Dari Bandung, Jakarta, Pati, Yogyakarta: Tepar

Minggu dan Senin lalu saya harus bertandang liputan ke kota kembang (16-17/3). Lalu Senin malam itu juga harus pulang ke Jakarta. Bikin berita begitu tiba di kontrakan. Esok harinya (18/3), dengan lemas-lemasan harus berangkat liputan Sidang Paripurna di gedung parlemen. Selasa malam itu juga nyambung liputan launching upah layak jurnalis di Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Rabu pagi -tepatnya agak siang- ke kantor. Ditegur pemimpin redaksi, “Harusnya Kang Yacob ambil libur sehari karena sudah liputan hari Minggu lalu.” Bikin satu berita saja, batin saya. Kalau menumpuk gak dikerjakan, bisa-bisa makin basi. Sore itu juga saya bersama kakak meluncur ke Terminal Rawamangun. Hendak ke Pati. Busyet, macet sampai Cikampek. Sampai rumah tercinta pukul delapan pagi, Kamis (20/3). Sabtu nanti (22/3), kami harus ke Yogyakarta. Tepar deh…

Di Bandung, para kuli tintanya cenderung lebih ramah daripada di Jakarta. Saya ketemu Faiz Kompas, Yuli TVRI, Dety Pikiran Rakyat, Rana Tempo, dan lain-lain. Langsung cepat akrab. Saya menginap semalam di Hotel Istana, Jalan Lembong. Liputan di Hotel Savoy Homann Bidakara di Jalan Asia Afrika. Cukup dekat, jalan kaki saja dari penginapan. Saya bawa laptop. Mau nulis berita, sial. Tak punya colokan stop-kontak kaki tiga. Brengseknya, si resepsionis malah coba-coba menawarkan jualan stop-kontak itu. “Teman saya punya bekas, sepuluh ribu saja,” ujarnya lewat telepon. Untungnya, niat dia tak terlaksana. Kembali, dia sarankan saya ngetik di front desk saja. Gratis. Tak perlu beli. Alasannya sih, “Waduh, teman saya ketinggalan gak bawa.”

Segera saya kontak Ketua Aliansi Jurnalis Independen Bandung, Agus Rakasiwi hari Minggu itu juga. Sayang, dia ngaku lagi liputan di luar kota. Kalaupun mampir ke Sekre AJI Bandung di Jalan Aceh, mungkin lagi sepi -katanya dalam sms.

Untung Senin harinya saya ketemu Rana Tempo. Anak AJI Bandung juga. Syukur, akhirnya dapat teman yang nyambung ngobrol. Apalagi sama-sama satu organisasi. Dia cerita, Sekretaris AJI Bandung Mulyani Hasan sudah pulang dari Aceh. Yah, salam saja deh buat temen-temen semua di sana. Belum sama sekali saya ketemu sama mereka. Sayang, jadwal liputan padat.

Senin malam itu pula saya meluncur ke Jakarta dengan X-trans. Tiba kontrakan pukul sepuluh malam. Capek. Tapi harus tulis berita. Liputan di Bandung soal seminar dan kongres Asosiasi Pengajar Hukum Pidana dan Kriminologi. Ada Muladi, Gubernur Lemhanas. Ada Prof. Romli Atmasasmita. Ada Prof. Andi Hamzah. Pokonya banyak profesor deh. Saya sendiri bingung karena background saya bukan lulusan fakultas hukum. Hehehe…

Selasa pagi, saya masih tepar. Capek bukan buatan. Tapi, tandem saya di Dewan Perwakilan Rakyat, Hermansyah, harus antar istri dulu. Sudah mual-mual. Syukur kalau sudah isi. Terpaksa saya harus kover dulu daripada lowong sama sekali. Apalagi momennya sidang paripurna. Syukur, tulisannya jadi headline, soal calon gubernur Bank Indonesia.

Selasa malam, saya di Sekre AJI Jakarta. Ada acara launching upah layak jurnalis tahun 2008. Besarnya Rp4.106.636 sebulan. Tamu istimewanya, Sujiwo Tejo. Seniman cum dalang edan. Selain itu, ada pula peluncuran komite persiapan federasi serikat pekerja media. Serikat pekerja Hukumonline, tempat saya bekerja, turut tergabung dalam komite tersebut.

Rabu sore, dari kantor saya meluncur ke Rawamangun. Di rumah kakak ipar. Lalu bareng kakak saya, Winuranto Adhi -yang juga Koordinator Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, ke terminal. Sial. Jalan macet. Naik bus Nusantara. Gak nyaman. Masuk angin menyergap. Kaki pegal. Dapat kursi paling belakang. Di bawahnya ada kru bus tidur lagi. Kaki nekuk terus selama empat jam. Sampai rumah makan di Subang telat. Pukul sebelas malam. Kalau lancar harusnya tiba pukul delapan atau sembilan. Sudah gak enak perut untuk menelan makanan.

Kamis pagi pukul delapan kami baru sampai. Kalau lancar, bisa sampai Pati pada dini hari atau telat-telatnya subuh. Mbak Ngat, pembantu rumah tangga kami, ngeroki saya. Merah-merah deh. Seharian tidur mulu. Malamnya saya bikin makalah diklat jurnalistik Universitas Negeri Jakarta, untuk Senin nanti (24/3).

Sabtu besok saya berencana bersama kakak ke Yogkakarta. Kakak mau ketemu istrinya. Ada acara kerabatnya mantenan alias nikahan. Saya sendiri? Mau ketemu calon istri, Murjayanti. Sekaligus mau mengembalikan buku kepada sahabat, Romna alias Mama.

Minggu nanti (23/3) saya pulang ke Jakarta. Untung dapat satu-satunya tiket di travel. Lainnya habis. Bus Safari Dharma Raya, kereta, pesawat, semuanya ludas. Doyan bener orang kita mudik. Pertanda ibu kota bukan rumah yang nyaman. Hanya pemampiran mengeruk rezeki. Masih lebih nikmat tinggal di kampung halaman. Apa lacur, termasuk saya, orang-orang kita harus terpaksa karena Jakarta masih menyedot 80% perputaran uang.

Senin siang nanti (24/3), saya harus ngisi diklat. Jadwal padat juga yah. Duh, tepar deh…

5 responses to “Dari Bandung, Jakarta, Pati, Yogyakarta: Tepar

  1. beneran to…. di jogja cuman dolan n pacaran. Hahaha…. Lamo tak jumpo kawan Yacob… Semoga ULJ yang diperjuangkan tercapai sesuai harapan.

  2. mulyanihasan

    wuah..sorry, ke Bandung tak sempat bertemu ya.
    Lain waktu juka ke Bandung lagi, kita ngopi-ngopi.

    Salam

    yani

  3. Oke, tapi sayang, saya gak ngopi. Tapi kita masih bisa nongkrong bareng kawan2…

  4. agus rakasiwi

    mohon maaf ya waktu itu hehehehehe

  5. Mas Agus,
    Gpp kok. Yang penting aku seneng bisa ke Bandung. Kita ketemu di kongres? Salam buat semua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s