Di Jakarta tak ada Burjo

“Mpok, minta burjo satu.”

Perempuan penjual bubur kacang ijo itu bengong.

Ini tak cuma terjadi sekali. Dan tak hanya pada satu tempat. Pertama, di kompleks perumahan dekat rumah kontrakan saya, Kebayoran Lama. Kedua, di bibir gang Kompleks BIER, Pancoran, Menteng Dalam, tepi Jalan Soepomo. Saya di kompleks perumahan para pensiunan dan pejabat Bank Indonesia itu guna bertandang ke Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, yang ngontrak rumah di sana sebagai kantornya.

“Penjual burjo di Jakarta tak tahu burjo?” pikir saya. Padahal asal mereka sama, Jawa Barat.

Ini beda nian dari para penjual burjo di Yogyakarta, tempat saya kuliah selama hampir empat tahun. Saya di sana pada 2000-2004. Di kota pelajar ini, saya temui berbagai istilah lucu. Ini singkatan untuk makanan dan minuman yang mereka jajakan.

Hayo, siapa tahu apa kepanjangan intel, tante, kopasus, jerman, dan burjo itu sendiri? Mereka artinya Indomie telor, Indomie tanpa telor, kopi pakai susu, jeruk manis, dan bubur kacang ijo.

Ciri khas itu tak saya temui di warung burjo ibukota ini. Di sini tak ada singkatan-singkatan lucu dan menggelitik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s