Si Kucing dan Kepala Bandeng

Setiap tempat selalu ada si hurairah. Entah di kontrakan, entah di sekretariat organisasiku. Meong-meong-meong… bikin gemes.

Minggu, sehari sebelum hari terakhir bulan Juni. Sore jelang petang aku buka pintu kontrakanku. Di atas buk sudah mlungker seekor kucing kecil. Betina. Kembang telon. Tahu artinya kembang telon? Dari bahasa Jawa. Kembang artinya bunga dan telon adalah tiga. Bukan minyak telon loh. So, kembang telon means three colored. Putih, merah, hitam. Sudah barang tentu ini kucing betina. Tak ada kembang telon jantan.

Dia tertidur di atas buk. Aku gendong. Dia menggelendot. Minta makan rupanya. Mengeong manja. Sial. Tak ada lauk. Aku tak pernah masak. Selalu jajan. Sekilas berpikir, otakku melukis sketsa sebuah warung. Yak. Warung tegal dekat rumah. Hanya beberapa gang. Alright. Aku meluncur cari kepala bandeng.

Lahap juga dia makan. Meski sedikit-sedikit. Sengaja tak aku habiskan. “Setengahnya bisa buat besok,” pikirku.

Malamnya dia tetap tinggal. Aku tinggalkan sejenak ke warnet, dia tunggu dengan setia di depan pintu rumah yang terkunci.

Lantas aku mulai ngantuk. Sambil nyegat bola, final Piala Eropa. Spanyol lawan Jerman. Sembari baca novel Pencuri Anggrek. Buku itu pemberian Janet Steele, pengajar kursus jurnalisme sastrawi.

Kami berbaring di atas kasur kempet. Tak ada dipan. Cuma beralas klasa alias tikar. Si Mur menelepon. “Ini ada kucing kecil,” ujarku.

“Aku seneng kalau kamu cerita tentang kucing. Kayaknya sayang banget,” jawabnya.

Yah, Minggu malam ini aku tidur bareng si kembang telon. Hingga Senin subuh, usai menamatkan laga final itu. Bagiku tak seru. Both are not my fave teams. Fernando Torres mengakali Philip Lahm. Torres berhasil mencuri peluang, sekali sepak, bola melewati tubuh Jens Lehmann yang keburu jatuh badan. Pelan, setengah melengkung, bola bersarang di sudut bawah kanan gawang kiper gaek itu. Skor 1-0 bertahan hingga 90 menit habis. Tetap berbaring aku lihat pertandingan itu sambil tidur-tidur ayam.

Subuh itu dia mengeong melulu. Pengen keluar, batinku. Okelah. Silakan keluar, Pussy. Eh, tak lama dia mengerang. Hendak diserang kucing yang lebih besar. Aku masukkan kembali ke dalam rumah.

Senin pagi aku harus berangkat ke kantor. Hmmm… kali ini kamu tak ada teman atau pelindung sekaligus pemberi makan yah. Maaf. Aku harus meninggalkanmu. Nanti ketemu lagi. Sayang, Senin malam itu, sepulang aku dari kantor, batang ekornya tak kelihatan lagi.

Selasa malam, hari pertama bulan Juli. Aku ke bilangan kompleks perumahan Bidakara, Pancoran. Ke markas Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Rapat rutin tiap Selasa malam. Aku ketemu kucing yang lain. Kali ini jantan. Warnanya kelabu bercorak loreng. Lucu, hidungnya merah. Dulu kalau aku coba tangkap dia lari. Tapi sekarang mulai jinak. Meski masih malu-malu. Malam itu aku menginap di sana.

Rabu pagi, kembali dia menemuiku yang asyik ngobrol dengan beberapa kawan. Si kucing menghampiri dan mencokot-cokot jari kakiku. Sambil menjilat-jilat. “Sudah lapar dan pengen makan,” batinku. Jelang siang baru aku bersama Ronal dan Udin makan -sarapan yang terlambat- ke warung tegal di kompleks situ.

Usai makan, seperti hari Minggu lalu, aku pesan menu yang sama. Kepala bandeng. Yah, aku pulang ke kantor AJI, si kucing sudah tak ada. Tidak dicari nongol, kalau dicari malah raib. Lauk itu aku geletakkan di dekat ember sampah. Siapa tahu nanti dia memulung-mulung sisa makanan.

Aku harus berangkat kerja. Selamat tinggal kepala bandeng, eh, kucing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s