Antara Parlemen, Slank, dan Kita

Syukur, gugatan dari Senayan itu urung menjadi nyata. Kalau tidak, apa kata dunia?

Slank, duta anti-korupsi versi Komisi Pemberantasan Korupsi, sempat kesandung kerikil dari Dewan Perwakilan Rakyat. Parlemen mempermasalahkan lirik lagu grup band ini yang berjudul Gossip Jalanan. Ini lagu nyempil di album Plur edaran 2004. Entah kenapa anggota dewan kita yang tercinta baru belakangan ini mencak-mencak.

Sebagian kalangan, setidaknya DPR, menilai lirik ini terlalu eksplisit. Tak etis. Tak bermoral Tak indah. Tak beradab. Untunglah, parlemen mengurungkan niat menggugat, setelah berkonsultasi dengan pimpinan -Agung Laksono cs.

Entah mengapa, karya seni seringkali lebih menikam daripada orasi politik yang gempita di podium kencana. Tatkala opini mati dan para pengritik sudah kehilangan akal, mungkin kesenian adalah jalan keluarnya. Seni, dalam hal ini, setidaknya menurut penganut realisme macam Pramoedya, harus bisa menggugah masyarakat untuk bergerak. Seni, ternyata tak sekadar katarsisitas. Tak melulu onani. Lebih jauh dari itu, (ternyata) seni adalah kekuatan, walhasil.

Saya bukan penggemar Slank. Tak hapal semua judul apalagi liriknya. Justru saya menikmati plesetan lirik versi band edan bin konyol, Teamlo:

Pacarku aku minta pulang/ waktu hampir jam tiga belas malam/ kita gak bisa kemana-mana lagi/ karena kita akan mengaji yaya… Pacarku kita harus pulang/ waktu sudah tidak memungkinkan/ oh pacarku kita harus pulang/ jangan tunggu ayam goreng berbunyi/ oh pacarku kita harus pulang/ aku tak mau nanti disalahkan/ dicap jempol sama keluargamu/ dipukuli sama mamamu yeah/ kamu kurus tinggal tulang/ jangan merangkak sampai di rumah…

Tapi saya merasa posisi Slank harus dibela. Sudah bukan jamannya ekspresi dikekang. Jika Anda tak suka, tinggalkan. Tak usah beli albumnya. Beres.

Saya sendiri penggemar Korn. Setiap albumnya, setiap lagunya, terselip umpatan dan serapah. Ada sembilan album saya punya. Belum lagi Marrilyn Manson. Belum juga Rage Against The Machine. Pada kover album mereka tercantum Explicit Content Parental Advisory. Dan kenapa, album impor begini kok tidak diributin oleh parlemen?

Terus terang, saya makin heran sama tingkah polah wakil rakyat kita ini.

One response to “Antara Parlemen, Slank, dan Kita

  1. Sudah saatnya DPR jangan mikirin duit terus kita di Indonesia ini hidup sudah susah ,kalo lihat penghasilanmu aku iri tidak cucok dengan kerjamu, anggap saja slank yang mewakili seniman sudah kerja susah2 bikin lagu ujung2nya dibajak dan hal ini tidak mendapat tanggapan yang serius dari DPR, mbok yao kalo bikin undang2 jangan untuk melancarkan kepentingan bisnismu saja. Dan sekarang komentarku untuk DPR hanya bisa bikang GOMBAAAAAAA……………………….LLLL!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s