Film Indie Si Mama

Saya punya kawan. Romna Djazuli namanya. Mantan tim kreatif Extravaganza, acara andalan Transtv. Kini dia sibuk bergiat bersama kawan saya yang lain, Ari Priambodo alias Ari Bodong di “perusahaan” konsultan disaster management di Yogyakarta. Saya kagum pada mereka.

Liburan panjang lalu saya sempatkan pergi ke Yogyakarta. Sabtu sore saya tiba. Lantas pukul lima saya dan Murjayanti, calon istri, bertandang ke Ambasador Plaza (Amplas). Ketemuan dengan Romna, yang akrab disapa Mama.

Kami ngobrol banyak. Soal idealisme. Namun juga kami realistis. Mama bilang, “Aku juga butuh makan je,” tuturnya dengan bahasa khas Yogya yang kental. Kami satu fakultas dan satu angkatan, tahun masuk 2000. Di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Saya sarjana, dia diploma. Sering ketemu karena aktivitas di pers mahasiswa.

Dia jabarkan alasan mengapa dia keluar dari tim kreatif acara itu. Lalu dia bercerita sedang diajak Ari mengurusi bisnis baru mereka. Ari adalah mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Ari punya seorang kakak, aktivis yang hilang, Bimo Petrus. “Dia sudah punya anak satu, makanya jadi ulet kerja,” sambungnya. Masih menurut Mama, Ari bahkan berniat membadanhukumkan usahanya. Saya sarankan, untuk langkah awal, bisa pilih dirikan yayasan. Daripada muluk jadi perseroan terbatas yang butuh modal awal Rp50 juta.

Lantas kami juga mengulas pengalaman menarik dia, ketika jadi narasumber Tabloid Kontan. Rubrik Hobi. Soal panjat gunung. Maklum, Mama adalah pentolan Palafne, organisasi mahasiswa pecinta alam FE UGM. Kami tergelak lepas soal lucunya dia diwawancara. Soal dia dihardik kawannya, yang juga jadi narasumber, seorang pegiat di organisasi Highcamp. Dia beli tabloid itu, dia tunjukkan kepada saya. Saya sudah membacanya. Yang nulis Agung Ardyatmo. Mas Agung sendiri dapat kontak Mama dari saya.

Maksud pertemuan kali ini, saya hendak mengembalikan buku tentang teknik penulisan skenario. Sudah lama saya pinjam tapi belum sempat saya kembalikan. Waktu itu sih Mama masih di Jakarta. Sejak beberapa bulan lalu, sebelum Ramadan, Mama sudah balik ke Yogya.

Sebagai “barter”, dia kasih sebuah cakram kompak. Isinya film indie yang berjudul Cheng Cheng Po. Dia yang menulis skenario. Temanya bagaimana kita bisa memahami dan akrab dengan keberagaman.

Ada empat sahabat, mereka anak sekolah dasar yang punya latar belakang yang berbeda. Han keturunan Cina, ibunya penjual bakpao. Markus anak Ambon, ayahnya punya bengkel motor kecil-kecilan. Gelinya, si pemeran ayah adalah kawan saya dari Filsafat, Ignatius Kleruk Mau. Kami pernah bergiat di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Tohir, anak Yogyakarta, ibunya tukang jahit dan keluarganya penyuka burung. Sedangkan Ryana adalah anak Yogyakarta pemeluk kristiani dari keluarga berada.

Bapaknya jengah Ryana berkumpul dan bermain dengan tiga kawan laki-laki. Markus memilih tiga kawan itu karena gerah diejek teman lainnya. Kata mereka, teman yang mengolok-olok, Markus terlalu hitam. Film ini hendak menonjolkan keberagaman adalah fitrah dan seharusnya kita menyikapinya dengan arif.

Han terlilit masalah. Dia terancam tak dapat mengikuti ujian akhir jika tak mampu melunasi iuran SPP. Lantas tiga temannya, Tohir, Markus, dan Ryana bersolidaritas mengumpulkan dana demi Han. Terbetiklah ide, mereka main barongsai di depan gerobak dorong bakpao ibu Han. Sehingga, banyak orang yang tertarik lantas beli bakpao.

Film ini, kata Mama baru saja memenangkan sebuah festival. Hadiahnya, “Cuma sebuah program komputer serta seperangkat pernak-pernik oleh-oleh kecil,” ujar Mama lepas terkekeh. Kata Mama, lumayan lah. Maklum, sebuah program lunak untuk proses pembuatan film cukup mahal.

Bulan depan, film ini akan bertanding dalam sebuah festival di Singapura. Saya salut pada Mama. Meski memilih keluar dari gemerlap industri besar, dia tetap bisa mencari celah untuk eksis berkreativitas.

Satu saat saya akan menyusulnya. Ke Yogya. Untuk hidup apa adanya. Namun terasa memiliki segalanya.

3 responses to “Film Indie Si Mama

  1. Pingback: Film Pendek Mama Melaju ke FFI 2008 « My Thought, My Activism, My Life, Myself

  2. Ah, pak yacob berlebihan…

  3. Himawan Andi Kuntadi

    “Satu saat saya akan menyusulnya. Ke Yogya. Untuk hidup apa adanya. Namun terasa memiliki segalanya.”

    Mantap Bung !!ūüėÄ

    Saya udah menjalaninya kira2 tiga tahun belakangan ini, hehehe

    Semoga cepat menyusul bro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s