yang berlawanan arah. Kecuali halte-halte besar macam Dukuh Atas atau Harmoni yang disinggahi lebih dari satu jalur busway.

Yogya? Satu halte hanya untuk satu arah. Busway harus berjalan menggunakan lajur kiri seperti kendaraan pada umumnya. Belum ada separator sehingga busway bercampur-baur dengan kendaraan lainnya. Tak masalah, setidaknya hingga saat ini Yogya belum semacet Jakarta. Merujuk lagu anak-anak ciptaan Kak Seto, belum ada Si Komo lewat di Yogya berhati nyaman ini. Awas, jangan salah masuk halte supaya tak salah tujuan. Untuk tujuan yang berlawanan arah, Anda harus agak repot menuju ke halte yang berseberangan.

Busway Trans-Jogja belum punya electronic-automatic-announcer. Kondektur harus repot mengumumkan bahwa bus bakal tiba pada halte terdekat. Saya melihatnya lucu. Acap woro-woro si kondektur tak digubris oleh penumpang. Lagian, dia berbicara lirih nyaris tak terdengar -kecuali Anda duduk di dekat kondektur.

Cuma, ini nih keunggulannya dibanding dengan Trans-Jakarta. Trans-Jogja full hiburan siaran radio. Menunya kebanyakan klenengan alias tembang-tembang jawa campursari. Suara mengalun syahdu bikin hati tenteram dan tenang. Program radio di siang hari memang kebanyakan campursari. Malam hari, yah wayangan.

“The bus just for tourists?” tanya si bule laki-laki kepada pemandunya. Apakah busway ini hanya bagi wisatawan?

“No, it is for other people too,” jawab guide itu. Bukan, ini juga untuk warga lainnya.

BEBERAPA SAAT MENINGGALKAN TERMINAL, BUSWAY MELEWATI DAERAH KOTAGEDE. Inilah pusat kerajinan perak. Hampir setiap rumah, hampir setiap jengkal, berdiri toko yang menjajakan hasil kerajinan dari logam argentum itu.

“You can buy a ring here with design you want,” tutur cewek pemandu itu kepada para bule. Anda dapat membeli cincin di sini dengan desain yang Anda mau.

“A necklace too?” tanya seorang bule perempuan. Kalung juga?

Yang lainnya menyimak. Bule wanita macho tak banyak omong. Dia minta tempat di kursi belakang paling pojok sebelah kiri -jika dilihat dari pandangan sesama orang yang duduk, sebaliknya jika dilihat oleh orang yang menghadapnya, berarti dia duduk di sudut kanan. Terpisah satu orang dari saya yang juga duduk belakang. Dia mau tidur sejenak.

“No, no. just ring.” Tidak, tidak. Cuma cincin.

“Earring?”

Si gadis pemandu menggeleng sambil tersenyum. Saya kira dia dua-tiga tahun lebih muda daripada saya. Pada beberapa bagian bahasa lisannya tak sempurna. Hanya modal pede ngomonglah yang membuat komunikasi mereka nyambung. Pede adalah singkatan dari percaya diri.

Baru saja Kotagede kami tinggalkan. Laju busway pelan dan tenang. Pada tiap halte penumpang turun dan naiklah penumpang baru. Hingga kami sampai juga di daerah Gedongkuning. Tiba di JEC, bus berhenti di halte Rumah Makan Ayam Goreng Bu Tjitro. Di rumah makan itu, Romi, keponakan cewek Mur, bekerja. Tinggal beberapa ratus meter, kami bakal sampai tujuan. Selanjutnya ke jembatan layang Janti.

Si gadis menjelaskan menu wisata yang bakal tersaji. Di Prambanan bakal ada sendratari Ramayana. “Like ballet.” Kayak balet -kalau di Eropa.

Kalau sampai di Prambanan, mereka sudah dipersiapkan penginapan yang berbaur dengan penduduk desa. Keesokan harinya, “You will try milking a cow.” Anda bakal coba memerah susu sapi.

“Wow, not a goat?” Wah, bukan susu kambing? Si turis antusias.

“No, a cow.” Bukan (kambing, tapi) sapi. “And you will go to field to rise baby paddy.” Dan Anda juga bakal ke sawah menanam padi.

“Ah, that will be great! We will rise rice, right?” Ah, bakal asyik. Kita akan menghasilkan beras, bukan?

Saya dan Mur cuma menyimak percakapan mereka tanpa bermaksud nimbrung.

