Ada Nasi Gandul di Grand Indonesia

Pengen tahu harganya? Rp24.000 sepiring. Twewewewew…

Menarik juga jalan-jalan di Grand Indonesia. Saya bersama adik, Ginanjar Rah Widodo, diajak kakak dan istrinya, Mas Wiwin dan Mbak Gita menyambangi plaza anyar ini. Ada selarik deretan kios penjaja masakan khas daerah Pantura Jawa Tengah. Khas Semarang, Kudus, dan tentu saja Pati. Salah satu kiosnya menawarkan nasi gandul yang kesohor itu. Kami ke sana Senin malam (26/5).

Mungkin ada hubungannya juga. Saya pernah ngobrol dengan pentolan serikat pekerja dan pensiunan pegawai Hotel Indonesia. Investor Grand Indonesia kan Grup Djarum? Djarum, perusahaan rokok gergasi asal Kudus itu loh. Mungkin saja Grand Indonesia hendak membawa cita rasa daerah Kudus dan sekitarnya.

“Saya asal Juana loh Mas,” tutur salah satu pelayan pria, menceritakan asalnya. Juana termasuk Pati, tapi beda kecamatan dengan saya. Saya dari Kecamatan Pati. Juana daerah pesisir. Produknya yang terkenal antara lain trasi dan bandeng. Juana penghasilnya, lantas mereka jual ke Semarang. Semarang yang menuai nama lantaran masakan bandeng presto yang melegenda itu.

Kembali ke nasi gandul -yang asalnya dari Desa Gajahmati, Pati. Sayang, ada beberapa ciri khas yang hilang. Tak ada sendok dari daun pisang. Nyiru atau nyuru, istilahnya. Pakai sendok logam. Piring masih dialasi oleh daun pisang. Namun, kurang segar. Mungkin daun pisang kemarin-kemarin. Not fresh just taken.

Lauk yang tersedia juga terbatas. Tak lengkap. Pada dasarnya, semua bagian sapi bisa disajikan jadi lauk. Yah jantung, paru, lidah, babat handuk, babat suwir, babat jala, hati, otak, daging, kikil, usus, dan sebagainya. Hanya beberapa bagian yang ada. Standar. Empal, usus, babat, otak.

Kuahnya pun terlalu coklat. Padahal kuah asli gandul di tanah asal kami kemerahan. Ada beberapa kerat gajih atau daging yang turut terebus bersama kuah. Kalau di Grand Indonesia kagak ada. Kuah benar-benar kuah. Tak ada, istilahnya, tetelan -keratan itu tadi.

Tempe goreng pun diganti tempe dan tahu bacem. Plus beberapa gorengan. Oke, saya lihat masih ada pergedel khas pengiring nasi gandul. Tapi tempe ini loh. Kok tidak ada. Tempe ini bukan tempe biasa. Tapi garing, kalau digigit kemriuk saking garingnya. Tapi bukan tempe kripik. Inilah istimewanya. Tempe khas gurih yang dipercaya direbus dulu dengan santan, sebelum digoreng. Dipercaya? Yah soalnya si koki gandul genuine tentu tak mau begitu saja berbagi resep rahasia dapurnya.

Meski demikian, nasi gandul ini tetap mengobati sejenak rasa kangen saya pada kampung halaman. Lagipula, saya belum pernah mencicipi sepiring nasi gandul seharga puluhan ribu. Kalau di tempat asal saya, nasi plus lauk, cukup Rp5-6 ribu. Hehehe…

4 responses to “Ada Nasi Gandul di Grand Indonesia

  1. assalamu’alaikum
    maap ya mas, kamu masnya ginanjar kan?
    walaupun cuma bisa denger cerita dari guru2 sma1 tapi saya udah bisa melihat kehebatan anda terutama dalam hal akademik…
    oia sekarang kerja di hukum online ya…boleh minta tolong gak, sekarang saya baru belajar menulis mohon dibantu dengan wejangan2nya ya
    matur nuwun mas
    sekali lagi udah sksd

  2. Fatimah,
    Ya, bener, aku kakaknya Anjar. Terima kasih atas komentarnya. Silakan saja kalau kita mau diskusi. Aku siap dikontak lewat hape maupun email. Sekarang aku lagi kursus jurnalisme narasi.

  3. emang emailnya apa mas?no.hapenya berapa?
    heee
    emang bedanya jurnalisme narasi ma jurnalisme biasa apa?
    maap ya mas sekalian mau curhat, sekarang aku lagi aktif ikut lembaga pers mahasiswa tapi masih belum dapat ilmu yang cukup tentang keredaksian padahal sekarang udah punya 2 adik angkatan jadi secara tidak langsung dituntut untuk mampu menulis dan bahkan mengedit tulisan adik2 padahal ilmunya aku belum punya,…bingung nih mas soalnya yang tua2 udah pada lulus
    maap yah malha curhat matur nuwun mas..

  4. Fatimah,
    Email saya yacobyahya[at]yahoo[dot]com. Baguslah jika kamu masih aktif di persma. Soal banyak pegiat yang sudah lulus, itu masalah klasik. Jangan pernah merasa minder tak mampu sama sekali. Belajar memang ada prosesnya. Jika aku baca kembali tulisan pertamaku, akupun ingin tertawa. Betapa jeleknya dan banyak kekurangan. Teruslah belajar dan banyak membaca media. Misalnya Kompas maupun Tempo. Itu cara belajar yang mudah. Lebih lanjut, silakan kita diskusi via email.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s