Lelahnya Tes Treadmill

Anda punya risiko penyakit jantung? Jangan tunggu sampai meningkat jadi tahap gejala, apalagi hingga tahap serangan atau penyakit. Jika tak puas melihat hasil tes darah, segeralah untuk uji lari di atas treadmill.

Saya baru saja menjalani tes ini di sebuah rumah sakit dekat kontrakan saya, siang tadi. Saya tinggal di bilangan Kebayoran Lama. Saya sudah tes darah, 20 Mei lalu. Dibanding tes darah sewaktu kena demam dengue pada 28 Januari, ada peningkatan kondisi. Trigliserida sudah di bawah 150. Sebelumnya sempat menyundul 250. Kolesterol LDL 123, sedikit di bawah ambang, 130. Padahal Januari lalu sudah baik, 80. Kolesterol HDL meningkat jadi 39. Harusnya normalnya HDL pria dewasa di atas 40. Nah, nampaknya ini yang perlu hati-hati.

Loh, memangnya kolesterol ada yang harus tinggi, ada yang harus rendah? Benar. LDL merupakan kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah. Makanya kalau terlalu tinggi berisiko dapat menyumbat pembuluh darah. Sedangkan HDL merupakan kolesterol yang bakal disalurkan ke hati. HDL kolesterol baik. Makanya harus tinggi. Meski demikian, total kolesterol yakni LDL plus HDL kudu seimbang, jangan lebih dari 200. Kira-kira penjelasan dokter demikian lah.

Clekit-clekit di dada masih kadang saya rasakan. Apalagi jika terpaksa begadang. Maklum, kini saya jadi redaktur di media saya bekerja. Begitu banyak berita yang masuk pada malam hari. Saya merasa kena strap oleh reporter-reporter saya yang kirim berita di atas pukul sembilan malam. Kami belum punya deadline yang ketat. Maklum, media kami online, tak kenal tenggat waktu ketat layaknya cetak. Sesuka-suka hati. Kayak mengelola blog saja, kapan saja ada berita, kapan saja menulis, dan kapan saja upload.

Nah, saya ingin melanjutkan tes pada tahap treadmill. Saya diasuh oleh dokter Nurul. Jika mejalani tes ini, kita kudu berjalan dan perlahan-lahan kecepatan akan meningkat. Setiap tiga menit dokter akan mengukur tensi darah.

Sial. Saya begadang lagi. Habis rapat dengan teman-teman serikat pekerja. Larut pukul dua baru tidur. Itupun tergoda melirik Piala Eropa. Bangun subuh, salat, dan tidur lagi. Belum puas. Pun masih lemas. Bangun pukul setengah sepuluh. Belum sempat sarapan. Serasa hape yang belum pulih kena charge.

Dokter datang telat, hampir pukul dua belas -harusnya jam sepuluh. Perut serasa kukuruyuk aja. Saya mulai tes. Pertama terbaring. Ini kondisi jantung resting. Lalu jalan pelan di atas mesin treadmill. Tiga menit berselang, kecepatan ditambah, kemiringan juga bertambah. Serasa jalan naik tangga. Lantas tiga menit selanjutnya kecepatan dan angle juga bertambah. Tiga menit keempat saya menyerah.

Lucu juga, saya berhenti meloncat dari track dan meminggirkan kaki di atas pijakan yang tak turut berjalan. Sampai dokter dan suster kaget. Harusnya saya minta berhenti supaya kecepatan dikurangi. Ini penting. Jangan mendadak berhenti. Ada tahapnya, pelan-pelan, dari lari kencang ke jalan pelan. Jangan buat kaki berisiko kram. Anda dapat meminta berhenti kapan saja, jika sudah merasa lelah dan tak kuat mengimbangi kecepatan dan lamanya treadmill melaju.

Hasilnya, setelah menuju 12 menit berlari, detak jantung saja mencapai 174 semenit. Targetnya sih harus mencapai 192 degup semenit. Ini untuk melihat apakah kapasitas jantung dan pembuluh darah koroner kita prima. Alhasil, tingkat kebugaran (fitness classification) saya di atas 85%. Untuk pria seumur 26 tahun seperti saya, kata dokter, itu angka rata-rata. Kalau seorang atlet pasti bisa lebih daripada itu.

Tes ini untuk menguji seberapa responsif pembuluh darah koroner untuk mengangkut darah yang dibutuhkan jantung. Bukankah jantung adalah tempat persimpangan darah? Darah yang mengandung oksigen dipompa jantung lantas darah kotor kembali lagi ke jantung, ambil oksigen dari paru-paru, lantas dari jantung dialirkan ke seluruh tubuh lagi? Benar.