AKHIRNYA KAMI TIBA JUGA DI SHELTER BUSWAY JALAN SOLO, DEKAT PEMBERHENTIAN BUS YANG HENDAK KE SOLO. Banyak penumpang yang turun. Termasuk delapan bule itu dan gadis guide. Namun rombongan itu tak keluar halte. Mereka hendak nyambung jalur 1B, ke Prambanan. Saya, Mur, dan Mbak Muji juga turun. Duh, sesak. Halte yang sempit itu berisi banyak manusia yang berdesakan.

“Permisi, excuse us, excuse us…” saya minta jalan guna keluar. Pintu keluar halte ada di ujung barat dan saya harus menerobos badan-badan yang berdiri di dalam kotak kaca itu.

Akhirnya kami bertiga bisa keluar juga. Kami menyeberangi jalan raya ke arah selatan. Tiba di trotoar seberang, kami menembus gang kecil di antara pertokoan. Kami menembus perumahan, menuju kos Mur.

Waktu itu pukul setengah empat sore. Yogya, sambutlah kami kembali.

* * *

EPILOG

TAK LEBIH DARI SEBULAN, TAK KURANG DARI TIGA PEKAN, akhirnya rampung juga catatan perjalanan ini. Rabu (6/8), sehari setelah perjalanan, saya mulai menulisnya. Cerita pertama selesai dan saya unggah di blog pada Jumat (8/8). Lantas saya konsentrasi memikirkan kelanjutannya.

Cuma, tercekat selama lebih dari seminggu. Sabtu (9/8), saya pulang ke Pati. Seminggu lebih saya di sana menemani Ibu. Sekaligus menunggu kakak pulang pada liburan hari kemerdekaan Indonesia. Mas Wiwin baru tiba pada Sabtu (16/8).

Kontan, selama itu, saya stop total merancang cerita kedua dan seterusnya. Laptop masih rusak, belum saya perbaiki. Walhasil, saya tak dapat mengetik di rumah Pati. Saya alihkan perhatian, menulis tiga fiksionalisasi peristiwa nyata di sana -itupun mengetik di warnet dengan kejaran argo tarif sewa per jam. Justru saya menemukan hal yang tak kalah menarik di Pati. Senyampang saya beruntung memperoleh bahan yang bisa memperkaya tulisan ini nantinya.

Saya juga harus menulis geliat kegiatan RT 1 RW 1 Pati Lor, tempat di mana kami tinggal, dalam merayakan kemerdekaan negeri ini. Lucu. Lugu. Tulus. Tiap warga punya cerita dan pendapat, apalagi anak-anak. Tulisan itu masih saya kerjakan.

Barulah pada Senin pekan depan (18/8), saya balik ke Yogyakarta agar bisa kembali meneruskan kelanjutan cerita perjalanan ke Purbalingga. Saya menulis semuanya memakai komputer Mur. Tulisan kedua selesai dan saya unggah pada Jumat (22/8).

Sabtu keesokan harinya (23/8), saya dan Mur bertandang ke Ponjong, menengok Bu Parti. Mbak Muji juga pulang ke sana. Kami kembali ke Yogya pada Senin (25/8). Penulisan sempat terhenti. Barulah tulisan ketiga, yang terakhir, menyusul kemudian dan terunggah kini. Komplet sudah. Saya plong.

Atas hasilnya, saya merasa belum puas. Ini bukan karya jurnalistik, saya kira. Meskipun saya menggunakan upaya verifikasi atas sejumlah bahan dan narasumber. Namun semua itu saya rasa belum cukup. Narasumber yang saya pakai hanyalah orang dekat. Saya belum mengeksplorasi, misalnya sumber warga atau aparat dan pejabat pemerintah di sana. Data statistik maupun angka kering. Berapa rata-rata pengunjung Owabong sehari? Berapa total penduduk Purbalingga? Berapa pendapatan per kapita mereka? Bagaimana sejarah kota ini? Apa saja kosakata bahasa ngapak yang terasa aneh dan lucu di telinga saya? Dan sebagainya. Walhasil, ini semata latihan bagi saya untuk menulis panjang.

MENULIS PANJANG BUKAN PERKARA MUDAH. Butuh stamina banyak, baik tenaga dan pikiran. Saya perlu banyak siasat agar bisa memberikan sesuatu yang menarik bagi pembaca. Saya perlu mereka-reka apakah pembaca bakal bosan setelah sekian lama menyimak. Saya sendiri sebenarnya kurang pede apakah pengalaman ini menarik untuk dituangkan jadi tulisan panjang. Beberapa kali saya harus baca lagi tulisan yang sudah-sudah. Saya mesti cek, apakah ada informasi yang terlewat dan belum saya tulis.

