Komentar Film En La Cama (In Bed): Potret Pergaulan Dua Manusia nan Absurd

Begitu mudahnya manusia melepas nafsu. Tak perlu alasan saling mengenal. Terjadi begitu saja. Dan saling meninggalkan begitu saja.

Saya baru saja merampungkan nonton film En La Cama (In Bed). Mungkin ini dari bahasa Spanyol (Latin?). Mungkin karena ini juga kita mengenal kata serapan, kamar. Entah.

Saya jadi kagum pada sutradara ini film, Matias Bize. Ini film Cile, sebuah negara Amerika Latin. Bize nampaknya adalah sutradara spesialis film pendek. Film ini menyabet Paoa Award pada 2006, via Blanca Lewin sebagai aktris terbaik.

Bize tak perlu banyak pelaku. Cukup dua orang, yakni aktor Gonzalo Valenzuela dan aktris Lewin. Tak perlu juga setting yang beragam. Cukup sebuah kamar motel beserta kamar mandinya. Pelaku tak perlu latar luar ruang atau tempat lainnya.

Justru lewat cekaknya jumlah pelaku dan setting, Bize mampu menggali betapa kayanya nilai muatan film ini. Bize pernah membuat sebuah film pendek, The Calling. Cuma beberapa menit, adegannya hanya seorang wanita yang entah menerima telepon dari siapa. Si wanita menangis sambil memamerkan mimik sedih harus menerima kenyataan pahit, sembari bercakap dengan si lawan bicara yang tak perlu tampil di layar. Cukup adegan itu saja. Uniknya, film The Calling pun menyabet penghargaan bergengsi.

Kembali ke ranjang, eh En La Cama. Film berdurasi hampir 90 menit ini dimulai dengan suara-suara lenguhan dua insan yang sedang menuntaskan syahwatnya. Ceritanya, dua orang asing baru saja bertemu dan memutuskan untuk pergi ke motel.

Tak perlu saling kenal. Terjadilah begitu saja. Bahkan nama masing-masing pun mereka tak kenal. Si pria mengaku bernama Bruno. Dan wanita mengaku Daniela. Mereka baru bercakap, menyelami pribadi masing-masing justru usai bermain cinta sesaat itu.

Mereka enggan juga keluar kamar. Saling berpelukan, mandi bersama, dan bercinta lagi. Lantas lanjut ngobrol lagi. Saling melempar kata-kata gombal. Saling penasaran. Dan saling pula mencoba menutupi latar belakang yang sebenarnya. Ngobrol soal pasangan. Sudah punya pacar? Ngakunya masing-masing baru saja putus hubungan. Dikecewakan oleh masing-masing kekasih. Saling bergantian ke kamar mandi. Sembari menunggu keluar si partner kilat, mereka saling menggeledah barang pribadi. Daniela membuka dompet Bruno. Dan Bruno membuka tas si perempuan. Ditemukannya undangan pernikahan. Daniela bakal kawin dengan kekasihnya, Jumat minggu ini.

Kadal-kadalan, memang. Ketika melanjutkan ronde ketiga, Bruno menceracau. “Fransisca…” Dia menyebut nama mantannya. Sehingga Daniela marah. Umpat-umpatan, emosi tumpah. Lantas terbetik sebuah hasil dari perbuatan yang berisiko ini. Bruno menemukan kondomnya bocor. Ada kemungkinan Daniela hamil.

Saling diam, lantas melanjutkan saling cerita lagi. Masing-masing angkat telepon. Mungkin dari pasangan masing-masing. Tak saling mengaku siapa yang sebenarnya menghubungi. Hanya mengaku dari teman atau kerabat.

Waktu berjalan namun masing-masing enggan saling meninggalkan. “Terlalu cepat untuk keluar, namun terlalu lama untuk tinggal (di kamar),” ujar Daniela di atas pelukan Bruno. Ah, waktu tak dapat dihentikan. Tiba juga saat harus berpisah. Keduanya saling berpelukan, namun belum tuntas apakah mereka sudah saling mengenal. Esok hari apakah bakal berlanjut lagi. Film ini memang berakhir dengan maksud sengaja tanpa tuntas.

Sebuah dunia yang absurd. Apakah pergaulan masa kini memang demikian adanya?

3 responses to “Komentar Film En La Cama (In Bed): Potret Pergaulan Dua Manusia nan Absurd

  1. kirain film bokep.. hahaha…
    idenya memang sederhana, tp itulah yang dimaui oleh si penulis cerita.. namanya saja en la cama/in bed.
    not really recommended.

  2. Pertama kali tau ttg film En La Cama ini, waktu aku pas datang ke rental VCD/DVD. Pas lihat “cover”nya udah ada dlm benakku klo ini adalah film porno. Sekali lihat gak jadi nyewa, dua kali…., tiga kali…., akhirnya yang keempat kali krn penasarn aku berani-beraniin tuk nyewa film itu.
    Aku memang suka film bokep, tapi yang “semi”nya truz di film itu ceritanya bagus. Baru kali ini aku nonton film semi bokep yang ceritanya bagus banget. Menurutku film En La Cama ini ceritanya lebih bagus daripada film Original Sin-nya Amrik.
    Di film En La Cama, emosi kedua pemerannya bagus banget. Dari yang tadinya gak saling kenal, setelah ngobrol kesana-kemari, sampai ke saling curhat hal-hal rahasia, akhirnya timbul rasa suka diantara Bruno n Daniela ini. Tapi sayangnya akhir cerita film ini statusnya dipertanyakan. Kayaknya penonton disuruh ngambil kesimpulan sendiri.
    Aku hobi baca novel-novel romance, jadi pengennya sih akhir cerita film En La Cama ini happy ending. Si Bruno n Danielanya bersatu truz mereka punya anak, n bahagia selamanya.
    Tapi klo kayak gitu mungkin filmnya gak kan dapat penghargaan y? Pastinya aku suka banget film ini, nonton berulang-ulang pun gak bosan, coz di film En La Cama ada nilai-nilai tertentu yang penting banget.
    Bagi yang udah nonton film ini, kamu-kamu sependapat gak sama aku ?
    Bagi yang belum nonton film ini, sebaiknya kamu-kamu nonton deh film ini, tapi yang bener nontonnya! Jangan nonton pas adegan “gitu”nya aja, tapi selami isi cerita film itu.
    Mudah-mudahan nanti ada lagi film-film yang bagus lagi, yang ada nilai-nilai pentingnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s