Sekolah

Sebuah cerita fiksi oleh Yacob Yahya

(730 kata)

Titin menangis meraung di muka ibunya.

Dia bukan anak kecil. Umurnya sudah lewat paruh pertama 30 tahun. Hampir 40 tahun. Ibunya hanya terdiam menghadapi rengekan itu. “Kenapa Ibu gak menyekolahkan aku? Dari semua saudara-saudari, cuma aku yang gak sekolah? Mengapa???”

Titin anak keempat dari enam bersaudara. Semua saudaranya menyecap pendidikan formal, setidaknya hingga sekolah dasar. Anak barep -sulung- laki-laki kini jadi blantik (penjual) sapi di pasar hewan. Bukan sapi hasil ternakan sendiri, tapi titipan orang. Penghasilannya dari persenan alias komisi, tergantung harga jual. Dua kakak perempuannya juga lulusan SD. Dua adik perempuan Titin, pun jebolan SD.

Dia? “Kata Ibu gak ada gunanya sekolah. Aku sejak kecil disuruh bantu orang tua terjun ke sawah saja. Dan aku manut saja,” tuturnya.
Ibunya punya sepetak sawah. Di usianya yang makin tua, dia rela berbalur lumpur mengolah sawah. Hingga kini, anak-anaknya pada sibuk dengan profesinya sendiri dan tak mau mengurus lahan padinya. “Kalau gak mau ke sawah, yah aku pengen jual saja sepetak lahan ini,” tukas ibu Titin dengan berat hati, setengah mendusin.

Titin kini jadi pembantu rumah tangga keluarga Ibu Khadijah. Ibu Khadijah punya tiga anak, laki-laki semua. Ketiganya sudah keluar kota, bekerja. Anak pertama di Jakarta, menikah, belum punya anak. Anak kedua pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Keduanya adalah wartawan. Anak ketiga yang paling jauh, di Halmahera, jadi pegawai Perbendaharaan Negara. Tahun ini Khadijah berusia genap 60 tahun. Suaminya tahun lalu meninggal. Sendirian, Khadijah ditemani oleh Titin.

Keluarga Titin dari dulu setia bekerja pada keluarga Khadijah. Keduanya akrab. Ibu mertua Titin, Tini, pernah bekerja sewaktu Khadijah muda, kala berusia 30 tahunan. Lantas Tijah, anak kedua Tini, yang nantinya jadi adik ipar Titin, juga pernah bekerja di sana. Kini giliran Titin.

Titin begitu rajin. Prigel, sregep. Segalanya beres. Mulai cuci baju, setrika, bersih-bersih rumah, hingga melayani Khadijah. Bikin teh hangat, masak, hingga jus belimbing.

Aktivitas rutinnya adalah turut menemani Khadijah nonton teve. Jika ada berita, tak segan dia minta dijelaskan, “Apa sih maksudnya Bu?”

Atau, “tulisan di teve itu bacanya apa?”

Sesekali dia menuangkan komentar pada dunia politik. Waktu itu dia lihat berita yang memunculkan pernyataan wakil presiden. “Ah, saya gak percaya lagi pada Pak Anu. Kumisnya kayak Jojon. Gak mau pilih dia lagi ah. Dia otak kenaikan harga bahan bakar minyak. Semua barang jadinya mahal. Dasar pedagang gak mau rugi. Yang rugi rakyat kecil kayak saya ini.”

Waktu acara Kick Andy di Metro TV, dia menyimak dengan takzim. Andy F Noya, si pembawa acara, mewawancarai sejumlah orang berprofesi “rendahan” berhasil menyekolahkan anak-anak mereka. Ada tukang jamu, penjaja air minum, dan lain sebagainya yang sukses mengantarkan anak-anak jadi sarjana. “Mereka punya tekad, walau kami gak sekolah, kami akan sekolahkan anak kami hingga setinggi-tingginya. Cukup orang tua mereka yang bodo, asalkan mereka jangan bodo kayak kami,” begitu dia mencari inti sari hikmah acara talkshow waktu itu.

Titin sebenarnya boleh bangga. Anak sulungnya -dia punya dia anak- jadi bintang kelas di SD-nya. Kini si sulung melanjutkan sekolahnya di sekolah menengah pertama negeri. Meski bukan sekolah favorit, cukup membesarkan hati Titin.

Satu kali Titin diajak Khadijah ambil duit di mesin ATM sebuah bank. Jalan-jalan. Dia lihat banyak gerobak pedagang. Ada gorengan, ada lele penyet, macam-macam. Dia nyeletuk, “gimana baca tulisan itu?” tunjuknya pada tulisan “Gorengan” pada sebuah gerobak pedagang kaki lima.

Minat dan keinginan Titin supaya bisa baca besar.

Namun dia tak banyak bisa menjelaskan pertanyaan anak keduanya yang balita. Anak kecil sedang tinggi-tingginya rasa penasaran. Suatu sore, ketika duduk di beranda muka rumah majikannya, lewatlah bus besar di jalan depan rumah.

“Itu bus apa Bu?”

“Sebentar yah,” jawab Titin sambil mencari Khadijah, bertanya apa tulisan di bus itu.

“Ah, ibu sih… gak bisa baca. Ibu gak pernah sekolah sih…”

Ledekan si kecil itulah yang bikin Titin kalap di depan ibunya, minta “pertanggungjawaban”. Ibunya hanya terima diam, tak dapat berbuat apa-apa.

“Itu loh, aku dimarahin di ledek anak bungsuku, yah cucumu sendiri, habis gak bisa baca sih…” sambungnya waktu itu.

Saudara-saudara yang menyaksikan kejadian itu turut terisak. Meledaklah seisi rumah itu dengan gemuruh tangis. Sang ibu masih terdiam.

“Ah, cukup-cukup-cukup,” ujarku setengah protes mendengar cerita macam begitu. Aku banting di atas meja buku Deschooling Society punya Ivan Illich. Di saat masih banyak orang yang pengen merajut asa lewat pendidikan, masih saja ada anjuran edan agar meninggalkan sekolah. Ide itu yah muncul dari kepala Illich itu tadi.

Ah, aku bingung. Makin bingung. Katanya, sekolah bakal gratis. Biaya pendidikan mencukupi bagi warga. Mana sih buktinya? Ini jualan kecap jelang pemilihan umum toh?

One response to “Sekolah

  1. Benar2 lugas dan menohok!!
    Andalah capres RI tahun 2024 kelak hehehehe,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s