Tidur di Tenda

Bambang Wisudo bawa tenda Jumat pekan silam. Dia mau meminjamkannya kepada teman-teman di Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Anak-anak hendak camping ke Gunung Pangrango. Cuma rencana itu urung. Ditunda untuk Jumat pekan ini (25/7). Tenda itu untuk sementara “camping” sepekan di sekretariat AJI Jakarta, di perumahan BIER, Pancoran, Menteng Dalam.

Mereka yang akan naik gunung antara lain pengacara magang Lembaga Bantuan Hukum Pers Endar Sumarsono, pengelola kantor AJI Jakarta Sutarno -orang-orang panggil dia Mas Ateng, kamerawan lepas Ronny Rusdiyanto, serta anggota AJI Ronal Saut. Kali ini “Si Raja Gunung” Pembina Karo Sekali absen. “Sudah bosan ke Pangrango melulu,” ujar fotografer lepas itu ditirukan Endar.

Saya sih diajak juga. Jujur, saya belum pernah mendaki gunung. “Waduh, saya mau packing barang-barang. Mau ke Yogya,” ujar saya memberi alasan kepada Mas Ateng dan Ronal.

Yang paling getol memanjat adalah adik saya, Ginanjar Rah Widodo. Anjar melahap gunung waktu sekolah menengah atas. Paresmapa adalah organisasi pecinta alam sekolah dia -juga SMA saya, cuma saya tak pernah gabung Paresmapa. Ketika kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dia gabung organisasi pecinta alam. Tapi kurang intens. Kini dia bertugas di kantor Perbendaharaan Tobelo. Tobelo adalah sebuah kota di Maluku Utara. Dia punya klangenan baru: fotografi dan pergi ke pantai. Beberapa kesempatan, “diving juga,” tuturnya suatu kali.

Tenda itu berwarna hijau tua dan coklat marun. Berbentuk kubah (doom). Bukan kayak tenda umumnya anak Pramuka yang berbentuk atap rumah prisma segi tiga. Ukuran kira-kira dua kali dua meter persegi. Muat untuk empat orang. “Kalau lima sih sesak,” komentar saya. Lentur-bisa-melengkung, ringan, tiang kerangka dari plastik bersendi logam. Di dalam rangka ada tali karet yang bisa mulur-kerut. Sehingga tiang itu bisa terlipat jadi tiga bagian, bisa juga tegak jadi satu ruas.

Iseng-iseng Ronal dan Endar mendirikan tenda Rabu sore itu di halaman tengah sekretariat.

Lantas malam harinya saya iseng masuk. “Asyik kalau tidur di sini,” pikir saya, “bagaimana kalau tidur di halaman depan?”

“Boleh,” sahut Endar. Kami pun membogkar dan memindahkan tenda ke halaman depan.

“Buat uka-uka. Uji nyali.”

Uka-Uka maupun Ujii Nyali adalah segmen acara berbau mistik program teve yang sempat melambung beberapa tahun silam. Di TPI dan Transtv (Dunia Lain). Seorang peserta ditinggalkan sendirian di suatu tempat yang dipercaya angker. Pada malam hari hingga beberapa jam usai fajar menyingsing. Kamera tertinggal di lokasi itu, supaya kru bisa memonitor peserta di suatu tempat. Yang tidak kuat tinggal melambaikan tangan ke arah kamera, beberapa saat pembawa acara beserta kru akan menghampiri. Yang kuat menuntaskan batas waktu bakal diberi imbalan oleh program acara itu.

Beberapa waktu lalu, Ronny pernah ngobrol sama saya. Sebelum tidur. Nginep di AJI Jakarta. “Pohon halaman depan ada pocongnya loh,” ujar dia melempar kisah syereeem. “Hari pernah dikasih tahu sama Ibu,” imbuhnya.

Hari adalah office boy LBH Pers. Ibu yang dimaksud adalah pemilik rumah ini. Dia sewakan untuk dikontrak LBH Pers dan AJI Jakarta. Ibu tinggal di rumah bagian pojok selatan.

Rumah itu terletak di kompleks perumahan pejabat. Tipe tahun tujuh puluh delapan puluhan. Jembar dan jadul. Dekat dengan Hotel Bidakara. Dekat pula dengan kompleks rumah pejabat Bank Indonesia. Hotel ini juga milik bank sentral itu. Bidakara punya jaringan hotel di beberapa kota besar. Misalnya, Savoy Homann di Bandung.