Namun jantung juga organ yang perlu makanan pula. Nah, pembuluh yang mengangkut makanan maupun oksigen buat si jantung namanya pembuluh darah koroner. Makin cepat jantung berpacu -misalnya kerja berat maupun olah raga, makin butuh makanan banyak. Apakah koroner cukup elastis memenuhi makanan jantung sesuai kebutuhan? Jika kebutuhan jantung membesar, namun koroner tak cukup suplai, ada kemungkinan penyumbatan. Penyumbatan ini lantaran penumpukan lemak atau kolesterol. Inilah penyakit jantung koroner.

Dari tes treadmill tadi, dokter menyimpulkan kapasitas jantung dan elastisitas koroner saya masih normal, masih rata-rata. “Hasil bagus, sudah pada stage keempat. Bahkan ada yang baru tahap kedua atau ketiga sudah mengaku capek.”

Pesan dokter, saya kudu menambah HDL lagi. Serta mengurangi LDL. Kadar trigliserid perlu dipertahankan. Resepnya? Tak perlu obat jalan. Dokter ini percaya pola hidup sehat. Dia sarankan saya lanjutkan konsumsi bubur oatmeal dan minyak ikan yang mengandung Omega 3, 6, dan 9. Pola makan, hindari lemak hewani. Lebih bagus jika konsumsi ikan laut. “Menkes Siti Fadilah Supari pernah meneliti, ikan berlemak tak jenuh paling bagus adalah ikan lemuru. Banyak di Bali. Tapi durinya banyak dan rasanya kurang enak,” tutur Bu Dokter. Tapi, sambungnya, jangan asal sea food. Udang maupun cumi malah bisa menambah trigliserida.

Serta jangan lupa olah raga. Seminggu tiga kali. “Paksalah Anda lari selama tiga puluh menit, kecepatan rata-rata cukup 10 kilometer per jam.” Plus, tentu saja tidur dan istirahat yang jenak.

Waduh, harusnya ini saya makan siang. Segera saya tinggalkan rumah sakit. Langsung saya buru warung langganan, melahap sayur asem yang segar. Plus tempe sayur. Empal. Buat menambah protein. Asal jangan lemaknya. Habis makan siang plus rapelan sarapan itu, saya tidur terlelap hingga sore. Bangun-bangun badan jadi segar.

Saya lupakan sejenak rutinitas kerjaan dan kegiatan. Edit berita cukup dari wartel dekat rumah. Rapat organisasi? Saya rehat dulu deh. Saya ingin nikmati waktu. Besok pagi ada kursus jurnalisme sastrawi. Biarlah saya istirahat sejenak dari penatnya rutinitas, me-recharge pikiran dengan menenggak teori. Sudah lama saya tak belajar dan membaca. Terkubur rutinitas liputan dan tulis berita yang melelahkan.

Afterall, saya berhak istirahat. Informasi dari saya cukup berguna bukan? Meski bukan berlatar belakang pendidikan kesehatan, saya setidaknya cukup tahu -meski dalam batasan awam. Inilah gunanya jadi wartawan… Hehehe…

9 responses to “Lelahnya Tes Treadmill

  1. Sore ini saya dapat telepon dari kakak. Ada kabar, tetangga di Pati sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Kudus. Perempuan, berputra satu. Sudah pada tahap sesak napas. Usianya sebaya kakak, sekitar 32 tahunan. Ayah si tetangga, usai Lebaran lalu meninggal karena jantung -Oktober. Bapak kami pun meninggal sebulan sebelumnya juga dugaan jantung. Penyakit ini memang mewabah dan menjadi pembunuh tersembunyi (silent killer). Korbannya makin meningkat dan kecencerungan saat ini menyergap usia muda. Segeralah berpola hidup sehat!

  2. Dah ky dokter aja ngasi penjelasannya hehehe

    Yaudh ikutin saran dokter aja smg Ycb jd lebih sehat🙂

  3. Itu juga yang melatar belakngi njenengan berhenti merokok bos???

  4. haduhh..sy sp deg..deg an bacanya.. semoga tes itu bisa menyadarkan utk hdp lbh sehat ..

  5. saya sepakat mas untuk mulai hidup sehat, mumpung masih diberi kehidupan toh? . kadang kita sendiri lupa dengan hak-hak tubuh yang harus dipenuhi.

  6. Irfan, kucingkeren, Aprina,
    Makasih atas tanggapannya. Aku berenti ngrokok karena pernah sakit tipus. Iya, kita memang harus mulai hidup sehat sejak dini. Sebelum fisik kita rusak di usia produktif.

  7. Betul banget kita ini mesti rajin olahraga dan menjaga pola makan yang baik.

  8. You’re the graeetst! JMHO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s