Andy Lau Jadi Pahlawan Sam Kok

Penaklukan demi penaklukan. Perang tanpa akhir. Konon, demi menyatukan tanah luas Cina. Persatuan yang berujung pada kedamaian dan kemakmuran rakyat. Namun sampai kapan terwujud? Inilah potret sejarah panjang negeri Tiongkok. Dari dinasti ke dinasti. Pembenaran atas chauvinisme?

Saya suntuk di kantor. Saya buru-buru menyelesaikan laporan. Dari liputan di Hotel Four Season, launching bukunya Sukardi Rinakit. Malam ini saya butuh hiburan. Menghibur diri sendiri. Yah, selalu sendiri. Tak perlu kawan. Saya tahu betul bagaimana menghibur diri. Nonton bioskop lakonnya idola saya, Andy Lau. Kali ini dia bermain dalam film terbarunya, The Three Kingdom Resurection of Dragon. Saya bergegas ke Setiabudi One.

Kisah tiga kerajaan (Sam Kok) adalah legenda masyur di tanah Tiongkok. Ketiga negara saling bertikai, saling berebut kekuasaan, dengan dalih demi persatuan. Kisah legenda ini dibumbui dengan kisah asmara yang melibatkan antar-pribadi antar-negara.

Namun film kali ini tak menonjolkan kisah itu. Film ini hendak berkisah soal lain. Soal nama-nama yang minor tersebutkan dalam sejarah. Nama-nama di balik kebesaran Zhuge Liang, si ahli siasat itu. Ini soal pengorbanan rakyat yang rela mengikuti alur berpikir penguasa, yang meladeni perang demi perang. Demi suatu mitos: kesejahteraan dalam payung persatuan.

Bukan pertama kali Andy melakoni kisah kerajaan lampau. Setelah sukses dalam sinetron Yoko, Return of Condor Heroes dan Pangeran Menjangan, Andy juga memerani beberapa film sejenis. Ada The Duel (dengan Ekin Cheng), The Battle of Wits, dan terakhir kali The Warlords (bersama Jet Li dan Takeshi Kaneshiro).

Andy kali ini berduet dengan si pesilat gendut, Sammo Hung. Hung juga banyak terlibat di balik layar sebagai sutradara laga dalam film ini. Hung juga yang memoles adegan baku hantam Kung Fu Hustle (Stephen Chow). Namun kali ini saya rada kecewa. Adegan silat dalam film ini tak seapik, tak sehalus, tak sedetil gerak-olah tubuh dalam Kung Fu Hustle. Kebanyakan adegan pertempuran disorot dekat. Hanya ekspresi wajah Andy yang meringis menekan amarah, atau darah bermuncratan lantaran sabetan pedang bersama tubuh para prajurit yang berjatuhan.

Andy menjadi jenderal Zilong. Sedangkan Sammo Hung berperan menjadi prajurit Pingan. Keduanya berasal dari Changan. Mereka membela negara Shu. Untuk memerangi Wei dan Cao. Karir Zilong begitu pesat, hingga menjabat salah satu dari lima jenderal besar (Five Tigers), bersama Guan Yu, Zhang Fei, Ma Chao, Huan Zhong. Sedangkan Pingan hanya bergerak di tempat jadi prajurit rendah. Padahal Zilong menganggap Pingan adalah kakaknya. Inilah yang membuat Pingan iri hati.

Sayangnya, dalam ekspedisi penaklukan Cao, empat jenderal tewas. Tinggallah Zilong. Pertempuran yang memakan waktu berpuluh tahun itu membawa Zilong pada masa tuanya. Hingga dia harus berhadapan dengan cucu pemimpin Cao, Cao Ying. Cao Ying adalah perempuan (diperankan Maggie Q). Sejak kecil sang kakek mengajaknya melihat pertempuran berdarah. “Menaklukkan atau aku yang ditaklukkan.” Itu prinsip yang dia telan sejak bocah.

