Catatan Mayday 2008: Tak Semeriah Tahun Lalu

Massa terpecah menjadi tiga titik. Ada yang di Senayan berjoget bersama Nidji di depan Presiden SBY dan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Ada yang di Lapangan Banteng tuntut bubarkan kabinet. Ada yang dari Jl. Diponegoro Menteng, ada yang dari Bunderan Hotel Indonesia -kedua kelompok beranjak ke Istana Negara. Mayday kali ini, saya merasa tak sesemarak tahun lalu. Jumlah massa lebih besar. Tapi… terasa sepi meskipun rame.

Massa Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lebih sedikit daripada tahun lalu. Bagi saya, inilah Mayday keempat -sejak 2005- bersama AJI Jakarta. AJI selalu bergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM). Tahun 2005 memang hanya segelintir massa AJI. Dipimpin Ketua AJI waktu itu, Ulin Niam Yusron. Tahun 2006, datanglah kakak saya, Winuranto Adhi, ke Jakarta. Dia jadi korlap, dan Ulin masih jadi orator utama di bak truk komando. Tahun 2007 -setahun lalu, saya “naik pangkat” jadi koordinator lapangan dadakan. Menggantikan Ronal yang berhalangan. Kakak saya jadi orator di truk komando. Tahun ini? Saya jadi korlap beneran. Ketua AJI Jakarta kini, Jajang Jamaluddin, sedianya jadi orator. Namun setelah lama dipangil tak nongol ke atas truk -lantaran jarak rombongan kami jauh dan terhalang kumpulan massa di depan, dia urung orasi. Setelah massa berkonsentrasi di Istana Negara pun, AJI belum dapat giliran. Dan kami keburu membubarkan diri pada pukul empat sore.

Bisa dibilang inilah jumlah massa yang paling banyak setelah 2006. Maklum, dua tahun lalu seluruh elemen buruh “dipersatukan” oleh isu besar, revisi Undang-Undang 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Semua menolak perombakan beleid tersebut.

Namun kini, di balik keramaiannya, saya justru merasa lebih sepi.

Pertama, hari ini bertepatan dengan hari libur nasional. Banyak golongan yang memandang tak boleh aksi nanti dipukul aparat. Makanya bergeser saja ke hari sebelumnya, Rabu (30/4).

Kedua, massa terpecah jadi beberapa pool. Yang ini saya rasa kurang solid. Apalagi ada yang rela dijamu presiden di Senayan. Padahal sebagian besar buruh memandang kebijakan pemerintah tidak proburuh. Saya pribadi memandang justru jor-joran propengusaha. Bagaimana tidak? Begitu cepat pemerintah menggodok seperangkat peraturan untuk memperlancar investasi. UU Penanaman Modal, beleid kedua puluh lima yang dilahirkan oleh pemerintah-parlemen tahun lalu, mengakomodasi hak guna tanah hingga 90 tahun bagi investor. Lantas disusul UU Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Sedangkan bagi buruh? Tak ada kebijakan pun yang populis.

Dan ketiga, massa AJI sendiri menyusut. Jurnalis senior Andreas Harsono masih setia turut serta. Dia bersama Sapariah, istri. Dibanding tahun lalu, jumlah kami lebih sedikit. Entah mengapa. Apakah anggota AJI sudah enggan aksi? Hanya masing-masing dari mereka yang tahu.

Namun tak mengapa. Kami selalu punya kiat untuk menyedot perhatian media. Tahun lalu kami bikin spanduk besar “Jurnalis Tolak Amplop Perjuangkan Upah Layak”. Kini, kami buat patung seorang jurnalis yang bawa papan “Jurnalis Tolak Amplop Perjuangkan Upah Layak Rp4,1 Juta”. Ini lanjutan dari kampanye dan launching upah layak jurnalis Maret lalu.

Kami start di Jalan Teluk Betung 30-32. Markasnya Asian Agri, perusahaan milik konglomerat Sukanto Tanoto yang menyeret Tempo ke meja hijau lantaran pemberitaan kemplang pajak. Lagipula perusahaan taipan itu diduga menggunduli hutan di Sumatra.

Di antara kami, jurnalis Tempo yang ikut aksi hari ini antara lain Riky, Dian Yuliawati, Hamluddin, Jajang, dan Komang Wahyu Dyatmika.

Sebagai korlap, saya menyesal tak bisa berbagi orasi dengan peserta aksi AJI. ABM kali ini rupanya -entah sejak setting awal atau improvisasi di lapangan- satu jalan dengan barisan lainnya, Front Perjuangan Rakyat (FPR). Sehingga antara ABM dan FPR harus berbagi orator di panggung komando di depan -sebuah pikup dan truk. Mungkin karena itu pula AJI kelamaan tak memperoleh jatah orasi.

Kami beruntung tak bubar lantaran hujan, seperti 2006 lalu. Padahal, mendung sudah menggantung sejak pukul dua belas siang. Titik-titik air pun sudah sempat turun. Mungkin ada pawang yang kuat mengusirnya. Bisa jadi. Soalnya ada rombongan reog yang turut serta dalam aksi kali ini.

Ah, perjalanan dari Bunderan HI ke Istana Negara, kali ini, bagi saya tak segempita tahun lalu. Semoga esok hari memang adalah milik kita. Terbebasnya massa rakyat pekerja…

2 responses to “Catatan Mayday 2008: Tak Semeriah Tahun Lalu

  1. Selamat hari buruh 1 Mei 2008…

    Waduh.. sangat disayangkan saya masih di Pontianak, dan tidak bersama-sama dengan buruh di halaman istana seperti tahun lalu..

    Btw… jangan berkecil hati bro, next year bakal lebih kenceng lagi.. who’s know kan?😀

    tetap semangat….

  2. Oke, mari kita sambut Mayday tahun-tahun mendatang. Semoga lebih marak Bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s