Sobat Kecil yang Cerewet

Saya terhuyung-huyung memaksakan diri mengangkut barang bawaan masuk ke kereta Argo Lawu, tujuan akhir Solo, Stasiun Balapan. Minggu malam itu (27/7) saya hendak turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Dari Stasiun Gambir, Jakarta. Tas hitam Eiger tiga kompartemen menempel di punggung. Berisi laptop dan peranti liputan. Tas hijaunya menempel di depan badan. Berisi berkas data diri. Belum lagi tas cangklong hijau lumut gambar Mao Tse Tung yang berisi dua kamus di lengan kanan -tasnya dibelikan Epi, adik dari kakak ipar saya yang bertugas di Kedutaan RI untuk Cina, kamusnya dibelikan calon istri, Murjayanti. Ada lagi di lengan kiri, tas cangklong dari Sampoerna Language Center, berisi buku-buku bacaan. Lalu tas koper -tanpa roda- berisi sejumlah pakaian saya jinjing pakai tangan kanan.

Gerbong di depan hidung saya, sial, bernomor delapan. Saya duduk di kursi 12D kereta 6. Waduh. Harus jalan dua gerbong lagi. Sesak. Ada seorang pria tua yang berjalan lambat banget. Errrgghhh… saya pengen cepat tertelan mulut kereta. Gerbong 6, uh oh. Terkunci. Harus cari pintu satunya. Jalan lagi. Masuk, hup saya loncat sambil membawa lima kantong ajaib itu. Blaik. Kursi terdekat bernomor 1. Hahhh… harus jalan lagi hingga belakang? Kursi paling buntut bernomor 13. Jadi saya larik kedua dari belakang. Jalan lagi. Penderitaan saya tak bakal sepanjang ini jika pintu gerbong 6 yang tadi tak terkunci.

Saya tak tahu, ini hari jelang kerja. Kok masih penuh juga orang mau lancong ke Yogyakarta. Apa tidak kebalikan? Umumnya yang dari Yogya ke Jakarta-lah yang padat. Arus balik. “Itu soalnya besok Rabu tanggal merah. Banyak orang cuti liburan,” prediksi kakak saya, Winuranto Adhi, ketika mengantar saya di muka stasiun.

Saya letakkan empat tas itu di kompartemen atas. Buat menaruh barang. Koper? Tak muat, lagian saya tak kuat mengangkatnya hingga ke atas. Terpaksa saya letakkan di bawah, di sela kaki saya. Duduk tak bakal longgar deh.

Saya cabut Pencuri Anggrek karangan Susan Orlean buat pengisi waktu. Buku ini pemberian Janet E. Steele, profesor dari George Washington University, pengajar kursus jurnalisme sastrawi saya. Kursus ini dikelola oleh Yayasan Pantau. Selain Janet, ada Andreas Harsono yang mengajar.

Datanglah serombongan keluarga. Ayah, ibu, dua anak: kakak perempuan dan adik laki-laki. Rata-rata badan mereka subur. Saya taksir si kakak usia sekolah menengah atas. Dan si adik kelas limaan sekolah dasar. Pipinya tembem, chubby. Rambutnya poni, depan kayak Dora The Explorer. Badan gede, tingginya saja sudah hampir menyamai ibunya. Sekuping sang ibu. Tinggi si ibu saya kira 150-an centimeter.

Mereka bertiga duduk di deretan 12A, B, dan C. Berurutan si kakak, ibu, jalan (isle), serta adik. Di samping si gembul adalah saya sendiri. Ayah, terpaksa dia kebagian kursi di gerbong lain. “Boleh tukaran tempat duduk Mas?” tawar si ayah kepada saya.

“Waduh, bawaan saya banyak,” saya menyesal menolaknya.

“Saya bantu angkat deh.”

“Tapi terlalu banyak…”

Akhirnya si bapak mengalah. Si adik duduk. Dia pakai kaos putung merah bergambar Naruto, plus celana pendeknya. Satu stel. “Halo,” dia menyapa.

“Ada bule. Hai bule,” celetuknya melihat bule wanita yang duduk di kursi nomor 1 -depan sana. Mana bisa dengar si bule?

“Hus, gak boleh usil,” ujar kakak dan ibu.

Dalam hati sih saya membatin, “Ngatain orang bule, kamu sendiri Cina.” Ups… ntar jadi rasis ding. Hehehe…

Dia lirik-lirik buku yang saya baca. Sesekali memandang keluar. “Itu kordennya dibuka,” tuturnya padaku.

Sesekali dia berdiri. Ke belakang. “Ke toilet Mah,” ujarnya kepada si ibu, eh, Mama.

“Ah, nakal banget kamu,” ujar ibunya terpaksa mengantar.

Lantas dia duduk lagi. “Kapan berangkatnya?” tanya lagi padaku.

“Jam delapan.”

“Kurang sepuluh menit lagi dong,” ujarnya sambil menunjukkan jam tangannya. Bagi saya, tepatnya, memamerkan. Yah, dia hendak memamerkan aktivitas seorang bocah yang berlebih di usianya. Dia menyanyi-nyanyi kecil. Lagu-lagu cinta cengeng band masa kini. “We are the champion, we are the champion…” loh, dia segera ganti haluan ke lagu Queen.

Kereta akhirnya melaju sesuai jadwal, pukul delapan. Manggarai lewat, Jatinegara, penjara Cipinang… menuju ke Bekasi.

