Ke Kubur Segaran

Jumat, 15 Agustus 2008. Pagi cerah. Sisa hujan semalam sudah terserap sempurna oleh bumi. Tanah kembali terang. Matahari bersinar hangat. Aku hendak ke kubur Bapak dan Nenek, di kompleks pekuburan Segaran dengan jalan kaki.

Tempat peristirahatan terakhir itu terletak di gang Rukun Tetangga 9 Rukun Warga I Kelurahan Pati Lor. Rukun Warga I artinya untuk dusun Kaborongan. Pati Lor terdiri atas tiga kampung. Kaborongan, Saliyan, serta Randukuning.

Aku ke sana setelah beberapa bulan tak nyekar. Sekar artinya bunga. Nyekar adalah istilah menilik kubur kerabat, teman, atau keluarga kita. Umumnya sih memang dengan menabur bunga di atas kubur mereka, sembari memanjatkan doa untuk keselamatan mereka di kehidupan setelah alam dunia.

Aku berjalan ke utara dari rumahku, Jalan Kyai Saleh. Jalan kaki.

Jalan ini hanya sepanjang beberapa ratus meter, membentang dari selatan ke utara. Terletak di sebelah barat alun-alun. Ujung selatan terpotong oleh Jalan Panglima Sudirman. Ini jalur pantai utara Jawa ke arah barat alias searah. Ke Kudus, Demak, Semarang, dan seterusnya lewat jalan ini. Pusat kota alun-alun adalah pangkal jalan ini. Sedangkan ujung utara tersekat oleh Jalan Pangeran Diponegoro. Ini juga jalan searah pantura -bagi kendaraan bermotor besar- ke timur atawa kebalikan Jalan Sudirman. Ke Juwana, Blora, Rembang, Lasem lewat jalan ini. Seberang utara pada perempatan jalan itu sudah berganti nama lain, Jalan Penjawi.

Pada pertigaan batas RT 2 dan RT 3, masih di Jalan Kyai Saleh, aku berjalan lurus saja ke utara. Itu ada Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Pati. Dulu namanya Sekolah Teknik. Halaman depan sekolah itu terhampar dua lapangan voli. Lapangan voli sisi timur sekalian jadi satu sebagai lapangan basket. Aku basket di sini tiap sore. Sudut barat daya terdapat pasir untuk lompat jauh. Dulu waktu aku masih sekolah dasar, lapangan ini berumput, belum ada lapangan basketnya. Sehingga bisa kami pakai main sepak bola. Sekarang sudah terplester semen dan paving. Hanya bisa buat basket dan voli.

Tiba juga beberapa menit aku di perempatan Jalan Diponegoro. Truk dan bus gede melintas. Beberapa tukamg becak mangkal. Lampu lalu lintas menyilakan aku menyeberang. Perjalanan masih beberapa ratus meter lagi. Aku berjalan di trotoar sisi timur. Di seberangku, berdiri Kantor Kelurahan Pati Lor. Dulu, pada 1994, waktu kelulusanku dari sekolah dasar, pesta dan perayaan perpisahan kami digelar di situ. Balai itu jadi pertemuan bulanan ibu-ibu PKK kelurahan ini. Atau sehari-harinya, guna mengurus administrasi warga. Urus kartu tanda penduduk, urus perkawinan, dan sebagainya.

Beberapa rumah tipe kuno sangat memanjakan mata. Nampak asri ditingkah beberapa tanaman hias.

Tiba juga aku di mulut gang RT 9. Tepat di depanku ada rumah bernomor 40. Terpampang papan nama “Doerjat”. Rumah ini menerima kos putra dan sekarang lagi dipakai oleh CV Galang Sarana. Aku masuk ke mulut gang, beberapa puluh meter tiba juga di pekarangan kubur.

Segaran. Nama itu lantaran sewaktu musim hujan pekuburan ini tertutup air hujan, banjir. Jadinya seperti lautan. Segoro artinya laut, dalam bahasa Jawa. Ada kaitannya dengan “segar”? Aku tak tahu. Setahuku air pada umumnya memang menyegarkan.

