Pati, 685 Tahun

Pada 7 Agustus lalu, Kabupaten Pati, kota asalku, sudah berusia 685 tahun. Jauh lebih tua daripada Jakarta yang “baru” berumur 401, pada 22 Juni lalu. Meski sangat tua, kota kecil di pantai utara Jawa ini seret perkembangan ekonominya.

Anda tak kenal Kabupaten Pati? Bukan salah Anda. Soalnya, kabupaten paling utara di Jawa Tengah -bersama Jepara- ini seringkali disebut “kota pensiunan”. Segala hal di sini seakan tiada berubah. Ajek. Tenang. Adem ayem. Kecuali pedagang kaki lima yang jumlahnya makin marak dan makin memadati jalanan.

Coba saja tengok situsnya. Pertama, http://www.patikab.go.id. Masih dalam pengembangan. Atau, http://www.pati.go.id. Ah, agak mendingan, namun cuma halaman muka dan belum terisi menu lainnya.

Pati dipercaya lahir pada 7 Agustus 1323. Hanya tiga puluh tahun sesudah Majapahit berdiri pada 1293. Namun, sebelum berubah nama jadi Pati, sebelumnya sudah ada Kadipaten Pesantenan. Ibukotanya Desa Kemiri. Bernama Pesantenan, konon karena terkenal akan dawetnya.

Dawet adalah minuman khas Jawa. Tiap daerah punya dawet masing-masing. Dawet minuman berkuah santan. Air hasil parutan kelapa yang berwarna putih susu.

Pesantenan berubah jadi Pati, ibukotanya di Kaborongan. Kini jadi tempat tinggalku. Kaborongan saat ini merupakan salah satu dari tiga dusun di Kelurahan Pati Lor. Kantor kabupaten hingga saat ini bertempat di dusun ini. Konon, asal nama ini lantaran banyak dawet yang diborong atau dibeli dalam jumlah besar.

Bupati pertama Pati adalah Tambranegara. Makamnya dekat rumahku, RT 1 RW 1. Dipugar pada tahun 1995, tepat pada hari jadi kabupaten ini. Hingga kini, tiap jelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia, warga Kaborongan, khususnya warga RT kami, ziarah dan rame-rame selamatan di makan ini. Atau, pada malam tahun baru Islam, malam tanggal 1 Syura.

Cobalah Anda mengingat-ingat nama Ribut Waidi. Pesepakbola milik PSIS Semarang ini berhasil mengantarkan klubnya juara Perserikatan, menaklukkan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Senayan -sekarang jadi Gelora Bung Karno pada kompetisi 1987. Ribut adalah kelahiran Kecamatan Trangkil, sebuah kecamatan di bagian tengah-utara Kabupaten Pati, pada 1962.

Atau Ismail Saleh? Letnan Jenderal kelahiran Kecamatan Sukolilo 1962 pada era Orde Baru ini pernah jadi Jaksa Agung (1981-1984) dan Menteri Kehakiman (1984-1993).

Sukolilo adalah kecamatan sebelah selatan, berbatasan dengan Kabupaten Grobogan. Banyak pohon jati dan kondisi tanahnya berkapur.

Anda pasti kenal siapa Kwik Kian Gie. Dia ekonom mantan menteri koordinator bidang ekonomi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Saya pernah wawancara -bersama dua jurnalis lainnya- dengan Kwik dan pernah saya muat di blog ini. Dia kelahiran Juwana, 1935. Juwana adalah kecamatan penghasil ikan laut di sebelah timur. Bandeng presto Semarang? Itu dipasok dari Juwana.

Eh, Pati terdiri dari 21 kecamatan loh. Ada sekitar 400 desa dari seluruh kecamatan itu.

Pati belum punya basis produksi. Praktis, yang terkenal baru dua pabrik kacang, Garuda dan Dwi Kelinci. Keduanya sempat berseteru di meja hijau lantaran persaingan ketat. Garuda berbasis di timur, dekat Juwana. Dua Kelinci -merek yang diproduksi perseroan Dwi Kelinci- berbasis di barat, dekat Kecamatan Margorejo.