“Ini sampai mana? Masih di Jakarta?” tanya dia kepadaku -lagi.

“Kira-kira sampai Yogya jam berapa?” tanya ibunya hampir bersamaan.

“Jam tigaan,” saya memilih menjawab pertanyaan ibunya.

Teve menyala. Beruntunglah yang duduk di kursi depan. Kursi belakang sih ada juga. Tapi, untuk menontonnya, harus toleh belakang. Mau? “Kok gak ada RCTI yah?” tanya dia, again and again.

“Gak ada lah. Ini teve KATV,” jelas saya.

“Gak ada RCTI. Gak bisa liat Indonesia Idol,” dia mengeluh.

“Indonesien aidol?”

“Iyah. Pengen tau yang menang Aris atau Gisel.”

“Kamu suka indonesien aidol?”

Dia mengangguk.

“Kamu ikut Idola Cilik saja.”

“Gak. Malu.”

“Jangan malu dong.”

“Gak bisa nyanyi. Suka lupa.”

“Nyanyi yang kamu bisa dong.”

“Aku cuma bisa nyanyi Dari Sabang Sampai Merauke. Atau beberapa lagu Kristen.”

“Lagu gereja?”

“Iyah.”

“Kamu liburan?”

“Bolos. Izin sama guru. Mau nganter Papah operasi.”

Sang ibu juga hendak menyaingi dia. Ibu ngobrol dengan penumpang di belakang saya. Sepasang suami-istri yang sudah uzur. “Mau nganter operasi retina. Di Jakarta mahal. Makanya pilih ke Yogya. Di Jakarta bisa 25 juta, di sana cuma 12-15 juta.”

Seorang pria berseragam satpam biru tua berjalan mendekati kami. Dia berdiri di belakang kami. Dia cubit pipi si chubby. “Ah…” erang kecil si gendut.

“Kelas berapa?” tanya si istri di belakang saya.

“Kelas tiga,” jawab si gendut.

“Tiga SMP?” celetuk Pak Satpam. Semua yang dengar tersenyum. Termasuk saya yang mulai tenggelam dalam bab persaingan memperoleh anggrek.

“Mah, makan. Mana coklatnya?” tanya dia minta Silver Queen. “Mau?” tawar dia pada saya. Saya cuma tersenyum menggeleng.

Si ibu pesan dua piring nasi goreng. Beberapa saat pesanan tiba. Nasi goreng, abon, dua iris timun, seiris tomat, sesobek daun  selada, dan sekantong plastik kecil kerupuk udang. Plus dadar mata sapi. Sepiring untuk… si gendut.Dia terhenyak pelayan cewek membuka meja makan dari balik sandaran tangan di kursi. Piring tersaji. Tringgg… garpu dia terjatuh. Si ibu mengomel.

Dia kesusahan buka plastik kerupuk. Saya ambil kantong itu. Saya coba buka. “Gak bisa kan?” ujar dia. Nyatanya habis dia bilang gitu, kantong itu terbuka juga. Dan kerupuk berpindah ke dalam mulutnya.

Malam makin larut. Dia selalu tanya, “sampai mana? Dah keluar Jakarta?”

Karawang lewat. Saya tak hapal rute berpuluh stasiun yang ada. Saya jawab saja tak tahu.

“Nanti sampai Solo baru Yogya?”

“Yogya dulu baru Solo,” jawab saya malas.

“Solo-Yogya deket?”

“Deket.”

“Semenit?”

“Naik kereta setengah jam, naik bus dua jam, naik mobil sendiri sejam,” terang saya.

“Nama stasiun Yogya apa?”

“Tugu…”

Malam makin larut. Dia masih kelop-kelop, tidak tidur. “Kamu tidak tidur?” giliran saya membuka pertanyaan.

“Aku tidur jam lima.”

“Lima sore atau pagi?”

“Lima pagi.”

Alah… dasar anak kecil. Nyatanya dia mendengkur juga -setelah kesekian kalinya dimarahi sang ibu karena betah melek. Pukul dua belas. Kereta terus melaju.

Saya tak tahu saat itu jam berapa. Saya terbangun, dia masih tertidur. Oh, ini Stasiun Purwokerto. Kereta setelah berhenti sekian lama melanjutkan lajunya. Sampai Sentolo dia bangun. Saya lirik, sudah jam tiga lewat empat puluh menit.

Kereta hampir juga tiba di Yogyakarta. Pukul empat lebih delapan menit. “Waduh, kita sudah lewat Yogya yah?” tanya dua geragapan.

“Belum.”

“Katanya jam tiga sampai?”

“Jadwalnya sih gitu,” tukas saya membela diri sambil menunjukkan karcis yang menerakan jadwal tiba kereta: pukul 03:14. Ah, benar kata Iwan Fals. “Kereta tiba pukul berapa… biasanya kereta terlambat dua jam cerita lama…”

Fajar hampir merekah. Azan subuh. Tiba juga di Tugu. Saatnya berpisah dengan si cerewet. Dia jalan bersama ibu, kakak, dan ayah yang hendak operasi.

Saya terseret-seret memanggul bawaan yang nian beratnya.

2 responses to “Sobat Kecil yang Cerewet

  1. hallo mas yacob..ini adek kelas. duh..pernah ikut kelasnya andreas..he..he…*mupeng mode-on* semoga sukses. salam.

  2. uswah,
    Salam. Makasih moga-moga sukses juga yah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s