Dalam pertempuran terakhir itu, Zilong tersudut di Gunung Phoenix. Empat panglima muda Zilong sudah tewas di medan perang. Tinggal dia seorang diri bersama Pingan. Bala bantuan belum datang. Dengan gagah berani, berkuda kencang, dia menerobos ratusan pasukan Cao. Film berhenti sampai di sini.

Pingan, yang juga sebagai narator, menjelaskan pada akhirnya tiga negeri itu bersatu. Bukan di masa mereka hidup pada Dinasti Han. Melainkan ditaklukkan oleh dinasti baru, Qin. Mengapa rakyat begitu terlunta berabad hanya demi ambisi penyatuan?

Zilong boleh jadi kalah tenar daripada Zhuge Liang. Apalagi seorang prajurit kecil Pingan. Namun, merekalah roda penggerak di balik sejarah besar kisah tiga negara itu.

Kisah Qin ini bisa kita intip dalam film Hero (Jet Li, Tonny Leung, Donny Yen, Maggie Cheung, Zhang Ziyi). Film ini hendak menggali filosofi dan kebijaksanaan tertinggi pesilat cum pelukis kaligrafi yang bernama Broken Sword (diperankan Tonny). Nameless (Jet Li) membujuk para pesilat sohor yang berambisi membunuh raja Qin yang kejam dan doyan perang. Nameless berlaku sebagai prajurit Qin, padahal dia lahir dari daerah jajahan si raja.

Caranya? Masuk ke dalam istana raja. Supaya bisa masuk, si pendekar harus menyerahkan bukti bahwa dia sudah membunuh para pesilat yang mengincar nyawa sang raja. Bersekongkollah, Nameless membujuk Sky (Donny), Broken Sword, dan kekasih Broken Sword -Flying Snow (Maggie) untuk mengalah dalam duel melawannya. Satu per satu senjata Sky, Broken Sword, dan Snow Nameless serahkan di hadapan raja.

Setiap senjata mengantarkan sepuluh langkah makin dekat pada sang raja. Dalam jarak yang dekat, Nameless bisa sejurus menikam raja. Namun Nameless sendiri mulai ragu. Dia terpengaruh oleh pemikiran Broken Sword. “Jangan bunuh raja -yang mereka nilai kejam itu.”

Sebenarnya Broken Sword dan Snow pernah berkesempatan menghabisi si raja. Namun, dalam duel yang dimenangkan oleh Broken Sword, dia urung menumpas si raja. Dia biarkan si raja hidup. Kecewalah Snow kepada kekasihnya sendiri.

Mengapa jangan membunuh raja? Rakyat butuh sosok penyatu. Perang demi perang antar negara harus segera diakhiri. Rakyat sudah lama sengsara. Untuk mengakhirinya, butuh raja yang menaklukkan daerah demi daerah. Agar negeri terikat menjadi satu. Broken Sword meyakinkan Nameless dengan melukis kaligrafi di atas pasir. Bertuliskan “Tanah Kita” (Our Land). Namun ada juga yang menerjemahkan Beneath Heaven atau Whole World.

Dijelaskan alasan itu oleh Nameless, barulah sang raja sadar. Ternyata musuhnya sendiri yang memahami dan menangkap cita-citanya. Tak kuat raja membendung air mata.

Semua pendekar rela mati demi kejayaan sang raja. Dinasti Qin mulai membangun tembok besar Cina. Makan waktu hingga beratus tahun. Tembok ini, keajaiban dunia ini, didirikan untuk menghadang serangan bangsa dari utara.

Konsep penyatuan dengan penaklukan ini sempat dikritik sebagai argumen pembenar chauvinisme. Namun beginilah jalannya sejarah. Hingga era feodalisme, terakhir oleh Dinasti Manchu -Anda bisa lihat juga dalam film The Last Emperor, harus tergilas oleh imperialisme Jepang. Lantas lagi-lagi tanah kuning ini pecah karena perang saudara: nasionalis (Kuo Mintang) dan komunis (Mao Tse Tung). Dan hingga kini, negeri ini secara politik dipimpin oleh si merah komunis.

