Donor Darah di Indosiar

Badan jadi segar dan enteng. Serasa makin sehat.

Saya bersama beberapa kawan di Komite Persiapan Federasi Serikat Pekerja Media-Independen, termasuk kakak saya Winuranto Adhi, bertandang ke Indosiar, Sabtu lalu (5/7). Kami bertolak dari sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, Kompleks BIER, bilangan Bidakara, Pancoran, Menteng Dalam. Naik mobilnya Pak Yoga, Ketua Forum Karyawan SWA. Kami hendak beri dukungan pada Sekarindo.

Serikat Karyawan Indosiar (Sekarindo) lagi punya gawe. Serikat pekerja yang berdiri April lalu ini menggelar dua kegiatan. Donor darah dan perpanjangan surat izin mengemudi. Yang terlibat tak hanya para karyawan, namun juga para warga yang tinggal di sekitar Indosiar. Kantornya terletak di Jalan Damai, Daan Mogot. Lokasi program itu di Studio 5, tempat syuting Gelar Tinju Indosiar, salah satu program andalan teve itu.

Ini donor saya yang kedua. Pertama kalinya saya donor waktu masih kuliah, 2001 atau 2002 lalu? Saya lupa pastinya. Yang jelas, waktu itu kegiatan mahasiswa pecinta alam (mapala) Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Palmae. Waktu itu, kata petugas, pembuluh saya halus. Kurang besar. Tanda kurang gerak alias olah raga. Darah saya pun mengalir sendat. Kurang deras. Makanya lama kantong terisi. Saran si petugas, saya musti banyak gerak atau olah raga. Fisik perlu dilatih.

Sabtu itu, saya lihat seorang pendonor juga lama berbaring. Dia perempuan. Tanda darah cuma menetes, tak lancar.

Kali ini syukurlah, darah saya lancar diambil. Dapat 250 cc. Saya mengantre cukup lancar, cukup menunggu dua orang sebelum saya. Saya lihat petugas wanita yang mengambil darah saya terkantuk-kantuk. Dia berjilbab. Terlihat bercak darah mengering di kuku tangannya.

“Kenapa Bu?”

“Kurang tidur. Harus tunggu kerabat semalam.”

“Di mana?”

“RS Gatot Subroto.”

“Sakit apa?”

“Sakit apa yah?” dia terhenti bicara. Perbincangan terputus. Dia perlu melayani pendonor lainnya di samping. Tak lain dan tak bukan, Pembina Karo Sekali, jurnalis foto freelancer anggota AJI Jakarta yang juga mewakili Komite yang datang. Pak Cik, begitu saya menyapa Pak Bina.

Ibu petugas itu beranjak sejenak, ambil teh hangat. Minuman hangat memang bisa mengusir kantuk dan menyamankan perut yang belum penuh terisi jelang siang itu.

“Dia protein dan kalorinya tak seimbang dengan kebutuhan tubuh. Dia kurus tapi perut besar kayak busung lapar. Korban salah diet,” sambungnya seperti hendak melunasi pembicaraan yang belum tuntas.

Teve yang tergantung di atas saya menayangkan sebuah berita semburan gas di Jakarta Utara. “Subhanallah…” ujar petugas Palang Merah Indonesia bagian pencatatan.

Selang beberapa menit, darah saya dan Pak Cik mengisi penuh kantong. Kami selesai hampir bersamaan. “Berapa banyak darah manusia?” tanya saya lagi.

“Sepertiga belas dari berat badan.”

“Kalau beratnya 75kg?” tanya saya merujuk bobot saya sendiri.

“Kira-kira 6 liter lebih.”

“Kapan bisa donor lagi?” Pak Cik ikut bertanya.

“Idealnya tiga bulan setelah donor. Kalau yang sudah terbiasa, malah pengen nambah. ‘Isi sampai 450 cc,'” ujarnya menirukan permintaan pendonor.

Dia tahan aliran darah ke kantong dengan dua buah gunting catut. Di tengah dua gunting itu, dia potong pangkalnya. Lantas dia ikat. Sisa darah yang masih di slang kecil dia tekan supaya megisi kantong. Slang yang terpotong pendek masih ada darah. Sisa darah itu dia masukkan ke sebuah tabung kecil.

“Untuk apa Bu?”

“Nanti dites serologi. Kalau ada penyakit, darah itu gak bisa buat donor.”

“Penyakit apa saja yang gak boleh?”

“Malaria, hepatitis, HIV/AIDS…” ujarnya memberi beberapa contoh.

Tuntas sudah darah saya berpindah ke kantong itu. Kantong pun berpindah ke peti penyimpanan. “Coba duduk dulu di atas kasur. Pusing? Kalau tidak silakan jalan. Kalau pusing berbaring lagi,” sambungnya.

Saya duduk di dipan. Tidak pusing. Malah serasa segar. Enteng. Lalu saya coba beranjak. Berdiri. Melangkah. Satu. Dua. Tiga… yak saya tidak berjalan sempoyongan.

Lantas saya menerima kartu donor berwarna merah dan suplemen penambah darah. Saya ambil juga satu bungkus mari Regal, satu susu kotak, dan Popmie. Saya seduh dengan air hangat. Saya lahap habiskan mereka. Maklum, belum sarapan.

Saya hendak pakai jaket. “Jangan dulu. Nanti kalau bocor darah keluar tak ketahuan,” ujar Ibu petugas pencatat yang tadi berdiri melihat berita teve gas nyembur. Dia kembali duduk dan mengetik berkas dan kartu.

“Loh, bisa bocor juga toh…” pikir saya. “Sudah berapa yang donor Bu?”

“Saya belum rekap resmi. Tapi 50 lebih sudah ada.”

“Kalau kartunya merah darahnya O?”

“Merah O, biru B, putih A, dan kuning AB,” ujarnya menerangkan sambil memperlihatkan kartu-kartu itu.

Saya masih geli, sebelum donor, ada seorang yang dihardik ST Cholidah, petugas penguji darah. “Ngakunya AB ternyata B,” celetuk Bu Cholidah. Sebelum donor, darah dites dulu golongannya. Setelah uji golongan darah, kita perlu mengukur tekanan darah. Waktu itu saya 100/70. Masih kurang tidur lantaran begadang. Untung bisa tidur empat jam lebih -syarat biar bisa donor.

Baik Bu Cholidah, petugas pencatat, maupun yang mengambil darah saya adalah perempuan berjilbab. Sudah cukup berumur. Saya memperkirakan lebih dari 40 tahun. Tapi mereka terus berbakti dan sungguh-sungguh melayani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s