Kami…

Dua orang kandidat Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo dan Raden Pardede, senantiasa menggunakan kata “kami”. Kata ganti orang pertama jamak, yang justru digunakan untuk menyatakan subjek/objek tunggal.

Dua hari terakhir liputan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat sangat menguras tenaga dan pikiran saya. Secara maraton, seakan tak kenal lelah, para anggota parlemen doyan ngoceh menyita berjam-jam waktu.

Senin dan Selasa, 10-11 Maret 2008. Agenda kala itu uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur Bank Indonesia 2008-2013. Kandidatnya yah dua orang itu tadi. Agus, Direktur Utama Bank Mandiri -sebuah bank BUMN. Raden, Wakil Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

Meski dengan sederet pengalaman dan jabatan, kedua orang itu toh “keder” juga berhadapan dengan 51 anggota Komisi XI -bidang keuangan negara dan perbankan.

Menghadapi “keroyokan” sekumpulan orang, yang tentu saja majemuk, baik Agus maupun Raden berulang kali menggunakan kata “kami”. Mungkin dalam bawah sadar mereka, secara otomatis, mereka hendak mengimbangi para anggota dewan dengan menunjukkan bahwa “saya tidak sendiri”. Yah, dengan mengusung kata “kami” itu.

Mungkin untuk sekadar sopan santun. Namun bagi saya justru terkesan -maaf- penakut. Lain kata, tak berani maju sendirian. Sastrawan Putu Wijaya pernah mengulasnya dalam sebuah artikel rubrik Bahasa, di Majalah Tempo. Kata “kami” atau “kita” sedemikian rupanya memanipulasi, sehingga menjadi kabur antara entitas tunggal atau jamak.

Simak beberapa contoh kalimat yang acap mereka luncurkan kala itu:

“Kami memiliki segudang pengalaman…”

“Menurut pandangan kami…”

“Kami yakin bahwa pantas maju dalam pencalonan ini…”

“Kalaupun tak terpilih, kami sudah senang bisa berhadapan dengan anggota dewan yang terhormat di tempat yang terhormat ini…”

Kata “kami” yang diluncurkan baik oleh Agus maupun Raden sedemikian rupanya kabur bagi pemahaman saya. Apakah “kami” yang dimaksud adalah Agus dan Raden? Ataukah baik Agus maupun Raden sebenarnya melibatkan kawan-kawan pendukung masing-masing kubu? Atau sebenarnya ini hal yang sederhana; maksud mereka, “kami” adalah “saya sendiri”?

Agus maupun Raden, kayak kita-kita ini, ketika melamar pekerjaan, toh selalu menutup surat lamaran dengan satu salam: Hormat kami. Cuma kali ini posisi “lowongan kerjanya” begitu mentereng: Gubernur Bank Indonesia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s