Juara, Emyu!

Setelah sembilan tahun menungu, Setan Merah kembali melaju ke final Liga Champions. Saya senang bukan kepalang.

Kepala saya masih merekam persis kejadian 1998-1999. Manchester United harus lepas dari himpitan Barcelona dan Bayern Munich dalam penyisihan grup. Tiap kali ketemu dua tim itu, hasil selalu seri. Untunglah MU lolos mendampingi Bayern.

Kala itu MU bermaterikan Dennis Irwin, Jaap Stam, Ronny Johnsen, Henning Berg, Neville bersaudara -Garry dan Philip, David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Roy Keane, Jesper Blomqvist, Teddy Sheringham, Ole Gunnar solksjaer, Andy Cole, Dwight Yorke, Peter Schemeichel.

Delapan besar, Inter Milan sudah menunggu. Ada rasa tersendiri pertemuan Beckham dengan Diego Simeone. Pertemuan pertama pasca Piala Dunia 1998. Simeone, tukang sandiwara itulah biang kerok kartu merah yang diterima Beckham kala itu. Untunglah, pada Liga Champions ini, Beckham tuntas menuntut balas. Dua-kosong di Old Trafflod dan satu sama di San Siro.

Semifinal, lagi-lagi ketemu Italia. Juventus. Saya sempat ketar-ketir. Rekor pertemuan kedua tim sealu berpihak pada Juventus. Tapi kali ini lain. Di Old Traffold boleh seri 1-1, lewat gol terlambat Giggs. Tapi di Turin, drama tragis buat kuda zebra. Dua-kosong sempat memimpin lewat gol Filippo Inzaghi tak cukup memuluskan jalan Si Nyonya Tua. MU bisa menyamakan skor pada babak pertama. Akhirnya, gol Yorke mengubur asa tim Italia itu. Skor akhir 2-3.

Final. Inilah pertemuan ketiga MU-Bayern. Pada penyisihan grup, mereka dua kali seri. Stadion Nuo Camp Barcelona menjadi saksi pertandingan fantastis ini. Saya rela tidur di depan teve untuk nyegat laga ini. Kala itu saya kelas dua SMA. Gol cepat Mario Basler membuat saya pasrah. Apalagi tusukan sayap Blomqvist maupun Giggs tak cukup menggigit.

Menit-menit terakhir jelang bubaran, keajaiban terjadi. Gol Sheringham menyamakan kedudukan. Lalu Solksjaer menggandakan skor pada menit terakhir. MU menang! 2-1. Tak ada yang tak mungkin. Saya bersorak alang kepalang.

Malam tadi, gol tunggal Paul Scholes membuka harapan MU untuk mengulang sukses sembilan tahun silam. Tak sabar saya menunggu laga pamungkas kompetisi Eropa itu. Yang jelas, meski Inggris tak lolos kePiala Eropa tahun ini, tim Inggris menguasai daratan biru. MU tinggal menunggu Liverpool atau Chelsea.

Namun saya agak kecewa dengan Cristiano Ronaldo. Dia tak se-spartan Carlos Teves dan Park Ji Sung yang tak kenal lelah mengejar bola lawan. Ronaldo, hanya santai berjalan-jalan di lima belas menit terakhir. Sangat malas.

Nani? Sami mawon. Paling egois. Tapi tembakan tak terarah. Tentu saja cara bermain seperti itu belum tentu cukup membawa sebuah tim berjaya.

Semoga di lagal final nanti, MU bisa memeragakan partai rancak dan eksplosif. Kita tunggu nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s