DPR Reses, Masak Sih?

Kamis, 17 April, di gedung parlemen. Dewan Perwakilan Rakyat menutup masa sidangnya pada Kamis pekan lalu, 10 April. Namun saya kebetulan ketemu dengan Soeparlan, anggota Komisi I -bidang informatika, pertahanan, luar negeri -jelang siang. “Kok liputan ke sini?”

“Ada Paripurna DPD (Dewan Perwakilan Daerah),” jawab saya.

“Oh… sepi-sepi begini…” ujar anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini. Saya sendiri heran. Reses kok ngantor sih Pak? Hehehe… Saya ngacir ke ruang pers DPD. Lumayan bisa ngetik-ngetik (blog) sebentar.

DPR boleh reses. Tapi DPD tak mengenal reses. Namun bukan itu yang ada di benak saya. Ada “fraksi” lain yang tak pernah istirahat. Siapa mereka?

Tiap kali bertandang ke gedung Senayan, saya selalu kesal kalau ketemu mereka. Tampangnya kotak kaku. Legam tersengat mentari. Pakaiannya baju biru celana hitam sepatu PDH di atas mata kaki. Merekalah pasukan Pamdal.

Mereka setia menggeledah tas saya. Untung sekarang ada scanner. Mereka selalu awas melihat gerak-gerik tiap pengunjung gedung ini. Tak punya ID card liputan DPR? Jangan harap bisa masuk gedung yang konon rumah rakyat ini. Itulah kerjaan mereka. Melonggarkan pengawalan bakal disendor atasan.

Tapi sore ini lain. Kami bisa tertawa bersama. Berkomentar bersama. Ngobrol. Meski tak perlu tahu nama masing-masing. Sore itu, setelah meninggalkan markas DPD di Nusantara V, saya menonton “Liga Pamdal”. “Pengisi waktu reses,” celetuk salah satu personel pamdal yang tak ikut turun ke lapangan hijau. Dia cukup jadi pesorak saja di tepi lapangan. Yah, di mana pun, di level kompetisi mana pun, sepak bola adalah keasyikan tersendiri -bagi penggemarnya.

Permainan mereka lucu. Meski tak serancak liga divisi utama, tetaplah seru. Meski okol di sana-sini. Wasit setia menyemprit karena kerapnya pelanggaran. Keras, kalau tak mau disebut kasar. “Dasar Pamdal,” batin saya dalam hati dengan rasa geli. Sesekali pemain kram. Cidera. Meringis. Terkulai. Dipapah kawannya.

Namun di situlah segalanya melebur. Atasan, komandan, bawahan, tiada beda. Mereka berteriak bersama. Si pencetak gol dielu-elu komandannya. Sesekali diledek. Siapa yang salah atau kehilangan bola bakal digerutuin. Pasukan wanita juga ada. Justru merekalah motor keramaian.

“Berapa tim?” saya melanjutkan percakapan yang tersendat.

“Sembilan. Ini melibatkan juga grup Kalibata, Ulujami…” ujar pria anggota pamdal itu.

“Oh, rumah dinas anggota dewan ada pamdalnya juga?” tanya saya lagi.

“Ada. Kalau di gedung sini ada enam regu. Kami juga punya liga voli. Badminton juga ada lapangannya. Tenis juga ada. Cuma lapangan basket yang gak ada,” imbuhnya.

Jelang petang, beberapa dari penonton berlarian meninggalkan lapangan. Oh, ada apel toh. Saya geli melihat mereka gelagapan menuju area apel untuk berbaris.

Sedangkan pertandingan masih berlanjut. Sebagian penonton masih enggan meninggalkan suguhan permainan. Ada tim yang diganjar penalti. Gol. Penonton tepi lapangan berhamburan ke dalam arena. Wasit membiarkan saja -pasrah, mungkin. Sorak-sorak dan loncat-loncatlah para penonton. Lucu. Tapi semarak. Saya nikmati betul suasana sore itu.

Azan magrib membahana. Pertandingan usai. Saya beranjak pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s