Juwana akan kita lewati kalau dari dan ke wilayah timur, seperti Blora. Dari Blora kita bisa makin beranjak ke timur, seperti Lamongan atau Bojonegoro. Tak heran, lagak bahasa Pati sudah agak kejawatimuran. Beda nian dari Solo dan Yogyakarta. Dus, bukan ngapak seperti Tegal-Purbalingga-Kebumen-Banyumas.

Margorejo akan kita lewati jika kita dari atau ke Kudus. Dari Kudus kita bisa makin ke barat, Demak-Semarang-hingga Jakarta.

Saya kurang paham, mengapa yang digenjot adalah basis konsumsi. Ini terlihat nyata. Banyak plasa dan pusat belanja berdiri. Ada Plasa Pati di lingkungan Kaborongan. Ada pula Salsa, Simpang Lima Plasa, di seberang timur alun-alun. Padahal banyak tenant yang sepi pengunjung. Bagaimana mau mengonsumsi jika daya beli (baca: pendapatan per kapita) masih rendah? Jangan kaget jika rupanya upah minimum regional di sini belum menyundul angka Rp400 ribu.

Pati dari masa ke masa sangat ketinggalan dari para tetangganya. Sebutlah Jepara dan Kudus. Kedua kabupaten itu di sebelah barat. Kudus punya pabrik rokok Djarum. Meski pabrik rokok yang cukup tua, Djambu Bol, terancam tutup. Jepara punya kerajinan mebel, meski bukan daerah hutan. Atau di sebelah timurnya, Blora? Blora dekat dengan Bojonegoro yang mengandung minyak, Blok Cepu.

Baliho raksasa bergambar duet pemimpin daerah, Bupati Tasiman dan Wakil Bupati Ani, berkibar megah di kantor kabupaten, pagi itu waktu saya dan Ibu jalan-jalan.

Pati, seiring bertambahnya usiamu, seharusnya kau makin unggul dan maju.

14 responses to “Pati, 685 Tahun

  1. kenapa Pati disebut kota pensiunan..?apa krn banyak warga pati yg baru pulang kampung kalo sdh pensiun

  2. nawan,
    Suasana di sini hampir tak pernah berubah dari waktu ke waktu. Tenang adem ayem aja. Kayak kehidupan pensiunan menikmati hari tua. Hehehe…

  3. Aku mau nanya..? boleh kan cerita ulang tahun pati ini aku munculkan di emailku.biar oarng2 tau ttg cerita pati mereka tmn chat aku ornag pati semua kok.thank….!

  4. nawan,
    silakan dengan senang hati cerita ini anda bagikan pada kawan2.trims.

  5. mantap tenan boz….😀

  6. Tapi saya suka alun-alunnya. Rame, beragam, tapi paginya bisa bersih tanpa jejak…

    Memang iya sih, saya merindukan minimal adanya toko buku berkualitas di Pati…

  7. early dan Leila,
    Makasih atas comment-nya. Iyah, moga-moga Pati makin maju, bersih, rapi, sehingga dapat menjadi tempat yang nyaman bagi segala golongan.

  8. ku slalu kangen ma paty,walaupun kota pensiunan tapl pati adalah kita yang slalu ku rindukN……………………………..

  9. santi,
    Kalau sudah terlalu lama jauh meninggalkan Pati, aku juga kangen.

  10. pati,
    sego gandul is the best dach……..

  11. pengen rasane tahun baruan ning kota kelahiran ku pati,,,
    namun sayang aku masih diperantauan nan jauh di NTT_Maumere___
    tapi komunitas warga pati disini banyak lho dengan beragam aktifitasnya….
    pokoke orang pati gak ada matinya…

  12. hidup org Pati!!!
    org Pati emg idup!!!
    idup pmikiran jernihny, idup ide2ny!!!
    kula tiyang Pati euy…

  13. Mas..mas.. Pati ko g tersebut dalam prasasti di Majapahit ya..yang tersebut malah sekitarnya: Tuban, Lasem.. Atau karena saat tu Pati masih pulau tersendiri, yaitu Pulau Muria ya..
    Ah, banyak keremangan soal sejarah Pati karena minimnya literatur.. yang beredar slama ni masih versi mitos dan legenda saja..

  14. Biar nggak disebut kota pensiunan, pemuda pemudi berdarah pati yg sukses diperantauan marilah pulang kampung, membangun PATI tercinta dengan keahlian yg dimilikinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s