Forever The Moment, Film tentang Jerih Payah Atlet

Sudahkah kerja keras mereka dihargai? Dapatkah mereka hidup layak seusai pensiun kelak? Ini film tentang pengorbanan, tentang kegigihan, tentang perjuangan, tentang… kehidupan.

Atlet. Adakah Anda berpikir bercita-cita menjadi atlet? Adakah Anda berpikir menggeluti suatu dunia olahraga dan menggantungkan pencaharian dari bidang keras ini? Adakah Anda berpikir bahwa mereka adalah patriot yang sebenarnya?

Atlet. Adalah raja di lapangan. Laksana seniman. Begitu naik di atas panggung, di sanalah mereka merasa hidup. Jiwa bebas dan lepas. Setelah itu, atlet, the rest is just an ordinary world. Nothing special. Wake up, this is a real life.

Ini film mengangkat cerita kehidupan atlet putri cabang bola tangan (handball) Korea Selatan. Kehebatan mereka sudah membahana bergaung, puncaknya adalah medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Musuh bebuyutan mereka adalah Denmark.

Film ini merupakan fiksionalisasi perjuangan atlet negeri ginseng ini pada Olimpiade Athena 2004. Sayang, langkah mereka hanya terhenti menyabet medali perak. Si pemenang, tetap Tim Dinamit Dinamarca. Pentolan tim Korea Selatan antara lain Han Mi-sook (Moon So-ri), Kim Hye-kyeong (Kim jung-eun), Song Jeong-ran, serta Oh Soo-hee. Keempatnya merupakan pemain kawakan yang masih dipercaya memperkuat tim.

Bola tangan tak semengindustri sepak bola, rugby (di Amrik), atau basket. Kesejahteraan atlet cabang ini belum bisa terangkat. Lihat saja Mi-sook. Ibu satu anak ini menikah dengan atlet bola tangan putra. Prestasi suami tak secermelang Mi-sook. Malah dia hanya jadi lelaki tak berguna. Banyak utang, banyak dicari debt collector, saban hari berjudi. Mi-sook acap jadi bemper.

Untuk menambal perekonomian, Mi-sook rela jadi pegawai perusahaan ritel (kayak Carrefour). Ironisnya, manajernya mengidolakan dia. Kagum akan prestasinya. Sayang, tetap saja dia sebagai bawahan. Kejayaan hanya di lapangan. Medali emas Barcelona hanya kenangan.

Hingga satu saat dia hendak melupakan dunia yang sudah melambungkan namanya itu. Ketika dia ditawari balik kandang untuk Olimpiade 2004, dia mengajukan syarat biaya hidupnya ditanggung penuh oleh Komite. Kompensasinya, dia dan tim harus bisa menggondol emas.

Hye-kyeong sedikit lebih sukses. Dia bisa melanjutkan karir menjadi pelatih sukses untuk sebuah tim di Jepang. Hingga Komite menariknya menukangi Tim Nasional Putri Korea Selatan. Cuma, sejak kehadiran pelatih Ahn Seung-pil, Hye-kyeong siap-siap angkat kopor. Ahn dipercaya membawa modernisasi sistem latihan dari hasil timba ilmu di Eropa. Untunglah, jasa ibu satu anak ini masih dibutuhkan. Hingga dia balik jadi pemain di bawah arahan Ahn, mantan pacarnya.

Jeong-ran adalah perempuan tomboy. Dia menikahi juragan resto. Cuma dia tak punya anak lantaran menenggak pil antihaid. Maklum, agar dia tak terganggu rasa sakit ketika bertanding. Inilah risiko atlet putri, di bawah dunia olah raga yang seringkali masih menafikkan kesetaraan gender.

Soo-hee adalah perawan lapuk. Dari dulu belum laku juga. Mungkin karena terlalu asyik menggeluti dunianya. Coba tengok dunia nyata. Kebanyakan atlet toh berjodoh dengan sesama atlet atau pelatihnya sendiri. Mungkin olah raga adalah dunia yang menjemukan dan membosankan serta cupet. Semoga pernyataan saya salah. Meski berangkat melanglang buana ke berbagai negara, toh dunia atlet itu-itu juga. Latihan, tidur di mess, pola makan diatur, bertanding, dan kembali lagi ke kamp latihan.

Kekuatan tim bertambah dengan suntikan darah muda, dari atlet belia Jang Bo-ram (Min Ji). Menariknya, Bo-ram adalah fans berat Hye-keong. Dia masih menyimpan bola yang ditandatangani oleh sang idola ketika Bo-ram masih kecil. Kini, mereka malah jadi satu tim.

Seru-haru-biru perjuangan tim ini menarik untuk disimak. Ada perjuangan. Ada solidaritas. Ada kekompakan. Ada manisnya kesuksesan. Film ini tak mau melenceng dari plot cerita aslinya. Di akhir kisah, tim ini kalah di tangan Denmark. Rumus happy ending sudah usang. Justru inilah kekuatan film ini. Sebagai tanda, atlet, selain pahlawan, dia adalah manusia biasa.

*Ditulis oleh seseorang yang serius menjalin hubungan dengan seorang atlet.

One response to “Forever The Moment, Film tentang Jerih Payah Atlet

  1. wonderful synopsis.. .i cried so badly, terharu abis.. :'(…
    hidup atlet!!( indonesia jg)..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s