Hukum yang Berlaku

Kalangan wong cilik sudah apatis. Kita senantiasa dicekoki doktrin harus menaati aturan hukum yang berlaku. Lain kata, hukum yang laku dibeli oleh orang-orang berduit.

Ini perbincangan sederhana saya dengan seorang sopir taksi. Siang itu saya usai salat Jumat dan hendak berangkat ke kantor. Kami melewati jalur Permata Hijau-Palmerah-Pejompongan. Pas lampu merah belakang Pasar Palmerah, ada sepeda motor nyelonong menyeberang dari rel kereta api dekat Stasiun Palmerah. Padahal, lampu hijau buat kami.

Kontan si sopir menggerutu. “Selama ini kita dipaksa mematuhi hukum yang berlaku. Itulah salahnya,” tuturnya dengan bahasa Jawa yang kental. Pak Sopir melanjutkan, maksudnya, hukum yang berlaku berarti hukum yang hanya laku bagi kalangan berduit. Bisa jadi, hukum dapat “dibeli”. “Ah, kalau orang kecil ditekan, orang berduit dibiarkan.”

Saya kurang tahu apakah Si Slonong Boy bermotor bebek itu termasuk kalangan berdoku. Tapi dugaan saya, teman bicara saya ini sedang mendamprat penegakan hukum yang amburadul. Keluar dari terowongan Landmark, ah, kami melihat polisi menilang pengendara sepeda motor. Belokan jelang Jalan Rasuna Said, lagi-lagi, kami lihat polisi yang acap ngumpet namun tahu-tahu menyergap si “korban” tilang. “Uber setoran,” celetuk si sopir.

Saya hanya tersenyum terdiam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s