Kucing Kecil itu Akhirnya Mati

Hatiku sedih bercampur marah. Merasa tak berdaya dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sudah berapa kali kutemui kucing mati. Namun kali ini rasanya lain. Minggu sore lalu, suaranya lirih mengeong di depan rumah kontrakan. Aku elus kucing jantan malang itu. Kok tega-teganya ada orang yang buang kucing yang masih perlu susu induknya itu. Dan kalaupun ada induk kucing yang lalai, dia adalah ibu terbodoh -kucing terbodoh.

Jakarta bagiku adalah gudangnya kucing liar. Sore itu, mendung makin menggantung berat. Bayanganku, bisa jadi hujan menyergap dan menusuk dingin tulang si kecil. Atau, kalaupun tidak diserang hujan, dia bisa diserang kucing lainnya. Aku tinggalkan dia barang sejenak karena tetangga depan rumah sudah “mengambil oper” tugasku menjaganya. Anak kecil tetangga depan rupanya suka kucing. “Eong… eong,” teriak balita itu lirih dengan usaha maksimal melontarkan kata-kata, meski belum bisa sempurna.

Magrib merambat menjadi malam. Kucing itu sudah berpindah di pinggir jalan gang kecil. Kok bisa, kucing yang belum mampu meloncat itu berpindah dari buk yang tinggi ke jalan aspal? Aku pindahkan dia di teras depan rumah kontrakan. Hujan makin turun. Aku tinggalkan dia berbelanja.

Malam aku pulang. Dia melingkarkan tubuhnya pertanda kedinginan. Aku masukkan saja ke dalam rumah. Aku suapi susu dan secuil sosis yang sudah aku hancurkan lembut. Tak doyan. Dia tolak. Aku ganti susu dengan air putih. Gak mau juga. Aku ganti roti dengan sosis. Nihil hasil. Aku hangatkan dia pakai gombal dan aku tinggalkan dia di ruang depan. Aku mulai ngantuk dan tertidur di dalam kamar setelah nonton final liga Indonesia yang tanpa greget.

Esok harinya, Senin, aku kudu ke kantor. Tak mungkin aku kunci dia dan tinggalkan dia di dalam rumah. Aku taruh kembali ke atas buk biar ada orang lain yang merawat. Atau aku berharap induknya datang merawatnya.

Aku pulang kemalaman. Jejak hujan masih ada. Jalanan basah tertimpa titik-titik kecil. Kulihat seonggok warna putih gombal yang menemani dia, yang juga berwarna putih. Astaga. Pun ada si kecil, yang sudah tak bernyawa. Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa gagal menyelamatkan dia.

Selasa pagi, mbok mban tetangga depan rumah berseloroh, “Kucingnya mati, jatuh dari buk kemarin.”

Hatiku makin tersayat mendengarnya. Apakah ini salahku menempatkan dia pada posisi yang terlalu tinggi? Apakah memang lebih baik dia kutinggal terkunci di dalam rumah, sambil menungguku pulang malam-malam? Tanpa ada yang menyuapi dia? Tanpa ada yang memberi minum dia?

Aku masih merasa bersalah. Aku masih rindu eongan lirihmu…

3 responses to “Kucing Kecil itu Akhirnya Mati

  1. Bagus..bagus..
    Ceritanya menghanyutkan deh…

    Udahlah Yacob, mungkin itu yang terbaik buat si kucing, supaya dia nggak lama2 tersiksa dengan rasa lapar dan rasa sepi karena ditinggal induknya.

    U’ve done yr best

  2. Btw, besok aku seharian ke luar kantor.
    So, met ultah ya Pak!
    Sukses dengan karir jurnalistikmu…

  3. Upik,
    Aku terharu kamu masih inget tanggal lahirku. Ataw memang aku tulis di blog ini. Hehehe… Makasih atas komentar dan kunjunganmu Upik. Jangan kapok maen ke blog ini. Hehehe… Selasa pagi itu jasadnya sudah gak ada sehabis subuh. Moga-moga dia terkubur dengan layak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s