Sejarah Cina memang panjang. Diwarnai penaklukan demi penaklukan. Sudahkah rakyatnya makmur bersatu? Geliat ekonomi yang kini terasa, apakah sudah jadi tanda kuat kemakmuran negeri naga itu sudah tiba? Seharusnya Indonesia bisa memetik pelajaran dari sejarah itu.

10 responses to “Andy Lau Jadi Pahlawan Sam Kok

  1. SEMESTINYA NEGARA SELURUH DUNIA YANG MEMETIK PELAJARAN DARI NEGERI INDONESIA INI, JIKA ANDA MEMAHAMI CULTURE, GEOGRAFI, N SEJARAH BANGSA INI…

  2. Gak perlu nulis pake capslock kayak orang marah, Nurzulus. Anda bisa saja berargumen kayak gitu tapi alangkah lebih baiknya dengan paparan tulisan pula. Oke, sejarah nusantara kita juga memang panjang. Tapi jika dibanding bangsa lain, kini kemajuan apa yang bisa kita banggakan? Indeks kualitas SDM makin rendah, pendidikan makin mahal, korupsi makin ganas, inikah yang perlu dipelajar oleh bangsa lain dari kita? Saya memang kurang memahami sejarah bangsa ini karena saja bukan sejarawan. Tapi setidaknya saya akan terus belajar untuk memahaminya. Tabik.

  3. wah keren tu ceritanya wlupun gw ga nonton film na, tapi gw baca buku sam kok. ada komiknya juga low. .

    bgus2, qta memenag harus belajar dari sejarah =)
    sejarah bangsa apapun perlu dipelajar, apalagi sejarah bangsa sendiri.hehehe

  4. sylvia,
    Film ini memang keren. Sam Kok memang panjang ceritanya. Aku lagi nunggu pengen nonton Red Cliff (Tebing Merah), yang main Tonny Leung dan Takeshi Kaneshiro.

    Punya komiknya? Bagi-bagi cerita dong…

  5. yosep humawijaya

    cerita yang bagus. aku liat heronya waktu pertama liat aku engga ngerti, tapi kedua kali, aku baru tahu ceritanya, sebuah perjalanan sejarah.dan pembelajaran kematangan jiwa.

  6. Yosep,
    Yup, sepakat. Aku lagi pengen liat Red Cliff, Tebing Merah yang diperankan oleh Tonny Leung dan Takeshi Kaneshiro.

  7. Dinasti yang menyatukan tiga negara adalah Dinasti Jin pada tahun 280 M, tidak sama dengan Dinasti Qin yang dikisahkan dalam film Hero.
    Dinasti Qin (dan Tembok Raksasa) adalah peristiwa yang sudah terjadi 500 tahun sebelumnya (kl. 200 SM). Kaisar Qin Shi Huang Ti mempersatukan 7 negara menjadi satu. Baru setelah beliau meninggal, muncullah Dinasti Han yang bertahan 400 tahun. Baru setelah itu terjadi kisah Sam Kok.

  8. tbudiman,
    Thx atas infonya.

  9. haha inni crita emank seru
    btw nonton the sun also rises gx?
    itu kn ada lgu bengawan solony s anthony wong huhu punya gx? klo punya bagi2 donk

  10. Memang betul, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari segala kisah pada umumnya dan kisah kepahlawanan sam kok pada khususnya.
    Saya menggemari kisah Sam Kok sejak kecil, mulai dari bentuk komik, novel, game, dan film. Dan memang banyak sekali pelajaran tentang kepahlawanan, persahabatan, dan filsafat kehidupan dari kisah tersebut.
    Smoga bisa juga menjadi pelajaran bagi semua yg prnah mendengar, membaca atau melihat kisahnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s