Kenangan di Masjid itu…

Sabtu silam aku ke Utan Kayu. Ke Radio 68 H -yang memang terletak di Jl. Utan Kayu 68 H. Perhatianku justru tertuju pada sebuah masjid di dekatnya. Tiada ubah sejak tiga tahun silam, ketika pertama kali aku ke sana.

Kala itu bulan suci puasa pada 2004. Terik. Panas. Aku cari-cari gedung LIA Jl. Pramuka. Aku berangkat dari Jurangmangu, Bintaro. Dari kos adikku yang waktu itu masih studi di STAN.

Maklum, esok harinya aku ada tes lowongan kerja di Departemen Luar Negeri. Pagi-pagi lagi. Pukul 09.00. Tak mungkin langsung berangkat dari Bintaro. Selain itu, aku juga perlu orientasi medan karena belum kenal betul Jakarta. Bekalku hanya selembar peta dan beberapa pakaian buat ganti.

Kuputuskan untuk menginap di dekat lokasi tes. Tempat yang paling memungkinkan, di samping gratis, adalah masjid. Siang itu aku putuskan ke masjid itu. Banyak juga orang yang bersinggah untuk tidur siang.

Waktu makin merambat menjadi sore, asar, lantas detik-detik menjelang takjil -buka puasa. Itung-itung bisa makan gratis. Aku bilang kepada para penjaga masjid, mau izin menginap barang sehari. “Kalau sehari boleh, tapi kalau berhari-hari jangan,” ujar seorang pria tua penjaga masjid.

Malam itu aku habiskan di masjid ini. Tarawih. Lantas tidur. Aku harap sih antinya dapat makan sahur gratis. Sial. Tak ada. Aku keluar sebentar ke warung burjo -bubur kacang ijo.

Paginya aku numpang mandi. Lantas berbincang-bincang sebentar dengan penjaga masjid itu. Pak Salim namanya. Dia cerita sudah bertahun-tahun tinggal di masjid ini. Dia tak mau membebani anak-anaknya. Dulu dia pedagang sayur. Semakin renta tenaganya semakin terkuras. Letih.

Dia berkisah pernah ditikam orang mabuk karena maksa masik masjid malam-malam buta. “Di sini rawan. Banyak preman. Banyak orang mabuk,” ujarnya. Pak Salim berkisah kala itu dia dilarikan ke rumah sakit. Setengah sadar, dia ditemui oleh seorang penjenguk yang tak dia kenal. Tinggi. Berbaju hitam. Sekilas si tamu pergi. Dan tahu-tahu Pak Salim pulih.

Aku pamit, minta restu Pak Salim. Pertemuan pertama pun terakhir. Nasib. Belum lulus juga dari tes itu. Tak mengapa. Cari kerja di Jakarta memang keras.

***

Dan kini? Sabtu itu aku kembali ke sana. Latar masjid sepi lengang. Sinar mentari menimpa atapnya menjadi keemasan. Namun aku berpaling ke bangunan seratusan meter di sebelahnya.

Aku harus rapat, mempersiapkan federasi serikat pekerja media. Yah, tak keterima kerja di pos “formal”, kini aku tiga tahun sudah bergelut di dunia jurnalistik. Dan kami harus merebut kesejahteraan bersama…

3 responses to “Kenangan di Masjid itu…

  1. membaca ini, jadi inget Yacob yang kukenal dulu. So austere, simple, and unostentatious (hehe..sengaja pake bahasa inggris, biar Yacob kudu buka kamus). Btw, udah baca “oportunis sejati” di blogku? temen yang kumaksud tuh kamu low Yacob! Nyadar ga’?

  2. Upi yang bener-bener bakal jadi orang yang palupi alias teladan, aku emang bener-bener harus baca kamus neh. Hehehe… Aku dah baca artikel kamu itu. Makasih, makasih, sekali lagi makasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s