Mengharap Suara Ibu

Sebuah cerita fiksi oleh Yacob Yahya

(1.075 kata)

TAK SEPERTI BIASANYA, balai pertemuan kantor Kelurahan Kanji Lor itu rame, sore hari itu, di bulan Mei. Ibu-ibu wakil pengurus Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga tiap rukun tetangga memadati ruang berukuran delapan kali dua belas meter persegi itu. Tiap RT mengirim sedikitnya empat wakil. Eh, rupanya Dewi Nanik, Bu Wakil Bupati, datang. Tak heran, peserta kali ini membludak dan pertemuan molor hingga jelang magrib.

Biasanya, pertemuan bulanan saban tanggal 14 itu berakhir pada pukul lima sore.

“Ibu-ibu, mari kita dengarkan wejangan dari Ibu Wakil Bupati,” sahut Bu Lurah, yang mengundang kaum hawa itu.

KANJI LOR adalah sebuah kelurahan yang terdiri dari tiga kampung. Kampung Sekalian, Jatibiru, serta Pangobralan. Satu kampung berarti satu rukun warga. Kami tinggal di RT 1 RW 1 -Pangobralan. Pangobralan sendiri terdiri atas sebelas rukun tetangga.

Saya sejak lahir hingga lulus sekolah menengah atas pada usia 18 tahun senantiasa tinggal di sini. Yah di Pangobralan ini.

Pangobralan hanya sebuah kelurahan dari 21 kelurahan dan desa di Kecamatan Kanji. Kecamatan ini hanyalah satu dari 20 kecamatan di Kabupaten Kanji. Kabupaten ini terletak di jalur pantai utara Pulau Kelapa. Kabupaten yang dihuni tak lebih dari dua setengah juta penduduk ini masuk provinsi Kelapa Tengah.

Ini kota kecil. Asri. Segala sesuatu seakan tak pernah berubah di sini. Tak heran, kota ini seakan tertinggal dari kota-kota tetangganya, yang maju pesat.
“IBU-IBU, APA KABAR?” sapa Bu Dewi penuh semangat kepada ibu-ibu PKK.

“Baiiikkk Bu…” seperti koor mereka membalas salam sapa.

“Ibu-ibu, sengaja saya datang ke sini hari ini. Saya bersyukur, ini kesempatan yang sangat langka bagi saya…”

“Bukan kebalik? Justru ini kesempatan langka bagi kita…?” ibu saya, yang mewakili RT 1 RW 1, berbisik kepada teman sebelah.

“Begini Ibu-ibu. Sebentar lagi kita akan merayakan pesta demokrasi. Pemilihan Gubernur Kelapa Tengah. Momen ini sangat berharga. Jangan sampai warga Kanji tak berpartisipasi dalam pilgub, Ibu-ibu. Jangan tidak memilih. Jangan jadi golongan putih alias golput. Ibu-ibu harus berani menentukan pilihan. Saatnya kaum wanita menentukan sikap…

Sudah saatnya kita dipimpin oleh kepala daerah yang kompeten. Makanya, jangan salah pilih…”

Pada bagian ini, ibu saya menangkap maksud sesungguhnya Bu Wakil Bupati. Sambil lalu dia simak pidato itu dengan mencaplok kue apem dari dalam kardus jajanan.

“Begini Ibu-ibu. Kita harus menyerahkan pada ahlinya. Pada orang yang sudah berpengalaman. Cobloslah Pak Sugawe Sutipar. Beliau sudah berpengalaman memimpin Kota Karang. Kota Karang adalah kota besar, ibukota provinsi. Beliau jadi walikota dua kali, sejak 2000. Mengingat kesuksesan beliau dalam memimpin sebuah kota yang jadi ibukota provinsi, kini saatnya beliau memimpin provinsi ini. Apalagi, Ibu-ibu, beliau adalah putra daerah, asli Kanji. Sudah saatnya provinsi ini dipimpin oleh orang asal Kanji…”

Sugawe lahir dan besar di Kanji. Usianya kini hampir enam puluh tahun. Dia disokong oleh Partai Demokrasi. Dus, tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Dewi.

Keluarga Dewi, bisa dibilang “keluarga pemimpin daerah”. Sugawe yang Walikota Karang menikahi Sri Santaningrum, bekas Bupati Dimanik. Sri memimpin Dimanik pada 2001-2006. Dimanik dan Karang persis bersebelahan. Hanya setengah jam jarak tempuh pakai bus antar-kota. Namun belakangan mereka bercerai. Pada 2004, Sugawe kawin lagi. Uniknya, Sri, si mantan istri, hadir dalam acara itu.

Kedua (bekas) suami-istri itu kini berurusan dengan hukum. Mereka diduga melakoni korupsi. Sugawe dianggap kesandung rupa-rupa kasus. Ada asuransi, ada pula beasiswa fiktif. Sri diduga menilep dana bantuan pembangunan desa senilai Rp2,1 miliar untuk anggaran 2004.

Dewi kini jadi wakil bupati untuk masa jabatan 2006-2011. Dia berduet dengan Bupati Harisman.

