Laju Vespa Merah di Senin Pagi

Sebuah cerita fiksi oleh Yacob Yahya

(889 kata)

PAGI YANG HENING ITU PECAH. Jelang pukul sepuluh. Pekik wanita yang panik dari rumah tetanggaku penyebabnya.

Awalnya dia jalan tegak. “Tak apa-apa,” ujar Sumi, perempuan itu, kepada Bu Nini, induk semangnya. Nini pun melihat dia beres-beres saja, tak mengapa.

Lama-lama Sumi doyong, miring, hampir tumbang. Barulah terlihat kepala sisi kirinya bersimbah darah. Rambutnya basah -darah. Hidung dan telinga sebelah kiri jadi merah. Ambruk juga dia.

“Tolooong… tolooong…” teriakan lirih Sumi disambung oleh Nini yang makin panik. Tetangga, termasuk aku, menghambur keluar menuju sumber suara. Hasan, suami Nini alias Pak RT, gelagapan. Mbak Tin, pembantu yang bekerja di rumah kami keluar bagai logam yang tersedot magnet menghampiri sumber keributan. Saya pun menguntit Mbak Tin dari belakang.

Sumi digotong tiga orang. Mereka angkut tubuh mungil itu ke sebuah becak. Meski kecil, terasa berat badan ibu satu anak itu. Darah terus mengalir. Matanya terpejam, tinggal terlihat bagian putih bola mata bawahnya. Bibirnya mangap-mangap, seperti mulut ikan yang mentas dari air kehabisan udara.

“Ke Panti Murni, cepat Pak,” teriak Nini kepada tukang becak yang membawa Sumi, merujuk sebuah rumah sakit yang dekat di lingkungan kami.

Rumah itu hanya beda satu wisma ke arah selatan dari rumahku. Itu rumah kos-kosan. Yang mondok rata-rata para pekerja, karyawan, atau pencari kerja. Campur putra-putri. Yang mengelola seorang haji, Haji Hasan, Ketua Rukun Tetangga -untuk sementara, soalnya Pak RT mengundurkan diri.

Ada sekitar sepuluh kamar yang disewakan. Penyewanya macam-macam profesi. Ada salesman. Ada badut simbol sebuah produk biskuit, yang mangkal di alun-alun kota. Ada penyanyi kafe karaoke. Ada Sumi.

Sumi adalah perempuan muda. Saya kira usianya belum 25 tahun. Lumayan parasnya. Rambutnya bersemir semu merah. Dia sudah beranak satu. Sayang, dia lagi jalani proses perceraian. Palu hakim belum terketuk tanda sah perceraian, Sumi dan suami sudah tak serumah. Anak semata wayang mereka, seorang bocah laki-laki bernama Syam, sekolah taman kanak-kanak, ikut Sumi. Sesekali si bapak menengok buah hati mereka.

Kami tak tahu persis apa kerjaan janda kembang itu. Dia baru dua bulan mondok di sini. Yang jelas, saban berangkat, dia dijemput oleh seorang pria -bukan suaminya- bervespa merah.

SENIN, HARI PEMBUKA KERJA. Kota Kanji kembali menggeliat. Meski ia kota kecil di ujung utara pulau Kelapa, lalu-lalang anak sekolah maupun orang berangkat kerja tetap terlihat rame. Apalagi yang lewat Jalan Haji Soleh, depan rumah kami.

Hampir pukul sepuluh Sumi masih di kamar kontrakan. Dia bersiap menjemput Syam. Pria vespa merah itu datang. Hendak masuk ke kamar. Dia izin pada Nini, “saya pamannya.” Tanpa curiga, Nini menyilakan pria itu masuk ke kamar Sumi.

