Waisyak, Empat Tahun Silam

Bhumi Sambhara Buddhara. Lidah jawa menyebutnya Borobudur. Ada pula yang mengartikan perkampungan para penganut Buddha (parabuddhara). Dari tahun ke tahun, pada purnama Mei, tempat ini menjadi magnet dunia. Empat tahun sudah saya tak mengunjungi rumah kedua ini.

Mei, 2004. Sepekan jelang perayaan hari raya umat Buddha, lapangan Pondok Tingal padat tiap harinya. Mulai pagi hingga siang. Sejak siang sampai sore. Dari sore tuntas malam. Ada festival kesenian daerah Desa Wanurejo, timur Candi Borobudur.

Kala itu saya hempaskan rasa suntuk akibat macatnya garapan skripsi. Saya selalu melarikan diri, escape, menenangkan rasa dan pikir di tempat ini. Serasa hape yang sudah ngedrop kena charge, pulih kembali. Menghindar sejenak dari kejenuhan dunia kampus yang makin matre dan hedon.

Pertama kali saya ke daerah ini hampir setahun sebelumnya. Juli-Agustus 2003 saya kuliah kerja nyata di sini. Tepatnya di Dusun Gedongan. Wanurejo terdiri dari sembilan dusun. Selain Gedongan, ada Jowahan, Tingal Wetan, Tingal Kulon, Soropadan, Barepan, Ngentak, Brojonalan, serta… ah lupa. Aha, Dusun Bejen. Empat tahun silam, hampir lima tahun, bahkan. Kenangan yang masih melekat.

Suasananya, gemericik air sungainya, keramahan warganya, keseniannya, hampar sawahnya, kesahajaannya… tak dapat ditemui di tempat lain. Tiada di Yogyakarta yang konon santun, sekalipun -tempat saya kuliah. Apalagi di Jakarta -tempat kini saya kerja.

Kala itu Gedongan jadi juara umum festival kesenian tingkat desa. Kami (kami? yah saya sudah merasa jadi bagian dari warga Gedongan) mempunyai kesenian unggulan: jathilan -kuda lumping, tari dayakan, serta rebana.

Saya selalu menikmati (tepatnya menonton) jathilan maupun dayakan. Suasana magisnya. Aroma kemenyan. Deru gamelan yang makin cepat. Beberapa penari trance. Sabut kelapa mereka ganyang. Kembang di dalam baskom berisi air juga mereka kunyah. Bahkan kemenyan mereka makan. Lantas gerakan tak terkendali. Bergelimpangan. Pawang siap-siap timbul -timbul adalah istilah mencabut roh halus yang bersemayam ke raga si penari supaya penari sadar seperti semula. Gamelan mereda.

Sepekan berlalu. Pentas seni usai. Tibalah hari menyambut Waisyak. Sejak subuh, warga sudah riuh memadati pelataran Candi Mendut. Lantas arak-arakan beriringan, dipimpin oleh para biksu. Menuju Candi Pawon. Singgah sejenak. Pawon adalah candi terkecil, terletak di antara Mendut dan Borobudur.

Mereka merupakan trilogi Candi Buddha di kawasan itu. Para ahli percaya, jika kita melihat dari posisi tertentu -di suatu bukit- mentari terbit pada tanggal tertentu, terbentuklah garis lurus yang menghubungkan ketiganya.

Perjalanan berlanjut. Pagi, mentari makin hangat. Borobudur jadi raya. Lilin gede berjajar berwarna-warni. Lilin kecil di atas cangkir plastik meliuk-liukkan pijar api yang menari. Lelilinan cilik itu di atas bentangan kain. Bagai sekelompok teratai yang mengambang di atas kalen -sungai kecil. Pijar apinya juga bagai padma terapung di atas lelehan yang mencair berpadu dengan minyak. Hampir padam, bocah-bocah memungutnya.

Kala itu saya bersama Fifi, Biah, dan Elsi, gadis kelas lima dan enam SD dari Tingal Wetan. Mereka selalu menggelendot minta jalan-jalan bareng ke candi. Kami temui seorang biksu. “Selamat hari Waisyak,” sapa saya.

“Terima kasih,” ujar si gundul berkaca mata itu, yang ternyata perempuan. Jubahnya coklat. Lantas dia bergegas pergi minta permisi. Pertemuan singkat namun bersahaja.

Borobudur, candi terbesar yang jadi penopang kehidupan dan penghidupan warga sekitarnya. Semarak di kala Waisyak. Namun makin senyap di hari-hari biasa.

Saya rindu suasana di sana. Bukan pada candinya. Melainkan pada warga desanya. Pada jathilan. Pada kerajinan bambu. Pada lapangan voli. Pada panen jeruk -mereka menyebutnya metis, kata “metis” juga digunakan untuk menggambarkan sosok gadis manis. Pada rokok lintingan beracik kelembak-kemenyan. Pada mandi (telanjang bulat) rame-rame di Sungai Sileng. Pada… persaudaraannya…

Dari waktu ke waktu dari hari ke hari, sebenarnya saya memendam keinginan, kapan punya waktu sempat kembali ke sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s