Jogging di Bonbin

Kamis sore (31/7), saya dan Mur hendak ke Gembiraloka. Ini kebun binatang ikon Yogyakarta. Bukan untuk melihat monyet angop loh. Melainkan untuk jogging menemani Mur yang atlet panjat dinding. Pasca Pekan Olahraga Nasional Kalimantan Timur pada Juli lalu, dia belum intens latihan kembali. “Jenuh gak sih. Tiga tahun terus-terusan seperti ini terus,” ujarnya.

“Aku pengen berhenti aja,” sambungnya. Dia dapat perunggu boulder perorangan, yang pada PON 2004 di Palembang dia meraih emas. Selebihnya, tiga keping merah tua dari nomor beregu serta satu koin argentum dari nomor beregu. Juara umum panjat tebing adalah Jawa Timur, yang juga keluar sebagai juara umum pada kejuaraan empat tahunan ini.

Aku pribadi sih menilai PON kali ini jauh lebih baik buat dia. Lima medali dibanding hanya satu keping empat tahun lalu. “Yah enggak lah, emas tetap emas. Tapi aku tetap bersyukur atas semua medali yang kami raih. Aku latihan biar menjaga badan saja, biar gak pegel. Orang yang biasa olah raga lalu sontak berhenti akibatnya jadi pegel,” repetnya.

Memasuki pintu pagar, kami lihat wall panjat berdiri dingin. Gembiraloka memang jadi tempat pemusatan latihan panjat dinding. Ada tiga dinding saat ini. Buat boulder atau jalur pendek, kesulitan atau lead alias difficulty, serta nomor kecepatan atau speed. Komplet. Terakhir saya lihat akhir tahun 2006 belum selengkap ini.

Tak ada atlet yang berlatih. Garasi tempat matras dan peranti tersimpan, tertutup rapat mulutnya. Hanya beberapa bocah, laki-laki maupun cewek, mencoba merayapi dinding boulder. “Fahri, Fahri, ati-ati,” teriak sang ibu kepada seorang bocah cowok. Yang diperingatkan cuek aja, meraba-raba poin-poin dengan cengkeraman tangannya. Satu saat pasti bisa meneruskan kejayaan panjat Yogya, pikirku -kalau mereka minat manjat, tentunya.

“Dia bisa manjat sampai tinggi loh Mas. Sampai sana,” tutur sang ibu kepada saya sambil menunjuk papan lead.

Jalur pendek setinggi kira-kira lima hingga tujuh meter. Tergantung tingkat lombanya. Makin bergengsi, kayak X Games ESPN, makin terjal, ekstrem, dan tentu saja makin sulit. Namun dari waktu-ke-waktu, si pembuat jalur tak bakal bikin alur yang monoton. Pasti ada tipe jalur yang berubah-ubah. Ada yang mengalir, atau pula yang harus pakai tolakan-loncat.

Sedangkan jalur lead jauh lebih tinggi, kira-kira lima belas, bahkan, “ada yang dua puluh meter,” kata Mur. Tembok panjat di Gembiraloka untuk nomor ini setinggi dua puluh meter.

Sore itu Bonbin -sebutan untuk kebun binatang, sebuah akronim- sudah sepi. Hanya ada beberapa pengunjung. Beberapa stand warung juga sudah kukut. Sepasang bule melihat-lihat zebra, lalu ke burung unta, lantas ke rusa.

Kami berlari kecil mengitari jalan. Ini jalur jogging buat para atlet. Porsinya empat hingga lima kali putaran. Saya sendiri? Sekali saja sudah kapok. “Fisikku tidak fit. Jarang sarapan. Nafsu makan dikit. Masuk angin. Belum kerokan,” kilah saya, Mur hanya tertawa.

Para primata sudah malas. Mungkin sudah terlalu sore sehingga tidak mau beratraksi. Mana mau memamerkan diri jika tak ada pengunjung? Tapi saya kaget ada monyet hitam jingkrak-jingkrak melompati tali-temali. Bonbin ini juga menawarkan jasa cetak foto wajah di kaos. Tarifnya Rp33.000 untuk anak-anak dan plus dua ribu rupiah untuk dewasa. Ada pula foto bareng ular. Boa atau piton. Pokoknya ular gede.

Pos keamanan sudah lewat. Saya merasa tiap langkah makin berat. Dan tujuan bukannya bertambah dekat, bagi saya jarak makin mulur tanpa ujung. Kami hampir mencapai satu putaran. Ada toilet yang berlantai keramik coklat. Sayang, tidak terpakai dan banyak sarang laba-labanya. “Udah ah…” rengek saya.

“Itu sampai pohon gede dong. Kita tadi mulai dari sana,” tuntut Mur.

Ahhh… sampai juga…

“Jangan langsung berhenti. Jalan kaki dulu,” ujar Mur. Dia melanjutkan sekali lagi.

Saya jalan kaki tapi tidak mengitari jalur kayak tadi. Saya potong kompas saja. “Kalau main basket atau main futsal yah aku bisa lari terus. Kalau jogging gak ada permainannya,” saya makin merasa kayak Jem, Dill, atau Scout, bocah-bocah dalam To Kill a Mockingbird karya Harper Lee, yang banyak kilah dan alasan khas anak kecil. Atau seperti John Laroche si Pencuri Anggrek karya Susan Orlean yang bermulut besar.

Ah, sore ini cukup dulu lah. Besok dilanjut lagi. Untuk membakar lemak dan kolesterol, seperti saran dokter jantung saya.

2 responses to “Jogging di Bonbin

  1. mosok stamina atlet basket smp 3 pati kalah karo tukang menek dinding sih..ngisin2i kowe,kub…hehe..

  2. Hahaha… Iyo e Yon. Wis soyo tuwo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s