Dia bukan suami Sumi. Tapi semua orang menggunjingkannya, dia ngebet mengejar si janda. Meski status janda Sumi belum resmi. Masih versi gunjingan tetangga, Sumi toh menganggapnya teman biasa. Tak lebih dari itu. Dia menghormati betul proses persidangan. Lagipula sang suami berlaku baik. Heran, apa penyebab mereka harus cerai. Tapi entah mengapa pula Sumi seolah menerima kehadiran pria itu, setiap hari bersedia diantar berboncengan.

Kamar Sumi persis di balik kamar empunya rumah.

Entah apa yang terjadi di dalam sana, hingga si pria bergegas keluar. Dia starter vespa merahnya. Dia pergi begitu saja. Barulah beberapa saat Sumi keluar dari kamarnya. Peristiwa pun berlanjut pada teriakan Sumi dan Nini pagi itu.

Haji Hasan menguntit becak itu, turut mengantar ke rumah sakit Panti Murni. Tetangga menyemut di luar, coba mereka-reka motif kejadian. Tak banyak menyumbang saran, namun serasa berkepentingan, mereka makin banyak bergerombol. Bergunjing tiada henti.

Nini keluar pakai motor. “Mau ke kerabat Sumi, kasih tahu.”

Pria bervespa merah itu tak tahu di mana rimbanya.

“KAMU KALAU TERIMA ANAK KOS YANG SELEKTIF DONG. Kejadian seperti ini bagaimana?” hardik Dhe Inah, tetangga persis, pemilik rumah di antara rumah saya dan Nini. Dhe Inah mengingatkan, tak jarang orang yang ngekos bukanlah orang yang baik-baik. Namun susah juga mengetahui isi kepala dan isi hati seseorang. Siapa yang bisa menduga dan menjamin kalau si pengontrak adalah orang baik-baik?

Tapi, selalu saja ada kejadian atau setidaknya bahan gunjingan dari rumah kos itu. Salah satu penghuninya, penyanyi karaoke. Mentel. Kemayu, pendek kata genit. Ganti-ganti saja yang mengantarnya kerja. Ganti-ganti motor, ganti-ganti cowok. Ada satu lelaki yang sangat demen pada dia. “Orangnya gendut pendek kayak Bagong, naiknya mobil sedan,” cerita Mbak Tin pada saya.

“Ada juga cewek yang jadi simpanan juragan bus,” timpal Ibu merujuk penghuni kos lainnya.

Ah, aku sih tak peduli pada gunjingan. Tiap-tiap orang punya urusan pribadi. Tiap-tiap orang punya latar belakang kehidupan sendiri. Masyarakat seringkali kejam memberi stempel stigma pada orang yang belum dikenal. Sarat curiga. Mengapa tak kita biarkan saja mereka tinggal di tengah kita? Asal mereka tidak mengusik kita saja. That’s it. Hingga kecuekanku itu serasa kayak gelas pecah, setelah peristiwa berdarahnya Sumi itu terjadi.

SENIN SIANG, DI HALAMAN MUKA TK BHAYANGKARA. Seorang bocah laki-laki merengek menangis keras tanpa henti. “Ibu… aku pengen dijemput Ibu… gak mau pulang… gak mau pulang… emoh-emoh-emoh… huaaa… aku pengen dijemput Ibu… mana Ibu… mana Ibu… huaaa…”

Air matanya mengalir deras.

Guru, para tukang becak langganan anak sekolah lainnya, maupun si penjemput anak itu tak mampu menenangkannya. Padahal, penjemput bocah itu tak lain tak bukan adalah pamannya sendiri. “Ayo Syam, nanti di rumah ketemu Ibu,” ujar sang paman kehilangan akal.

Si bocah hanya mau dijemput oleh ibunda. Dia tak mau orang lain, meski orang itu sudah dia kenal dekat. “Aku mau Ibuuuuu…” dia meronta menjadi-jadi.

Ibunya, untuk saat ini, tak bisa menjemput si kecil. Perempuan itu masih tergolek di sebuah kamar rumah sakit Panti Murni. Entah sampai kapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s