Atlet saja Berserikat, Kenapa Kita tidak?

Apakah Anda mengharapkan karir yang mapan? Bekerja sepanjang waktu untuk sebuah entitas bisnis? Lalu mendapat uang tanda jasa dan pensiunan yang menarik atas segala pengabdian Anda?

Ada baiknya Anda bandingkan dulu deh dengan profesi atlet. Kalau cabang olah raganya kurang populer, mereka hidup dari mana selain hadiah-hadiah jadi juara dan penghargaan lainnya? Jika cabang olah raganya sudah jadi industri mapan -misalnya basket dan sepakbola- belum tentu loh mereka makmur. Status mereka, sebenarnya malah lebih parah dari buruh outsourcing. Keberlanjutan isi kantong mereka hanya mengandalkan perpanjangan dari satu kontrak ke kontrak lainnya. Pindah klub, itu biasa…

Yang membedakan tebal kantong mereka -sebagai sesama atlet- hanyalah nilai kontrak dan transfer belaka. Itu juga judi-judian. Klub yang terlanjur beli mahal, bakal merasa rugi jika ternyata kinerja si pemain di bawah ekspektasi. Bisa-bisa, nilai transfer si atlet bakal turun di musim berikutnya.

Belum lagi jika transfer itu melibatkan perantara alias agen. Agen juga seringkali minta fee tinggi. Tak heran jika pemain Manchester United Garry Neville sempat mengusulkan penghapusan sistem agensi. Supaya atlet bisa bernegosiasi langsung dengan klub.

Mereka hidup dengan bergantung pada skill dan peruntungan. Peruntungan? Betul. Bagaimana jika mereka cidera sehingga terpaksa pensiun dini? Setelah itu mau cari rezeki dari mana?

Sama seperti buruh sektor lainnya, atlet pun digaji oleh klub di mana dia bermain. Masa kontrak hampir habis, harus buru-buru nego lagi. Kalau tidak, siap-siap menebar jala relasi biar dipinang klub lainnya.

Kalau punya kemampuan tinggi akan bertengger di klub besar dengan gaji tinggi. Kalau performa rendah, yah di tim divisi-divisi bawah. Begitulah sebenarnya atlet mencari nafkah. Entah atlet terkenal, maupun atlet tak tenar.

Rezeki sampingan? Silakan “melamar” atau justru sebaliknya, “dilamar” jadi bintang iklan produk komersil. Misalnya, Maria Sharapova jadi ikon hape Sony-Ericsson. Punya daya pikat fisik? Silakan nyambi jadi model.

Pendek kata, tak ada sumber rezeki yang permanen bagi atlet. Cobala tengok nasib atlet Indonesia yang di masa jaya dielu-elukan (bukan digue-guekan? hehehe), kini ketika sudah lewat masa tenarnya, bagai tak dikenal lagi oleh masyarakat.

Yang menarik, rupanya atlet sudah sejak lama mencetuskan sebuah organisasi. Para pemain sepak bola profesional berhimpun di bawah Federation of International Footballers Professional (FIFPro).

Organisasi ini mulai dirintis sejak 1965 loh. Kini markas besar mereka berada di Belanda. Atlet bola Indonesia semacam Bambang Pamungkas maupun Firman Utina kabarnya tertarik untuk mendirikan FIFPro Indonesia.

Keberadaan organisasi ini dipandang sejajar dengan organisasi asosiasi klub. Ibaratkan FIFPro adalah serikat pekerja dan asosiasi klub adalah serikat pengusaha. FIFPro proaktif bernegosiasi dengan FIFA maupun UEFA (Badan Sepak Bola Eropa). Mereka membahas isu-isu kontrak dan transfer pemain yang melindungi serta menguntungkan bagi si atlet.

Jangan salah loh. Banyak klub yang mengunci si atlet, tak membiarkan dengan mudahnya si atlet pindah klub. Iya kalau si atlet dinyamankan dengan kontrak baru dengan iming-iming gaji tinggi. Kalau nasibnya digantung? Ingat kan, kasus transfer Bosman? Kini setiap klub sepak bola mengacu kasus tersebut. Pemain yang hampir habis masa kontraknya berhak mendekati/didekati klub lain -tanpa perlu persetujuan klub di mana si atlet masih bekerja.

Bosman bukanlah pemain tenar. Setelah kasus itulah baru dia terkenal -meski bukan karena prestasinya. Bosman pun belum bermain untuk klub raksasa. Namun, dalam hal ketenagakerjaan, semua atlet sama. Semua atlet tertolong nasibnya, dengan berkaca pada kasus Bosman.

Pemain AC Milan Kaka dan Manchester United Cristiano Ronaldo saja bergabung dalam organisasi ini. Tahun lalu, 2007, Kaka didapuk FIFPro sebagai pemain terbaik dunia. Award yang tak kalah bergengsinya dari versi majalah sepak bola masyhur maupun FIFA sendiri.

Nah, jika atlet saja berserikat, kenapa kita tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s