Janet Steele: Guyonan, Buku, dan Kue Ultah

Dia selalu bilang, “Ini menarik untuk ditulis di koran saya yang bebas… Saya tak pernah punya aturan. Anda bebas menulis di koran saya.” Dia berkomentar soal tulisan tugasan karya peserta kursus. Saya sendiri masih “penasaran” apakah dia beneran punya koran.

Atau, jika sesi menjelang berakhir, hari semakin sore, tatkala lelah makin berhinggap, dia sambil geleng kepala tanpa kehilangan senyum berkata, “Sebelum bahasa Indonesia saya habis, hahaha…”

Dua candaan khas Janet itulah yang selalu saya ingat. Teman-teman dan saya pun kerap menebar tawa jika mendengar guyonan itu.

Janet mengisi kursus jurnalisme sastrawi pekan ini -karena ini hari Minggu, masih masuk hitungan pekan ini, meskipun ini hari penghujung pekan. Kami bertemu pada Senin, Rabu, dan Jumat lalu. Sebenarnya dia tak sepakat pada istilah “jurnalisme sastrawi”. “Saya lebih suka menyebut jurnalisme naratif,” jelasnya.

Profesor asal George Washington University ini begitu antusias dan banyak cakap. Kaya pengetahuan. Namun tetap rendah hati. Dalam tiga hari itu, dia selalu melontarkan dua jurus kelakar itu. Rambutnya pirang lurus sebahu. Badannya kurus tinggi, lebih tinggi sedikit daripada saya yang 172 cm.

Kursus ini diselenggarakan oleh Yayasan Pantau. Selama dua minggu. Minggu pertama diisi oleh Andreas Harsono. Sama, tiga kali tatap muka: Senin, Rabu, Jumat. Kamis minggu lalu kami beruntung kursus ini menyediakan pemateri tamu, Goenawan Mohamad.

Jumat sore itu ada yang istimewa. Janet menutup kursus ini. Dia beri sertifikat. Dan… buku Susan Orlean yang sohor, Pencuri Anggrek (Orchid Thief). Saya sebenarnya berharap dia kasih buku rekomendasi yang satunya, In Cold Blood karya Truman Capote. “Seru. Kalau baca langsung tuntaskan dalam sehari,” saran Janet atas buku Capote itu.

Kata Mbak Siti dari Pantau, buku itu bisa dipesan di Pantau kalau mau beli. “Dapat diskon,” ujarnya.

Namun, sewaktu saya memesan lewat Mbak Dayu, “sudah habis. Cari di Gramedia saja,” tuturnya dengan wajah menyesal.

Saya berniat cari sendiri saja kalau begitu. Oh yah. Saya juga pengen memburu buku karya Janet, Wars Within, tentang sejarah Majalah Tempo.

Jumat sore itu kami beri kejutan kecil buat Janet. Kue tart coklat-kopi yang dibawa Dayu menutup peristiwa manis itu. Semanis kue itu. Janet baru saja ulang tahun. “Happy birthday to you…” Dewi, teman kursus, dengan semangat memimpin anak-anak menyanyi.

By the way, terima kasih Janet. Atas ilmunya. Atas bukunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s