Harisman adalah teman sekolah menengah pertama ayah saya. Bapak awalnya ingin mencoblos Harisman dalam pemilihan bupati dua tahun lalu. Lantaran dia berduet dengan Dewi, ayah urung mendukungnya. Soalnya, “Dewi anak bupati korup,” cerita ibu tentang sikap Bapak.

Kelapa Tengah kini lowong gubernur. Gubernur Sumardi baru saja jadi Menteri Urusan Dalam Negeri. Pemilihan Gubernur Juli lalu rame. Ada lima calon. Salah satunya Sugawe. Proses hukum kasus Sugawe masih berjalan. Meski begitu, dia tetap bisa melenggang nyalon.

Kandidat kuat adalah Bogel Dewanto yang disokong Partai Pohon Rindang. Dia tercatat jadi anggota parlemen pusat. Menurut lembaga survei, dialah nomor satu. Tapi saat ini, hasil survei kayak dagang saja. Survei tak jarang adalah bagian dari kampanye itu sendiri. Konon katanya, hasil survei sih ilmiah.

Ada pula Wenih Liliyanto. Dia punya karir militer. Sebelumnya dia mengincar pemilihan gubernur Kertajaya. Sempat meramaikan bursa calon gubernur pada 2007 lalu. Namun belakangan dia menarik diri. Kini dia fokus pada pemilihan gubernur Kelapa Tengah. Dia pasang strategi menggandeng Bupati Genimanik, Setitiningsih, sebagai calon wakilnya. Bupati wanita itu didukung oleh Partai Banteng Ketaton.

Kertajaya adalah ibukota negara. Setiap mata tertuju pada kota metropolitan ini. Lebih dari delapanpuluh persen perputaran uang di sana. Saiful Busyro, seorang ekonom yang punya track record kritis dan independen pun tertarik nyalon. Belakangan dia undur, lantaran partai-partai politik yang hendak dia gaet mematok “mahar” mahal. Hingga secara resmi hanya dua kandidat yang maju, Fauzan Wibawa dan Dadang Suratun. Fauzan, yang sebelumnya jadi wakil gubernur, menang. Dialah gubernur Kertajaya yang pertama kali terpilih dalam sebuah pemilihan umum.

“Ibu-ibu, jika Bapak Sugawe memimpin, bakal terkucur kredit murah bagi para pedagang pasar. Beliau peduli wong cilik. Biaya sekolah juga gratis,” Dewi melanjutkan jualan jamu.

“Beliau tokoh antikorupsi. Apa buktinya Ibu-ibu? Buktinya, hari ini, saya gak bakal bagi-bagi amplop buat Ibu-ibu sekalian. Itu sama halnya money politic. Politik uang. Haram. Kalau saja satu amplop berisi goceng, butuh dana delapan miliar buat ngamplopin Ibu-ibu seprovinsi ini…”

Gerrr… Ibu-ibu tertawa.

“Kalau nyalon saja sudah keluar duit banyak, nanti kalau terpilih bakal rakus korupsi. Betuk tidak, Ibu-ibu?”

IBU-IBU berharap Bu Wakil Bupati datang lagi bulan depan. Pertemuan selanjutnya masih sesak. Kursi-kursi perlu ditambah. Terpaksa Bu Lurah menyewa kursi ekstra. Ibu-ibu banjir membludak hingga di luar ruangan. Bu Dewi menyampaikan pesan yang sama dengan sebulan lalu.

Pendek kata, “pilihlah Bapak Sugawe…”

JULI ADALAH MOMEN PENENTUAN. Setiap warga berduyun-duyun ke bilik suara. Bilik itu bukan berbentuk kamar yang tersekat dinding kayu berpintu tirai kain seperti pemilihan umum yang sudah-sudah. “Bilik” itu hanya sebuah kotak kubus terbuka dari logam. Berjajar-jajar. Tiap-tiap pemilih jelas-jelas bersebelahan.

Beda lainnya, kalau dulu bantalan kertas suara memang benar-benar bantal kecil. Sekarang pakai gabus. Sehingga tiap kali warga mencoblos, terdengar keras suara brus… brus… brus…

Giliran Ibu nyoblos, terdengar lima kali suara “brus”. “Kelima calon aku coblos semua. Soalnya aku gak tahu siapa yang paling baik,” cerita dia kepadaku.

Ibu tak sendirian. Bahkan, ada sebuah desa yang seluruh warganya serempak golput. Kertas suara sengaja tak diisi, atau sengaja dibikin tidak sah. Yah, kayak Ibu tadi, nyoblos semua.

Aku sendiri sebenarnya dapat undangan untuk memilih. Tapi aku tak datang. Soalnya aku waktu itu masih kerja di Kertajaya.

PASANGAN WENIH-SETITININGSIH keluar sebagai pemenang. Dan sejak saat itu, Bu Dewi tak nampak mengunjungi lagi pertemuan PKK kelurahan kami.

2 responses to “Mengharap Suara Ibu

  1. Ginanjar Rah Widodo

    ceritamu apik mas…lucu banget……iki mesti ibuk yo…..pilkada jawa tengah kan?

  2. Hahahaha,

    Pati ono2 wae, memang Sukawi pancen Curut!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s