Hal yang paling susah adalah melawan lupa. Mengingat-mengingat-dan mengingat. Jika terlalu lama saya membengkelaikan bahan yang ada, bisa jadi memori yang terbatas ini makin terkikis. Apalagi saya tak punya catatan sama sekali. Praktis, saya hanya mencatat hal-hal penting dengan komunikator Nokia seri 9300. Selebihnya, tak ada rekaman tak ada bahan tertulis tak ada riset mendalam. Beberapa bagian justru saya lupa dan amat susah untuk mengingatnya. Tentunya setelah itu, ada beberapa perubahan kondisi serta perkembangan yang dialami oleh tiap-tiap narasumber. Burung podang di Purwakarta lepas dari sangkar terbang entah ke mana. Tiga ekor kambing Mas Gito di Ponjong yang tersisa akhirnya dibeli oleh Mas Jarwo.

Yah, saya merasa tulisan panjang ini tak memuat informasi yang basah. Simpel. Remeh. Ringan. Cuma pengalaman saya berkunjung ke sebuah kota yang sebelumnya tak pernah saya singgahi. Lagipula memang masih banyak lokasi di Purbalingga yang belum saya jamah. Misalnya objek wisata Goa Lawa dan Desa Wisata. Walhasil, tulisan ini hanyalah eksperimen dengan minim perencanaan. Terlebih, ajakan ke Purbalingga adalah hal yang tak terduga buat saya.

Di kala semangat terasa surut, dukungan sangat saya perlukan. Saya sempat berpikir apa sih pentingnya menuntaskan tulisan tentang peristiwa yang telah lewat begitu saja? Seberapa pentingkah perjalanan itu?

Cerita bagian pertama saya lempar di milis pers mahasiswa kami di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Equilibrium (sobateq@yahoogroups.com). Ada tanggapan singkat yang muncul, dari kakak angkatan saya, Beta Perkasa, yang kini jadi jurnalis ANTV. Beta hanya sebaris bertanya, bisakah dibikin novel? Saya kurang pede menjawabnya karena tulisan ini tak lebih dari percobaan, latihan, eksperimen. Tapi lontaran pertanyaan itu bagi saya adalah lecutan pemompa spirit.

Saya coba-coba menulis panjang setelah mengikuti kursus “Jurnalisme Sastrawi” yang diselenggarakan oleh Yayasan Pantau. Pengampunya Andreas Harsono dan Janet E. Steele. Dari mereka saya berkenalan dengan karya jurnalistik yang panjang-panjang.

Janet membelikan kami -belasan peserta kursus- sebuah buku yang berjudul “Pencuri Anggrek” karya Susan Orlean, jurnalis majalah narasi The New Yorker. Apik. Orlean begitu sukses menghidupkan karakter John Laroche yang sangat unik.

Ada juga John Hersey yang menelurkan “Hiroshima”. Ditulis pertama kali pada majalah The New Yorker untuk edisi Agustus 1946. Panjang karangan sekitar 30.000 kata. Saya membaca tuntas karya terjemahannya yang berbentuk novel. Benar-benar menarik. Karya inikah yang membuat Albert Einstein rela cari-cari majalah ini untuk memborong seribu eksemplar? Karya inikah yang membungkam semua mulut dalam perdebatan soal nuklir dan menyatukan semua kubu: parlemen, pemerintah, militer, agamawan, pekerja sosial, kalangan medis, ilmuwan, dan sebagainya untuk sepakat berseru, “Hentikan senjata nuklir”? Benar-benar ekselen. Tak heran karya ini jadi ranking pertama karya jurnalistik abad keduapuluh.

Saya juga memegang Jung Chang, “Angsa-Angsa Liar”, sudah saya khatam -tamatkan. Karya sepanjang 600 halaman ini begitu rinci. Tebal nian. Kisah tentang tiga wanita Cina yang menghadapi jaman yang bergolak. Jung Chang memaparkan semuanya dengan detil pada biografi dia sendiri. Cuma, menurut saya, perempuan ini gagal membangun percakapan langsung tokoh-tokoh yang berupa dialog atau monolog dalam bukunya itu. Jung Chang terlalu asyik dengan deskripsi dan menulis seolah bertindak sebagai narator dalam sebuah film. Kutipan-kutipan (quotes) yang berfungsi seolah narasumber sendirilah yang bertutur ke telinga pembaca, begitu minim. Mungkin rentang waktu yang begitu panjang, kisah tentang tiga generasi, yang membuat Jung Chang terkendala merekonstruksi dialog-dialog dari berbagai peristiwa yang amat lampau itu.