Ibu, perempuan sepuh itu, ramah. Suka ngobrol dengan siapa saja. Sebagian dari kami percaya Ibu punya indra keenam. Bisa lihat hantu. Meski penampilannya seperti orang awam atau umum.

“Hari pernah juga lihat perempuan rambut panjang waktu tidur di ruang kerja. Di ruang rapat LBH juga ada. Banyak yang pernah lihat. Bonjor juga, sampai girap-girap bangun tidur sendirian. Pak Komang waktu nglilir ke kamar mandi juga lihat. Kalau ruang itu lampunya padam pasti dia kelihatan deh,” sambung Ronny.

Bonjor adalah adik Ateng. I Komang Wahyu Dyatmika adalah pengurus AJI Jakarta yang juga kerap menginap di sini.

Justru saya bersama Ronny, Hari, dan Direktur LBH Pers Hendrayana menghabiskan malam itu di ruang rapat tersebut. Nonton dvd film Hulk -bajakan. Ronny beli di Plaza Ambassador, Kuningan. Gambar terpancar dari sorot proyektor yang memantul di “layar” whiteboard samping tembok bercat putih. Papan tulis itu mulus bersih, tulisan spidol sudah dihapus biar tidak mengganggu pandangan. Ruang gelap kayak bioskop.

Sial, belum tuntas, film ngadat. Dasar bajakan. Pas adegan si raksasa hijau mengalahkan monster lawan waktu berantem di tengah kota. Panjat gedung, banyak mobil berserakan, warga berhamburan. Hampir pukul dua belas malam. Tidur saja.

Di tengah gelapnya ruang, yang jelas, si cewek gaib itu tak (tampak) nimbrung nonton bareng kami.

Halaman depan itu bagi saya asri. Banyak tanaman. Rumput terhampar. Cukup luas. Bisa buat mendirikan sebuah panggung. Waktu rilis upah layak jurnalis 18 Maret lalu, kami mendirikan panggung di situ buat monolog Sujiwo Tejo. Tejo adalah mantan wartawan Kompas -kayak Wisudo- yang kini memilih jadi seniman. “Dalang edan” adalah sebutannya.

Ada dua pohon di sana. “Pohon mangga,” timpal Endar. Satu lagi pohon nangka. Pada salah satunya tergantung tanaman paku-pakuan lidah naga.

Ibu tergopoh-gopoh masuk ke sekretariat. “Di luar ada apa yah?”

“Itu tenda, Bu. Ntar malam saya mau tidur sana. Sama teman-teman.”

“Gak takut disamperin ular? Di sana ada loh. Soalnya banyak kodok,” ujarnya sambil berkelakar.

“Hahaha…” saya hanya membalasnya sambil tertawa. Ibu juga turut tergelak.

“Tenda buat apa?”

“Buat naik gunung.”

“Siapa yang mau naik?”

“Mas Ateng, Ronal, Ronny, Endar…”

“Mas Ateng mana?”

“Lagi keluar… ke acara ulang tahun PRD.”

PRD singkatan dari Partai Rakyat Demokratik. Kakak saya, Winuranto Adhi, pernah jadi Sekretaris Kota Malang. Waktu 1997-1998 dia diuber aparat. Tertangkap, dan ditahan tiga bulanan di Surabaya.

Beberapa saat saling lempar cakap, Ibu hendak balik ke rumah. Lantas saya tiduran di ruang tengah menunggu realisasi dari Endar. Ruang itu juga berguna untuk rapat-rapat AJI.

Seakan hendak menegaskan, Endar sekali lagi mengajak saya tidur di tenda. “Mau ikut?” tanya saya pada Ronny, Ateng, dan Abadi.

Masing-masing, mereka bilang tidak. Mereka sudah mapan di atas kasur lipat sambil nonton teve. Akhirnya hanya saya dan Endar yang tidur di sana.

Abadi adalah adik Akuat, anggota AJI yang sedang menyelesaikan kuliah program master atawa magister ke Malaysia. Abadi adalah perancang grafis sejumlah buku AJI. Dia sering main ke sini. Juga tak jarang menginap.

