Sayap Bakar

Di Jakarta tak aku temui angkringan. Di Yogyakarta banyak. Kebanyakan pedagang nasi kucing itu datang dari Klaten. Majalah pers kampus kami, EQuilibrium, pernah meliputnya. Eh, kini di kota asalku, Pati, juga ada angkringan juga loh.

Menu favoritku adalah sayap ayam.

Warna api yang berpendar muram dari lampu sentir menciptakan suasana remang. Ini yang malah bikin asyik nongkrong di warung macam ini. Nongkrong atawa ngangkring dalam bahasa Jawa, makanya warung ini disebut angkringan. Nongkrong di sini bebas pakai gaya apa saja. Paling asyik jika jongkok di atas kursi panjang yang tersedia. Jika kursi penuh sesak, tinggal pilih tempat di atas tikar. Duduk bersila. Lesehan.

Suasana kelam pencahayaan dan beberapa pembeli yang nongkrong kayak film koboi saja. Kayak nyantai di bar. Apalagi malam-malam. Makanya banyak juga yang bilang ini warung koboi.

Tenda berwarna oranye. Ada ceret tiga. Makanya disebut juga kafe ceret telu. Ceret adalah macam teko dari besi, guna menghangatkan bermacam wedang alias minuman. Biasanya air putih, air teh, serta air jahe. Tiga jenis. Cara menghangatkannya di atas bara arang. Kayu terkarbon hitam yang membara merah ini juga berguna untuk menghangatkan makanan apa saja. Tinggal pilih: sate usus, sate ati, sate kulit, kepala ayam, bahkan gorengan.

Makan nasi, ada bungkusan, terpisah beberapa jenis. Umumnya nasi sambal dengan teri asin atau nasi pakai oseng-oseng. Ukurannya kecil, banyak orang bilang ini untuk porsi seekor kucing. Makanya warung ini juga sering disebut warung sego kucing.

Tak susah mencari warung macam ini di kota gudeg. Ribuan, saya kira. Hampir di tiap tempat. Stasiun, terminal, pinggir jalan, di kampung-kampung, apalagi jika marak kos mahasiswa. Hampir semua makanan yang dijajakan murah. Namun porsinya kecil-kecil. Awas kalau jajan. Sedikit-sedikit kita ambil, tahu-tahu kita habisin banyak.

Menu kesukaan saya adalah sayap ayam. Sayap ini kekuningan, mungkin dicampur kunyit. Rasanya gurih. Akan tambah mantap jika dibakar di atas arang. Saya pertama kali menikmati sayap angkringan di depan kolam renang Universitas Negeri Yogyakarta. Itu dekat kos saya waktu kuliah, daerah Kuningan. Dekat Samirono. Penjualnya sering kami panggil Kak Pendi. Asal Klaten.

Saya suka makan sayap sambil diolesi sambal. Sering saya habiskan dulu nasi dan ikan terinya, saya sisakan utuh sambalnya. Baru saya lahap bersama sayap itu.

Malam ini saya makan sayap bersama Mur di bawah jalan layang Janti. Daerah ini banyak banget warung. Saya lihat angkringan saja ada dua.

Warung lainnya rupa-rupa. Kebanyakan menawarkan menu penyet: tempe, lele, ayam penyet. Itu loh, pecel dengan sambel penyet. Soalnya cara makannya, lauk (entah tempe, ayam, lele) dipijit-pijitkan pada cobek yang berisi sambal. Dipenyet-penyet. Di Jakarta juga ada. Ada juga nasi goreng. Ada pula seafood.

Banyaknya warung yang berdiri tak perlu buat kami bingung memilih. Toh tujuan saya sudah bulat: sayap bakar bersama sambal teri. Sedap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s