Beberapa karya Mas Andreas dan jurnalis Pantau lainnya juga saya baca. Dari situlah saya tertantang, bisa gak yah saya menulis panjang?

MENULIS PANJANG BERARTI MENGERAHKAN SELURUH KEMAMPUAN. Kata Janet Steele, menulis panjang seperti menulis skenario film. Kita harus memikirkan atensi pembaca, eh, penonton. Jangan sampai mereka jenuh, bosan, dan akhirnya mencampakkan tulisan kita yang belum selesai mereka baca. Mereka harus merasa asyik, terhibur, dan tuntas menguliti kata demi kata.

Alur dan plot, setting tempat dan waktu, karakter tokoh, dan segala unsur mesti cermat kita perhitungkan. Dalam tulisan ini saya coba keluarkan segala kemahiran. Saya tak mau terjebak pada kronologi. Saya mencoba mengaduk-aduk alur yang ada. Dalam satu waktu, pasti setiap orang mengalami hal yang berbeda pada tempat yang berbeda pula. Saya coba menerapkan kemampuan naratif itu. Apa yang dialami oleh tiap-tiap tokoh pada waktu yang sama, sementara kami terpisah pada tempat yang berbeda? Beberapa bagian saya simpan untuk tulisan di bawahnya. Sekali lagi, saya tak mau terjebak terlalu kronologis. Dan saya masih merasa belum lihai amat memoles “skenario” itu.

MENULIS PANJANG JUGA BERARTI BICARA SOAL BERAPA JUMLAH KATA. Bukan berapa total karakter. Satu karakter setara dengan sebiji huruf. Sepanjang karir jurnalistik yang baru empat tahun, saya belum pernah menulis panjang.

Menulis panjang butuh waktu yang panjang pula. Masalahnya, hampir setiap wartawan dikejar oleh momok deadline. Saya pernah bekerja untuk mingguan Kontan. Satu halaman tabloid itu kira-kira sepanjang 6.500 karakter. Saya pernah dengar dari Redaktur Tempo Taufiqurrahman, dalam sebuah diskusi terbatas dan terfokus, satu halaman majalah berisi 3.500 rumput huruf plus satu gambar foto. Saya juga pernah berbincang dengan jurnalis Tempo lainnya, Dian Yuliastuti, satu berita pada halaman utama Koran Tempo mengandung 2.000-3.000 karakter. Berita biasa pada halaman dalam tak lebih dari 1.500 karakter. Hal itu dibenarkan oleh Maria Hasugian, jurnalis Tempo lainnya -dalam sebuah pelatihan. Saya pernah bekerja untuk situs berita bidang hukum, Hukumonline. Tak ada batasan panjang berita. Namun, tulisan terpanjang saya tak lebih dari 12.000 karakter. Kalau dihitung berapa kata? Media situs Indonesia, di samping kecepatan yang berdampak acap mengorbankan akurasi, masih terlalu mendewakan keringkasan -conciseness. Bagi saya ini ironi, mengingat media cyber tak mengenal batas ruang atau jatah halaman -Anda boleh setuju, boleh juga tidak.

Rupanya setiap hari kita tak pernah punya jeda, sejenak bernapas, untuk berlatih menulis panjang.

Dan saya pribadi merasa harus bisa menulis panjang. Kisah pengalaman di Purbalingga ini semacam latihan bagi saya. Semoga tulisan coba-coba ini bermanfaat bagi saya sendiri, maupun untuk Anda, para pembaca. Berbagai nama yang tersebut dalam tulisan ini, termasuk para narasumber, sangat memberikan inspirasi serta masukan bagi saya, baik langsung maupun tak langsung. Meski demikian, tak satu pun tanggung jawab yang bakal timbul dari konsekuensi tulisan ini menjadi beban mereka. Segala kesalahan terpulang pada kebodohan dan kecerobohan saya semata. Salam.

Yogyakarta,

27 Agustus 2008

3 responses to “Ke Purbalingga, Sebuah Traveloque Kecil (Cerita Ketiga -Terakhir)

  1. So good. You’ll be a big writer.

  2. Himawan Andi Kuntadi

    MANTAP BOS !!

  3. saya cuma ingin tahu, apakah cerita tentang supir bus efisiensi yang ugal2an itu benar adanya? dan menaikkan penumpang setelah rest area wonosari juga benar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s