Kasur kami gelar. Hawa malam dingin. Saya tak bawa bantal. Juga tak bawa jaket. Cuma pakai sarung dan kaos oblong. Tapi tak apa-apa. Beberapa menit kami ngobrol.

Tujuan saya tidur sesekali di tenda halaman depan sih iseng saja, apakah benar ada makhluk halus? Selain itu, untuk ganti suasana. Sudah sering saya tidur bersama teman-teman di ruang rapat AJI. Ada tevenya sih. Dan tentu saja di dalam ruangan lebih hangat. Tapi, sesekali ganti tempat lah.

Asyik juga. Tak heran ada sebagian orang suka camping. Sayang, kali ini bukan suasana tenang dan sepi yang saya peroleh. Deru mesin kendaraan masih saja menghiasi Jalan Dr Soepomo di depan sana. Tapi yah, bisa tidur juga akhirnya.

Pukul lima kurang seperempat. Azan subuh berkumandang membangunkanku. Saya tinggalkan tenda. Guna salat. Usai itu saya kembali ke tenda. Endar masih pulas.

“Tuuutiii… tuuutiii… tuuutiii… wiuiuiuiui… tuuuuuut… tuuuuuut… tuuuuuut… tetetetetet,” alarm sebuah mobil meraung. Langit belum terang.

Baru Endar bangun. Kami berniat angkut kasur. Tapi tenda tetap berdiri di situ. “Lulus uji nyali,” ujar saya. Semalaman tak ada apa-apa. Tak ada kuntilanak ataupun pocong.

Saya duluan yang keluar. Ibu kebetulan keluar rumah. “Selamat pagi Bu,” sapa saya.

“Ngapain? Tidur di situ? Mau tidur di hutan?” ujar Ibu sambil tersenyum.

“Iya nih. Hutan kota.”

“Sama genderuwo?”

“Bukan, sama Endar.”

“Memang muat?”

“Bisa kok Bu. Badan bisa lurus.”

Beberapa saat Endar menyusul bangun dan mengangkut perkakasnya: kasur plus bantal.

Langit mulai membiru di ambang pagi. Kicau burung bersahutan.

Pagi ini saya tanyakan perihal makhluk gaib kepada Hari. “Bener ada pocongnya di pohon?”

“Gak ada. Cuma kuntilanak. Tapi dia gak ganggu. Di pohon nangka.”

“Bentuknya gede?”

“Gak. Kayak gadis. Kalau pocong di jendela,” ujar Hari menunjuk ruang kerja LBH Pers yang sarat komputer. Jendela ruang itu mengarah ke halaman depan. Hari menandaskan, “kalau aku sih pernah lihat tiga makhluk sekaligus.”

Obrolan kami tersumpal oleh kue gethuk dan ketan yang dibeli oleh Abadi pagi ini. Kami melewati pagi sambil menyimak lagu di radio -dengan melanjutkan percakapan, di halaman tengah rumah itu.

Tenda itu masih berdiri di halaman depan.

3 responses to “Tidur di Tenda

  1. Endar "The Son" Sumarsono

    Hahaha… dasar jurnalis, apa aja bs ditulis.. dan tetap menarik tentunya.

    Buat Mas Wis (baca: Wisudo), thanks alot mas atas tendanya… tu tenda akhirnya “ngadeg” juga di Puncak Pangrango, Lembah Mandalawangi (yang oleh Soe Hok Gie disebut “Lembah Kasih”). Thanks juga buat Ronald, Mas Ateng dan Kng Rony (Prok pisan Koen….!) atas pendakian yang luar biasa di Pangrango. Semoga rencana ke Semeru akhir tahun ini bisa terealisasi…

    Untuk Mas Yacob, kapan2 mesti nyoba hiking juga lah… kalau ada waktu boleh lah kita temenin. Sukses untuk rintisan karirnnya di kota GUDEG. Semoga lebih sukses dari kemarin yang di kota GEDEG (baca: jakarta).

  2. Endar,
    Makasih banyak bro atas komentar dan doanya.

  3. sekedar membagi Informasi, kami dari TENDAKU Bandung membuat dan menjual berbagai macam tenda,
    menerima pemesanan tenda dengan ukuran, model & design yang variatif (sesuai pemesan).
    untuk Informasi lebih lengkap silahkan hubungi kami di :
    http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
    terimakasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s