Sudah berapa puluh, atau ratus pasang patok yang sudah tertancap di sini. Pekuburan pagi itu sepi. Hanya aku. Dan seorang penjaga kubur. Lelaki setengah baya itu giat mencangkuli semak-semak hingga tanah kubur tertata rapi. Biasanya dia ditemani seorang wanita, mungkin istrinya. Si perempuan mengumpulkan bunga kamboja buat diambil sarinya jadi parfum. Kali ini si perempuan tak nampak.

Aku berjongkok di samping kubur Nenek. Siti Mutma’inah. Meninggal pada 17 September 1989. Aku ingat, Nenek meninggal pada hari libur. Waktu aku duduk di kelas tiga.

Nenek adalah ibu ibuku. Nenek punya sepuluh anak, Ibu anak bungsu. Sebenarnya Ibu punya adik, namun meninggal sejak bayi.

Kakek? Kakek meninggal pada 1952, waktu Ibu berusia lima tahun. Kakek bersemayam di kompleks kuburan Saliyan. Letaknya beberapa ratus meter dari kuburan Segaran. Di tepi Jalan Pangeran Diponegoro. Jadi harus ke arah barat kalau hendak ke sana.

Aku pikir Nenek sayang aku. Jika aku murung dan bosan, aku tinggal mainanku berserakan di lantai. Dia beresi, dia masukkan ke sorok blifet, tempat mainan itu. Aku juga sering tidur dengan Nenek kalau malam. Aku usil, kalau dia salat, sewaktu sujud, aku tunggangi punggungnya. Nenek cuma bilang, “Anak kok nakal gini.”

Hari-harinya dia isi dengan kue lupis dan jamu gendong. Tiap pagi dia borong sepuluh pincuk lupis, meski tak termakan semua. Tiap sore dia duduk-duduk di seberang barat rumah kami, hanya melihat-lihat kendaraan yang berseliweran di Jalan Kyai Saleh itu. Jika Mbok Jamu lewat, dia beli jamunya.

Aku lupa raut Nenek, kecuali jika lihat foto perkawinan orang tuaku. Yang jelas, aku juga sayang Nenek.

“Mari Pak,” aku menyapa penjaga kubur.

“Mari… liburan?”

“Iya.”

Aku berjalan beberapa puluh meter ke arah barat laut. Ke tembok barat kompleks kuburan itu. Di seberang tembok ada sebuah tower. Mungkin menara BTS. Kubur Bapak ada di dekat situ, seberang menara yang tersekat oleh tembok. Tanahnya tak setinggi dulu. Kini lebih datar, meski masih membentuk gundukan.

Bapak, namanya Haryanto, meninggal pada 3 Oktober tahun lalu. Sewaktu Ramadan, cuma beberapa hari jelang Lebaran. Kata Ibu, “tanggal 23 bulan puasa.” So, beberapa saat lagi kami memperingati setahun perginya Bapak.

Kali ini aku tak bawa bunga atau sebotol air untuk menyiram kubur mereka. Aku cukup panjatkan doa.  Usai berdoa aku hampiri Pak Penjaga Kubur yang sedang mencangkul tanah.

“Saya pamit dulu,” ujar saya menyalami dia, sambil menyelipkan dua lembar uang sebagai tanda terima kasih sudah merawat kubur ini.

“Lama tak kelihatan.”

“Iyah, ini baru bisa pulang. Mari…”

“Silakan.”

Aku tak habis pikir apa jadinya jika tak ada orang macam dia. Pasti pekuburan tak terawat dan tertata rapi. Jelang pintu keluar, aku lihat ada gundukan tanah masih merah. Beberapa potong kembang juga tersebar di atasnya. Mungkin masih baru. Eddy Julianto, meninggal pada 15 April 2008.

Suatu saat, entah kapan, pasti tiap manusia yang tersisa di dunia ini bakal menyusul Ahli Kubur. Tak tahu kapan, cuma soal waktu. Beristirahatlah dengan tenang. Memento mori.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s