Lambaian Salam

Mereka selalu setia melambaikan tangan. Entah salam apa. Salam selamat datang atau pelepas kepergian?

Sabtu, 08:30. Kereta Taksaka Pagi dari Stasiun Gambir membawaku yang duduk di gerbong enam. Tujuanku bulat. Ke Yogyakarta, menjenguk Si Mur. Tak sabar aku ingin segera menapaki Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota Budaya, Kota… apalagi? Terlalu banyak sebutan untuk provinsi paling selatan di Pulau Jawa ini.

Waktu serasa lambat berjalan. Tak sebanding dengan laju kereta kelas eksekutif ini. Meski kereta merupakan perjalanan tercepat di jalur darat, jika dibanding dengan naik bus. Rasa tak sabar bercampur tak karuan. Harus ada urusan yang perlu diselesaikan.

Mungkin ini pertemuan terakhir kami. Sebelum Mur berangkat ke Pekan Olahraga Nasional di Kalimantan Timur. Dia atlet panjat dinding. “Minggu depan aku sudah berangkat,” repetnya. Otomatis desakan itu membuatku mau tak mau harus meluncur ke Yogya.

Hubungan jarak jauh memang serasa berat bukan buatan. Kau bisa melihat pasangan lain, bahkan kawan sendiri dapat berdekatan dengan orang tersayang. Tapi kau di sini hanya merajut asa. Pengobat rindu hanya suara dari seberang. Untuk waktu yang lama. Ketemu sebulan sekali, itupun sudah syukur.

Itu yang dia keluhkan. Dia saat ini butuh suntikan moral. Pendongkrak semangat. “Kamu hanya sibuk pada kerjaan,” perkataan yang berulang-ulang itu selalu menghimpitku.

Setiap hari adalah luapan emosi. Dia capek latihan. Aku lelah bekerja.

Namun kedatangan kali ini bukan keterpaksaan. Aku ingin jadi orang yang benar-benar berarti. Meski hanya sehari bersua. Aku ingin jadi orang yang benar-benar bisa membahagiakan orang tersayang.

Laju kereta serasa lambat. Bagai ular yang hati-hati melangkah.

Gerbong enam adalah kedua dari belakang. Jika rel melengkung karena berbelok, bisa kulihat dari jendela lokomotif di depan. “Cukup panjang juga kereta ini,” pikirku.

Sawah yang hijau terhampar merupakan pemandangan penyejuk mata. Lanskap yang luas di tengah suasana yang sepi. Sederet rumah yang masih beralas tanah. Penduduk desa yang masih dipeluk oleh kesederhanaan. Cukup menghibur. Pengusir jenuh. Lebih bagus daripada pemandangan jika kita ambil jalur bus. Kereta adalah jalur selatan sedangkan bus merupakan lajur utara.

Di luar, bocah-bocah melambaikan tangan mereka. Tersenyum ramah. Kereta melaju, mereka berlari. Meski mereka tahu, langkah kecil mereka tak mampu mengimbangi deru kereta. Melambai dan melambai. Berlari dan berlari. Hingga si ular besi hilang di kejauhan.

Aku bertanya-tanya, kira-kira mereka hendak mengucapkan apa. Selamat datang atau selamat jalan?

Perjalanan hanyalah perjalanan. Bagiku pergi adalah melangkah untuk pulang. Pukul 17:00. Kereta berhenti di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Dia menunggu di depan.

One response to “Lambaian Salam

  1. kata temenku waktu perpisahan sma
    “kita dipisahkan untuk saling merindukan”
    mungkin kalo nggak terpisah jarak nggak bakal tahu sebesar apa arti seseorang itu bagi kita….
    ini yang namanya jurnalis sastrawi ya mas??bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s