Ampo

Bau tanah terkena hujan memang menyegarkan. Rongga kepala terasa longgar.

Hujan di bulan Agustus. Nampaknya tahun ini lebih sejuk daripada dua tahun belakangan. Meski tak sesegar tahun-tahun sebelumnya. Dua tahun sebelumnya, cuaca kering kerontang gerah menyengat. Apalagi di Jakarta sumber polusi.

Hujan di bulan Agustus. Malam hari lalu. Di Pati. Angin sejuk menyelinap melalui sekat-sekat jendela kamarku. Begitu membelai. Butir-butir tanah yang lembut hingga tak kasat mata terangkat, terpelanting oleh jatuhnya tetes air dari langit. Menguar, hingga masuk ke hidung lamat-lamat. Baunya khas. Segar.

“Itu namanya ampo,” kata Ibu.

Serasa beban pikiran di kepalaku jadi tanggal satu per satu. Sangat menyegarkan. Ini terapi yang sebenarnya. Hujan di bulan Agustus. Hujan di sela musim kemarau. Begitu indah simponi suaranya mengetuk segalanya yang di atas bumi. Genting rumah, daun-daun pepohonan, jalan aspal, serta debu tanah. Begitu harumnya ampo.

Esok hari yang cerah, rerumputan di taman depan rumah tersenyum segar. Bersama embun hujan semalam. Aku masih ingin mencium ampo.

One response to “Ampo

  1. bau ampo itu emang banget…
    apalagi kl makan ampo… lebih enak banget tu…
    lo2 semua dah pada nyobain blm??????????
    ampo itu bener2 enak bgt loh…
    kl ga percaya cobain az……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s