Di Yogyakarta ada Busway

Sabtu dan Minggu saya habiskan waktu di kota gudeg ini. Ada pemandangan baru setelah sekian lama, sejak Oktober silam, saya tak menjamah kota di mana dulu saya kuliah ini. Ada bus berwarna hijau. Ini dia, busway Yogyakarta.

Sayangnya, peminatnya masih kurang. Padahal tarifnya lebih murah daripada Transjakarta, Rp3.000 sekali naik. Mungkin masih kalah saingan dengan angkutan yang sudah mapan menguasai jalur-jalur tertentu. Apalagi, busway ini belum ada jalur khusus yang dipisahkan oleh separator. Yah, sama saja “bersaing” berebut jalan dengan kendaraan pribadi, angkutan, dan kendaraan umum lainnya. Apalagi, ingat loh, banyak pelajar dan mahasiswa yang lebih milih pakai motor sendiri.

Terobosan Pemda DIY ini perlu kita tunggu khasiatnya. Jalurnya lumayan loh. Ada yang sampai Kalasan, Bandara Adi Sucipto, hingga pelosok lainnya. Ke Malioboro? Wajib ada. Bahkan berjejer shelter sudah nampang di Jalan Mangkubumi. Tapi, apa tidak mubazir? Kan sudah ada bus jalur 4.

Apalagi, jalur busway membentang di lajur paling kiri. Maklum, belum ada jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki kayak di Jakarta. Beberapa jalur kiri (dulunya) untuk sepedaway. Ini fasilitas bagi pengontel sepeda agar leluasa tak terserempet kendaraan bermotor. Tapi saya lihat, pengendara sepeda kok tidak greget yah di kota asri ini. Padahal saya ingin kota indah ini tetap asri, nyaman, tak bising, apalagi macet oleh mobil-mobil pribadi para pendatang.

Kembali ke busway. Yah, masalahnya itu tadi. Di Yogya, masyarakat masih memilih kendaraan pribadi. Lagian, jalurnya mana? Kalau tidak ada separator; kalau armadanya masih kurang hingga menunggu berjam-jam; kalau tumbuk-tumbukan dengan jalur angkutan lainnya -apalagi beririsan dengan jalur sepedaway; nampaknya keberadaan busway perlu ditata ulang.

Bisa jadi dengan menambah jam edar. Maklum, jam operasi angkutan dan bus kota di Yogya hanya hingga sore. Tidak dua puluh empat jam kayak di Semarang atau Jakarta. Supaya masyarakat benar-benar merasakan keberadaannya, bisa dengan siasat ini. Tapi, hal itu juga perlu memperhatikan “nasib” para pengemudi taksi. Sudah rahasia umum, mengapa jam operasi bus kota sengaja dibikin hingga sore, supaya bisa bagi-bagi rezeki dengan sopir taksi.

Nah loh. Meski demikian, busway Yogya, selamat beroperasi…

2 responses to “Di Yogyakarta ada Busway

  1. Numpang lewat mas,
    Mudah-mudahan TransJogja bisa langgeng sehingga bisa mengurangi dampak kemacetan dalam jangka panjang. Jangan sampai terlambat seperti JakartašŸ™‚

    Sedikit ulasan teknis-ringan tentang transportasi masal, sila jenguk di
    http://budihartono.wordpress.com/2008/01/08/membangun-sistem-transportasi-belajar-dari-singapura/

    wassalam
    b oe d

  2. tapi saya termasuk pengguna setia Transjogja lho. Pulang dari ungaran jumat sore, sampai jombor tepat jam 7 malam. Ga ada bus. Adanya cuma ojek ama taksi, tapi boros. Jadi Transjogja jadi alternatif yang paling enak untuk mengantarku pulang sampai shelter terdekat ama rumah. Lumayanlah bung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s